Oleh : Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di akhir zaman seperti sekarang ini ada banyak tantangan dan ujian yang harus kita hadapi. Tak terkecuali tantangan berupa pemikiran kelompok liberal yang mengkampanyekan keragu-raguan kepada umat Islam tentang kebenaran agama Islam.
Di tiap masa selalu ada suatu kelompok yang mencoba membuat gebrakan dan aksi dengan melancarkan serangan-serangan kepada hal-hal yang sudah final dalam keyakinan umat, agar kemudian umat menjadi ambigu, bingung, dan pada ujungnya menyatakan bahwa semua agama benar, semuanya selamat selama memegang persatuan.
Mari kita telusuri bentuk-bentuk pemikiran mereka yang menyimpang.
Pertama, mereka berpandangan bahwa Islam belum sempurna dan tidak pernah sempurna. Pandangan ini sangat menyalahi firman Allah SWT :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kusempurnakan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS: Al-Maaidah : 3).
Sangat jelas bahwa Allah-lah yang menyempurnakan agama kita (Islam), menyempurnakan nikmat-Nya, dan meridhai Islam sebagai agama.
Ayat di atas sangat dikagumi oleh seorang Yahudi yang datang menemui Umar bin Khattab, “Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat di dalam kitab kalian yang kalian baca, andai ayat itu turun kepada kami kaum Yahudiz niscaya akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya.”
Umar bertanya, “Ayat yang manakah itu?” Ia menjawab (dengan menyebut surat Al-Maaidah ayat 3). Umar berkata, “Sungguh aku mengetahui hari saat ayat ini turun dan tempat dimana ia diturunkan, ayat itu turun pada Rasulullah ﷺ pada Rasulullah ﷺ di Arafah pada hari Jum’at.”
Orang Yahudi saja senang dengan ayat ini yang berisi jaminan dari Allah tentang berbagai kesempurnaan, khususnya kesempurnaan Islam sebagai agama yang diridhai-Nya. Sangat sukar dinalar oleh akal sehat ada orang yang beragama Islam yang justru menghujat dan menggugat kesempurnaan Islam.
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah
Kedua, bahwa kalimat tauhid adalah kalimat persatuan bukan kalimat Laa ilaaha illallaah dan bahwa kalimat Laa iilaah illallaah jadi kunci masuk Surga adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Ada banyak sekali keterangan yang berisi anjuran membaca kalimat tauhid Laa ilaaha illallaah.
Dalam Syarah Ratib al-Haddad terdapat salah satu penjelasan tentang keutamaan membacanya. Keterangan ini menukil dari Al-Qadhi Iyadh yang membeberkan hadits dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasul ﷺ bersabda,
مكتوب على باب الجنة : إنني أنا الله لا إله إلا أنا، محمد رسول الله، لا أعذب من قالها
“Pada pintu surga tertulis, ‘Sungguh Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku dan Muhammad adalah utusan Allah. Aku tidak menimpakan azab kepada siapa saja yang mengucapkannya.”
Keutamaan lain mengucapkan kalimat tauhid Laa ilaaha illallaah adalah kepastian masuk surga bagi siapa saja yang akhir hayatnya mengucapkannya. Rasulullah ﷺ bersabda :
ليس على أهل لا إله إلا الله وحشة في قبورهم ولا يوم نشورهم
“Tidak ada ketakutan di dalam kubur dan di hari kebangkitan sesudah mati bagi orang yang biasa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah.’
Hadirin yang Berbahagia
Ketiga, bahwa setelah wafat Nabi ﷺ ada konflik berdarah berebut kekuasaan antara Abu Bakar RA dan Ali RA hingga terjadi pertumpahan darah sampai saat ini. Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith dalam bukunya Al-Ajwibah al-Ghaliyah fi ‘Aqidah al-Firqah an-Naajiyah telah memberikan arahan tentang sikap kita dalam memandang perselisihan yang mungkin terjadi di kalangan para sahabat.
Kata beliau dalam bukunya, “Wajib atas kita untuk menahan diri dari apa yang terjadi di antara mereka (para sahabat) dan berhati-hati dalam menerima riwayat-riwayat para sejarawan yang pandir yang mencela salah seorang dari sahabat. Hendaknya kita mencari riwayat yang terbaik dan sumber yang paling benar tentang para sahabat agar kita bisa menyebutkan aneka kebaikan dari perjalanan hidup mereka serta diam dari apa yang terjadi di belakang itu.”
Demikianlah bunyi pernyataan Habib Zain dalam menyikapi perbedaan pandangan dan pendapat para sahabat. Kita dianjurkan tetap menaruh sikap hormat dan tidak mencela salah seorang dari mereka. Sebab Allah SWT sendiri telah memuji mereka di dalam Al-Qur’an :
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.” (QS: Al-Fath : 29).
Rasulullah ﷺ bersabda :
لا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya sekalipun dari sedekah salah seorang dari mereka.” (HR: Nasa’i)
Jama’ah Salat Jum’at Hafidzakumullah
Keempat, bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak membawa agama baru tapi membawa sekte baru dari agama Nashrani. Ucapan ini merupakan dusta mengatasnamakan Nabi. Apa benar beliau diutus oleh Allah SWT bukan membawa agama Islam tapi justru membawa sekte baru kelanjutan dari agama Nasrani? Perhatikan firman Allah SWT :
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (QS. Ash-Shaff : 09).
Mayoritas ulama ahli tafsir menyebut ‘petunjuk’ sebagai Al-Qur’an dan ‘agama yang benar’ adalah Islam. Tidak ada yang mengatakan bahwa Rasul diutus sebagai pembawa sekte Nashrani. Beliau diutus Allah untuk me-nasakh (menghapus) seluruh syariat (nabi-nabi sebelumnya) dengan syariat (yang dibawa) beliau, sampai pada sebuah kesempatan beliau bersabda :
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat, yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, Yahudi atau Nashrani, yang mendengar tentang diriku lantas mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali pasti ia termasuk penduduk Neraka.” (HR. Muslim).
Pemikiran menyimpang ala kelompok liberal tampaknya masih akan terus mereka produksi dengan cover moderasi beragama. Mari kita perkaya diri kita dengan ilmu yang bersumber dari sumber yang bersih dan jernih agar akal pikiran kita terjaga dari penyimpangan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ :
فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ وَمَا بَطَنْ، وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.
وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ وَالجُنُونِ والجُذَامِ وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى والتُّقَى والعَفَافَ والغِنَى، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ