Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | DEMAGOG tiba-tiba menjadi kata yang dipilih untuk disematkan, atau dilabelkan pada seseorang yang tak disuka oleh sebab-sebab tertentu, lebih pada politis.
Pelabelan itu dengan cara sembarangan, bahkan serampangan semaunya. Suka-suka pada siapa pelabelan itu disematkan, khas mereka yang nangkring pada kekuasaan.
Menstigma negatif pada mereka yang berlawanan, lalu kata demagog diumbar semaunya. Upaya pembusukan tanpa bukti dan argumen memadai.
Demagog berasal dari Yunani; demos (rakyat) dan agogos (pemimpin). Tapi pemimpin dalam makna negatif, pemimpin menyesatkan. Demagog yang disematkan, itu mestinya bisa dibuktikan. Tidak sekadar umpatan tanpa dasar mampu dipertanggung jawabkan.
Adalah Jendral (purnawiran) A.M Hendropriyono yang memakai kata itu. Ditujukan pada Habib Rizieq Shihab (HRS). Itu ungkapan rasa senangnya, karena Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan. Lalu kata demagog disematkan pada pemimpinnya.
Parameter apa yang digunakan, sehingga kata demagog mesti disematkan pada HRS? Pembuktian perlu diberikan, jika tidak ingin lalu dianggap sebagai penyebar hoaks.
Saat menstigma seseorang dengan demagog, ada hal nyata yang bisa ditampakkan. Tidak sekadar jargon dari mereka yang sedang berkuasa, atau aji mumpung saat dekat dengan kekuasaan.
Jika ditanya pada hal apa demagog disematkan pada HRS, sebagai pemimpin yang menyesatkan, pastilah argumen akan disampaikan, meski pastilah sekadarnya. Bisa jadi tidak memuaskan.
Maka yang tampak itu upaya pembusukan, khas mereka yang mau tunjukkan, bahwa di sini kumpulan orang baik, dan di sana kumpulan orang jahat.
Semua mestilah diuji kebenarannya. Tidak serta merta celometan siapapun, meski mereka yang berpangkat-berkuasa sekalipun, akan jadi jaminan sebuah kebenaran.
Demagog yang disematkan asal-asalan, itu tidaklah patut jadi persoalan. Bahkan tidak patut mampir dipikiran. Biarkan itu menguap dan hilang ditelan waktu.
Baik dan buruk tentu pada saatnya akan terungkap, dan tampak benderang. Bisa jadi akan meminta pertanggungjawaban atas penyematan sebagai “pemimpin yang menyesatkan”.
Semua akan terungkap oleh sebab-sebab tertentu. Bisa karena masih adanya setitik nilai kejujujuran lalu mengungkapkannya, atau harus menunggu rezim berganti. Entah kapan itu waktunya.
Tapi lambat laun waktu itu akan tiba. Penyematan demagog asal-asalan dan serampangan, itu pastilah akan terkoreksi dengan sendirinya. Sikap jumawah akan sirna seperti debu disapu angin…. Gusti Allah ora sare.*
Kolumnis, tinggal di Surabaya