Oleh: Abu Fikri
BARRACk OBAMA akhirnya menunda keputusan voting konggres Amerika Serikat (AS) tanggal 9 September, apakah Obama diijinkan meluncurkan agresi militernya ke Suriah atau tidak. Dijadwalkan, voting akan kembali diselenggarakan pada tanggal 11 September. Di mana Obama harus mempertangungjawabkan keputusan invasi militernya ke Suriah di depan 100 senator dan 300 juta rakyat Amerika, di tengah penolakan Uni Eropa dengan alas an belum terbukti penggunaan senjata kimia.
Selain Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Asthon, Presiden Prancis, Francois Hollande menunggu laporan peneliti PBB atas serangan 21 Agustus lalu di mana AS mengatakan 1.429 orang tewas dalam serangan 21 Agustus lalu di Ghouta. Sementara itu, pihak rezim mengkonfirmasikan hanya 355 korban meninggal dan ribuan lainnya terluka.
Penundaan rencana invasi militer AS ke Suriah menunjukkan bagaimana strategi AS dan sekutu-sekutunya untuk memperoleh dukungan legitimasi opini internasional yang kuat.
Terlepas dari menunggu bukti-bukti penggunaan senjata kimia oleh rezim Biadab Bashar Asaad, bisa dipastikan invasi militer oleh AS itu akan dilakukan. Sebagaimana kasus Iraq dan Afghanistan.
Invasi militer AS jelas akan dilakukan untuk kepentingan strategi politik ekonomi dan militer dan mengamankan dominasinya bersama Israel di kawasan itu.
Bagi AS, di bawah komando Obama bahwa invasi militer AS ke Suriah harus didukung oleh opini internasional. Paling tidak sudah ada proses pembahasan di PBB yang dianggap sebagai representasi komunitas internasional meski masih kontroversi. Dukungan opini internasional meski kontroversi sudah cukup menjadi legitimasi AS menginvasi militer Suriah.
Peta Jihad di Suriah
Apa yang mendorong invasi militer AS ke Suriah tidak bisa dipisahkan dengan bagaimana peta jihad di Suriah saat ini. Sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bilal Al Homsi, dari kota Homs, Suriah pada tanggal 31 Agustus 2013, sebuah kota di mana para mujahidin bertahan dan memperoleh kemenangan di tengah kondisi kepungan militer rezim Asaad selama 1 tahun 2 bulan.
Sesungguhnya yang terjadi di Suriah menunjukkan betapa dekatnya kemenangan para mujahidin di bawah bendera Ar Raayaa untuk meruntuhkan rezim Bashar Asaad.
Ada beberapa indikator yang menunjukkan dekatnya kemenangan medan jihad Suriah atas pertolongan Allah Azza Wa Jalla antara lain :
Pertama, para mujahidin dikabarkan berhasil menguasai daerah akses jalur utama suplai militer rezim Bashar Asaad yang menjangkau kota Aleppo. Yakni dengan dikuasainya daerah Kanasir. Selain Kanasir yang telah berhasil dikuasai oleh para mujahidin yang dimuliakan oleh Allah Azza Wa Jalla, juga dikuasainya daerah Areeha.
Dengan berhasil dikuasainya Kanasir dan Areeha, artinya para mujahidin telah berhasil memotong dan menghentikan suplai militer di daerah utara.
Kedua, di Damaskus, di daerah timur Damaskus dan daerah penghubung daerah Damaskus dan dari jalan raya penghubung kota Homs dan Shamm yakni kemungkinan terputusnya jalur-jalur suplai militer dari ibukota ke utara.
Apa arti kondisi tersebut di atas bahwa rezim ini terkepung secara ketat di utara. Telah terkepung secara total di Aleppo. Termasuk di Idlib dan daerah-daerah utara. Dan jalur-jalur militer mereka telah terputus. Artinya para mujahidin sedang bergerak ke kota Damaskus dengan memiliki kontrol penuh terhadap jalan-jalan raya internasional. Dan peran kontrol atas jalan-jalan raya internasional di Damaskus dan Homs. Berarti rezim ini tidak memiliki akses ke jalur-jalur suplai militer mereka. Ke daerah utara, Homs, serta yang menuju Deir Az Zour.
Ketiga, militer rezim Asaad tengah kolaps di utara. Bersamaan itu kekalahan pasukan dari kalangan Shabiha. Hancurnya tank-tank rezim, pesawat-pesawat dan pendukungnya.
Dan berjatuhannya pasukan tempurnya. Di mana rezim ini bergantung pada pasukan Shabiha dan Hizbullah -nya (Libanon red). Tidak memenangkan satupun pertempuran sejak Ramadlan hingga sekarang. Para mujahidin dikabarkan telah berhasil meletakkan kendali mereka dan di daerah-daerah Suriah khususnya dan daerah utara Suriah.
Keempat, dengan kondisi tersebut di atas maka jelas bahwa rezim Bashar Asaad berada di ambang keruntuhannya dan semakin dekatnya para mujahidin untuk mengambil alih pemerintahan di bawah panji Ar Raaya.
Di tengah konstelasi medan jihad sebagaimana tersebut di atas, AS menggalang dukungan bersama komunitas internasional dengan invasi militernya melakukan berbagai manuver-manuver.
AS dan Barat rupanya mencari celah agar pergantian rezim tetap dalam kendalinya dan pengaruh ketergantungannya.
Seperti biasa, AS bersama komunitas internasional juga akan menggunakan alasan yang dibuat-buat sebagaimana alasan yang sama saat menginvasi Iraq dan Afghanistan. Alasan dugaan penggunaan senjata kimia dan garis merah adalah alasan yang dipropagandakan.
Sesungguhnya para mujahidin yang senantiasa mengikatkan tali “La ilaha Illa Allah” inilah senjata yang paling ditakuti oleh komunitas internasional, khususnya AS dan Barat. Dan yang ditakuti mereka adalah bagaimana para mujahidin bersama rakyat Suriah masih bisa hidup untuk mempertahankan tanah-tanah mereka. Serta negeri mereka sejak 1 tahun 2 bulan yang lalu di bawah kepungan. Inilah sebenarnya arti garis merah yang ditakuti Israel. Yang ditakuti oleh komunitas internasional.
Kaum Muslimin di bumi Syam janganlah terperdaya.Bahwa sesungguhnya intervensi militer yang dilakukan oleh Barat ini ditujukan kepada para mujahidin bukan menyerang rezim biadab sebagaimana yang dinyatakan oleh Menteri Pertahanan AS. Mereka sendiri menyatakan, “kami tidak menginginkan pergantian pemerintahan.” Artinya apa yang dimaksud dengan tetapnya pemerintahan. Sebagaimana yang terjadi di Mesir, kudeta militer, mereka menginginkan tentara yang loyal pada Amerika. Ketika mereka menginginkan pergantian rezim maka digantilah rezim itu. Ini pulalah yang diinginkan oleh komunitas internasional.
Oleh karenanya kaum muslimin harus menolak intervensi militer. Dan menolak segala bentuk intervensi militer asing. Karena Syam adalah tanah sah milik kaum muslimin. Ini adalah amanah kita semua. Semua orang merdeka dan yang terhormat dengan meninggikan kalimat Allah “Laa Ilaha Illa Allah” dan demi menolong umat Islam ini.
Dengan melihat kondisi yang terjadi di Suriah di mana Suriah menjadi medan jihad global yang memiliki nilai strategis munculnya perubahan global dunia menuju tegaknya daulah khilafah Islamiyah sebagaimana yang banyak didengung-dengungkan oleh para mujahidin bersama masyarakat Suriah.
Paling tidak ada beberapa langkah yang diperlukan untuk lebih memberikan dukungan riil kepada kemenangan Islam di Suriah.
Antara lain; Kedua, menyerukan jihad bagi yang mampu ke Suriah. Ketiga, melakukan aksi massa menolak segala bentuk intervensi asing di Suriah melalui invasi militer.
Mari kita renungkan hadits Rasullullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam: “Saat ini akan tiba masa berperang, akan sentiasa ada segolongan dari umatku yang menampakkan (kebenaran) di hadapan manusia, Allah mengangkat hati-hati suatu kaum, mereka akan memeranginya dan Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kepada mereka (kemenangan), dan mereka tetap dalam keadaan demikian, ketahuilah bahwa pusat negeri kaum mukminin itu berada di Syam, dan ikatan tali itu tertambat di punuk kebaikan hingga datangnya hari kiamat.” (HR Ahmad, An-Nasa`ie & Ibnu Hibban). Wallahu a’lam bis shawab.*
Penulis adalah aktivis Gerakan Revivalis Indonesia