Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Ulama Jangan Jadi Alat Penguasa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Agustus 2018 12:34 12:34 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Agustus 2018 12:34
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

 

ULAMA di negeri ini, dari masa ke masa, kebanyakan lebih sering dijadikan alat oleh penguasa untuk mewujudkan ambisinya. Kala butuh, ulama dirangkul; ketika hajat sudah terpenuhi, mereka “didengkul”. Ini tak terkecuali, sejak penjajah bercokol, hingga era digital. Ulama menjadi kawan ketika diperlukan dan menjadi lawan saat ambisi telah terealisasikan.

Aji Dedi Mulawarman dalam buku “Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokro Aminoto” (2015: 102, 103), menyebutkan contoh konkret. Di zaman penjajahan Belanda, ada ulama yang diperalat penguasa. Sosok itu bernama Usman Husaini, seorang penasihat honorer alias bayaran Belanda untuk urusan masyarakat Arab.

Tokoh keturunan Arab ini sebenarnya adalah mufti Betawi. Jabatan yang begitu mentereng ini ternyata digunakan oleh Belanda untuk memenuhi ambisi mereka. Meski sebagai mufti (pemberi fatwa), namun pernyataan-pernyataannya kerap merugikan kegiatan pergerakan Islam yang kala itu adalah Sarekat Islam.

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Dalam tulisan yang berjudil “Minhaj Al-Istiqamah fi Al-Din bi Al-Salamah” misalnya, mengatakan bahwa Islam bukanlah gerakan perlawanan tapi kedamaian. Sehingga, tidak selayaknya umat Islam melakukan gerakan perlawanan seperti Sarekat Islam. Pendapatnya ini tentu sangat menguntungkan Belanda yang sedang menggunakan strategi “Devide et Impera” untuk menghancurkan Sarekat Islam dari dalam.

Baca: Ulama, Politik dan Nahi Munkar

Gerakan Usman Husaini ini ternyata tak hanya cukup pada rana interpretasi saja, dia juga menyebarkan pamflet di seluruh lapisan masyarakat yang menyudutkan SI (Sarekat Islam). SI dan Pak Tjokro dituduh tidak islami sama sekali dalam menjalankan aktivitasnya. Sehubungan dengan hal ini, lebih lengkapnya, bisa dibaca dalam buku karya Sjafrizal Rambe yang berjudul “Sarekat Islam: Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942”, halaman: 70, 71.

Dalam buku “Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sumatra” (1977: 22) disebutkan bahwa sebagaimana raja-raja, sebagian ulama ada yang dijadikan alat kolonial untuk mengamankan dan menjaga stabilitas kekuasaan kolonial di bumi putra. Cara ini memang begitu efektif untuk melanggengkan kekuasaan.

Sementara ulama-ulama yang hanif dan berjuang teguh untuk mewujudkan kemerdekaan, pasti akan diberangus oleh kolonial, utamanya yang berjuang di ranah politik. Salah satu nasihat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda adalah sebagai berikut, “Yang harus ditakuti pemerintah (maksudnya: Belanda) adalah bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik.” Islam jenis ini dipimpin oleh ulama yang lurus. Merekalah yang menjadi motor penggerak perjuangan. Karenanya, ulama jenis ini harus dihabisi. Sedangkan yang bisa dijadikan alat, harus tetap dipelihara.

Itulah mengapa, kata-kata masyhur yang dinisbatkan orang kepada Buya Mohammad Natsir ini penting untuk dicermati, beliau pernah berucap, “Islam beribadah, akan dibiarkan, Islam berekonomi, akan diawasi, Islam berpolitik, akan dicabut seakar-akarnya.” Dan ini tidak lepas dari peran ulama pejuang yang tak mau dijadikan alat oleh penguasa.

Pada masa Jepang pun, ulama ada yang dijadikan alat penguasa untuk memuluskan ambisinya. Di depan peserta konferensi dakwah, KH. Wahid Hasyim (1913-1953) di antaranya menyatakan bahwa Pemerintah Hindia Belanda dan Jepang tahu betul harga kedudukan ulama. Karena itu, keduanya menjadikan ulama sebagai alat untuk mempertahankan serta memperkokoh kedudukan mereka sebagi penguasa. Bahkan, Jepang memasukkan ulama sebaga alat strategis untuk mencapai kemanangan akhir dalam perang Asia Timur Raya saat melawan sekutu (Choirotun, 2008: 99).

Disepakatinya Piagam Jakarta oleh ulama dan bapak bangsa masih belum lekang dari ingatan umat. Di dalam pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa negara Indonesia berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun, sehari kemudian (18 Agustus 1945), kata-kata yang merupakan hasil kesepakatan tersebut dihapus dan diganti menjadi “yang maha esa”.

Kasman Singodimejo yang membujuk Ki Bagus Hadikusumo untuk menghapus tujuh kata akibat ucapan Soekarno pada akhirnya merasa bersalah terhadap penghapusan tujuh kata itu. Perhatikan janji manis Soekarno kepada Kasman, “Bahwa ini adalah UUD sementara, UUD darurat, Undang-Undang Kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk . Apa yang tuan-tuan dari golongan Islam inginkan silakan perjungkan di situ.” Ternyata, enam bulan kemudian janji itu tak ditepati.

Kepada Daud Beureueh, tokoh pejuang dan ulama Aceh, Ir. Soekarno juga pernah menjanjikan, “Wallah, billah, daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakyat aceh benar-benar bisa melaksanakan syariat Islam. Apakah kakak masih ragu?” Kata-kata yang disampakain Soekarno sambil terisak ini nyatanya hanya janji yang tak ditepati. Padahal, Beureueh sudah mengerahkan rakyat Aceh untuk berjuang membantu Soekarno. Wajah jika kemudian ia melakukan pemberontakan.

Baca: Krisis Politik karena Krisis Ulama

Demikian selalu polanya tidak berubah. Ulama seringkali dijadikan alat untuk mewujudkan ambisi. Pada era setelah Soekarno misalnya, dari Orde Baru hingga sekarang ulama sering kali tetap dijadikan sebagai alat penguasa. Siapa yang menyangka, Soeharto dengan pembawaan kalem yang dulunya terlihat sebagai antitesa bagi Orde Lama dan dekat dengan ulama, justru dalam perjalanannya memusuhi ulama. Baru di akhir-akhir pemerintahannya, mulai mendekati ulama, sampai ia jatuh dari kursi kekuasaannya.

Pada era selanjutnya, cara-cara ini tak kunjung usai. Ulama dan umat seringkali dijadikan pendorong mobil mogok. Mereka dijadikan alat untuk memenangkan kampanye politisi. Saat pemilu tiba, berbagai partai –bahkan nasionalis sekalipun—berlomba mendekati ulama untuk mendulang suara. Namun, setelah menjadi penguasa atau mendapat jabatan yang diidamkan, seolah-olah lupa terhadap ulama. Ibarat peribahasa: habis manis, sepah dibuang. Janji pun hanya sekadar janji.

Dari sejarah, seyogianya para ulama dan umat bisa mengambil ibrah. Sungguh ironis, jika pola yang digunakan penguasa atau orang yang hendak mencari kekuasaan ini terus berulang dengan menggunakan ulama dan suara umat. Ulama adalah pewaris para nabi. Ia seharusnya menjadi suluh dan penggerak umat untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam. Bukan sekadar menjadi alat penguasa, bukan sekadar menjadi pendorong mobil mogok yang akhirnya ditinggal pergi.*

Penulis alumni Universitad Al Azhar, Kairo dan Pendidikan Kader Ulama (PKU), PP Darussalam – Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ArabBelandabetawiHamkakekuasaanMohammad NatsirMuftipenguasaSnouck HurgronjeTjokro Aminotoulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Inisiatif Mengurangi Sampah Plastik ala Prancis
Tulisan selanjutnya Pria Pelembar Bom Molotov Konsulat Turki di Belanda Ditangkap

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?