Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
MimbarTsaqafah

Al-Farabi, Pemikiran dan Karyanya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Desember 2022 13:42 1:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 November 2022 13:00
Bagikan
Bagikan

Al-Farabi membenamkan seluruh yang beliau miliki dalam lautan ilmu sehingga beliau tidak dekat dengan para penguasa Bani Abbasiyah

Oleh: Muhammad Fatih Arroichan

Hidayatullah.com | JIKA kita membahas mengenai sejarah kemajuan dan perkembangan peradaban Islam, tentunya tidak akan lepas dengan nama-nama besar para tokoh agama, ilmuwan, dan budayawan pada masa tersebut.

Salah satu sejarah peradaban Islam yang senantiasa menarik untuk diulas adalah sejarah peradaban Islam Dinasti Abbasiyah. Pada masa ini lahir banyak tokoh masyhur di berbagai bidang ilmu, salah satunya Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Al-Uzalagh yang dikenal dengan nama Al-Farabi.

Memiliki nama asli Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan ibn Uzalagh Al Farabi. Al-Farabi lahir di sebuah kota bernama Wasij distrik Farab pada tahun 259 H/872 M, tepat setelah satu tahun wafatnya Al-Kindi (filosof pertama Islam).

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

Nama panggilan Al-Farabi diambil dari nama daerah atau distrik kelahirannya. Di benua Eropa, beliau lebih dikenal sebagai seorang filosof Islam berkebangsaan Turki dengan nama Alpharabius atau Avennasr.

Sejumlah riwayat sejarah  mengatakan Al-Farabi memiliki seorang ayah berkebangsaan Iran yang menjadi opsir tentara Turki dan akhirnya menikah dengan ibunya yang memiliki kebangsaan Turki. Konon, keluarga Al-Farabi mengabdikan hidupnya kepada para penguasa Dinasti Sam’aniyyah yang berhasil menaklukkan sekaligus mengislamkan distrik Farab. Peristiwa ini disinyalir mendasari masuknya keluarga Al-Farabi ke dalam agama Islam.

Sedari kecil Al-Farabi telah memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa, beliau dikenal sebagai anak yang gemar belajar dan memiliki kecakapan diatas anak pada umumnya terutama dalam bidang bahasa. Beberapa bahasa yang beliau kuasai secara aktif adalah bahasa Arab, Iran, Kurdistan, dan Turki.

Bahkan ada yang mengatakan Al-Farabi memiliki kemampuan bicara dalam tujuh puluh macam bahasa yang berbeda namun yang beliau kuasai secara aktif hanya empat bahasa di atas.

Di masa muda Al-Farabi mulai mendalami ilmu bahasa dan sastra Arab dengan berguru kepada Abu Bakar As-Saraj di Baghdad serta mempelajari logika serta ilmu filsafat kepada seorang Kristen Nestorian bernama Abu Bisyr Mattius ibn Yunus dan Yuhana ibn Hailam yang telah banyak menerjemahkan filsafat Yunani.

Al-Farabi juga pernah melakukan safar ke Harran untuk menuntut ilmu filsafat, namun tidak begitu lama beliau kembali lagi ke Baghdad untuk lebih mendalami ilmu filsafat. Selama Al-Farabi tinggal di kota Baghdad dalam jangka waktu 20 tahun, beliau mulai membuat karya tulis berupa ulasan-ulasan terhadap beberapa buku filsafat Yunani, politik, agama, hingga musik sekalipun seperti kitabnya Al Musiqi Al Kabir yang menjelaskan mengenai alat-alat yang dapat mengeluarkan suara indah. Selain itu Al-Farabi juga memiliki kesibukan sebagai seorang pengajar yang menghasilkan murid-murid cerdas nan unggul, di antara murid-muridnya yang masyhur yaitu Yahya ibn ‘Adi (seorang filsuf Kristen).

Di usia Al-Farabi yang menginjak 75 tahun, tepatnya di tahun 330 H beliau pindah dari Baghdad ke kota Damaskus. Di Damaskus beliau berkenalan dengan seorang Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo yang bernama Saif Ad-Daulah Al-Hamdani. Al-Farabi diberi kedudukan oleh sultan sebagai ulama istana dengan tunjangan yang begitu besar.

Namun dengan sikap zuhudnya, Al-Farabi hanya mengambil empat dirham dari tunjangan tersebut untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Sisa dari tunjangannya yang masih sangat banyak beliau sedekahkan kepada fakir miskin di kota Aleppo dan Damaskus.

Inilah salah satu gambaran dari sifat dermawan serta zuhudnya beliau dengan lebih memilih hidup sederhana apa adanya serta tidak terpengaruh dengan kemewahan duniawi yang sebenarnya bisa beliau nikmati.

Salah satu hikmah dari pindah dan ditempatkannya Al-Farabi di kota Damaskus ialah beliau berjumpa dengan para sastrawan, penyair, ahli bahasa, ahli fiqih, serta cendekiawan yang sama-sama berjuang memperluas perkembangan ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk mengokohkan peradaban Islam saat itu.

Ditambah dengan para Khalifah Bani Abbasiyah saat itu yang benar-benar menghargai ilmu pengetahuan, lengkaplah sudah para cendekiawan dan ilmuwan muslim ini dapat mengembangkan dengan maksimal potensi kecerdasan yang mereka miliki.

Al-Farabi adalah seorang cendekiawan muslim yang memiliki pengetahuan sangat luas. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dibuktikan dengan mendalami berbagai macam ilmu pengetahuan serta mengarang buku-buku ilmu tersebut.

Ia juga menjadi tokoh terkemuka yang menjadi sarjana dan memproklamirkan dirinya mencari kebenaran lewat ilmu filsafat yang beliau kuasai. Kecintaan beliau terhadap ilmu pengetahuan berhasil mengalahkan godaan gemerlap dan kemegahan kehidupan istana.

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa sepanjang hidupnya Al-Farabi membenamkan seluruh yang beliau miliki dalam lautan ilmu sehingga beliau tidak dekat dengan para penguasa Bani Abbasiyah saat itu.

Al-Farabi menghabiskan sisa hidupnya di kota Syiria hingga beliau wafat pada tahun 339 H/950 M di usia 80 tahun. Sebelum akhir hayat, Ibn Usaibi’ah mengatakan Al-Farabi sempat mengunjungi Mesir.

Perkataan Ibn Usaibi’ah ini sangat mungkin terjadi karena Mesir dan Suriah memiliki hubungan yang erat dalam rentetan sejarah serta kehidupan budaya Mesir yang memiliki pesona elok.

Al-Farabi kemudian dimakamkan di perkuburan luar gerbang kecil kota Syiria bagian selatan. Pemakaman beliau dipimpin langsung oleh Saif Ad Daulah atau pemimpin daerah yang diikuti oleh anggota istananya.

Karya-karya Al-Farabi

Al-Farabi adalah salah seorang filsuf muslim yang produktif menghasilkan banyak karya tulis di bidang ilmu filsafat berupa buku maupun ulasan essai pendek yang dipengaruhi oleh falsafah Aristoteles dan beberapa ide Plato. Beberapa karya Al-Farabi yang menggambarkan tentang kematangannya menguasai ilmu filsafat adalah Aghrad ma Ba’da al Thabi’ah dan Al-Jam’u Baina Ra’yai al Hakimain yang mempertemukan serta mengulas pemikiran filsafat Plato serta Aristoteles.

Beberapa karya fenomenal Al-Farabi yang lain adalah kitab Risalah al Itsbat al Mufaraqat, kitab al Siyasat al Madinah al Fadilah, al Musiqa al Kabir, Risalah Tahsil as Sa’adah, ‘Uyun al Masail, al Madinah al Fadilah, al Ihsha al Ulum yang konon adalah karya terakhir beliau sebelum wafat serta masih banyak karya yang lainnya.

Al-Farabi juga merupakan seorang cendekiawan yang mendalami filsafat Aristoteles, riwayat ini dikuatkan dengan sebuah kisah pada saat Ibnu Sina tidak mampu memahami isi dari Maqalah fi Aghrad al Hakim fii Kulli Maqalah al Marsum bi Al Huruf  karangan Aristoteles padahal Ibnu Sina telah membacanya sebanyak 40 kali.

Setelah ketidakfahaman Ibnu Sina terhadap karya Aristoteles tersebut akhirnya beliau berlabuh pada sebuah karya Al-Farabi yang berjudul Tahqiq Gharad Aristatalis fi Kitab ma Ba’da al Thabi’ah. Kemudian tersingkaplah ‘tabir gelap’ dari isi pemikiran Aristoteles dalam kitabnya Maqalah fi Aghrad al Hakim fii Kulli Maqalah al Marsum bi Al Huruf.

Gaya penulisan Al-Farabi yang mudah untuk dipahami membuat beliau lebih dikenal daripada para gurunya. Beliau menggunakan contoh-contoh nyata dan yang lumrah ada di kalangan masyarakat pada masa terssebut.

Hal ini tentu menandakan bahwa beliau benar benar memperhatikan penerjemahan dan penulisan yang selaras dengan kehidupan masyarakat. Al-Farabi tidak setuju terhadap Al-Kindi yang hanya membuat penerjemahan namun tidak menganalisa hal-hal yang boleh dan tidak boleh dipraktekkan masyarakat Arab saat itu.

Karena menurut Al-Farabi, falsafah sejatinya bukan suatu bidang yang mudak untuk dipahami. Penerjemahan tanpa suatu pemahaman akan menyebabkan suatu kekeliruan terhadap pembaca dan penuntut ilmu falsafah.

Dari totalitas usaha yang dilakukan Al-Farabi dalam meluaskan cakrawala pengetahuan umat di atas, kita sebagai muslim tentunya dapat merasakan semangat yang begitu membara dari beliau untuk membawa umat muslim ke arah ilmu duniawi dan ukhrawi.

Sebagai pelopor di berbagai bidang ilmu, hingga saat ini beliau bertahan menjadi sumber rujukan utama para cendekiawan dan ilmuwan dunia. Sebagai seorang muslim kita sepantasnya bangga memiliki seorang cendekiawan hebat seperti Al-Farabi.

Pemikiran Al-Farabi

1)    Pemikiran Al-Farabi Tentang Konsep Negara

Menurut Al-Farabi komunitas manusia (warga negara) di sebuah negara adalah salah satu syarat terbentuknya sebuah negara. Oleh sebab itu seorang manusia tentunya senantiasa membutuhkan bantuan manusia lain untuk menjalani kehidupannya.

2)    Hakikat Ke-Esaan Tuhan Menurut Al-Farabi

Menurut Al-Farabi, Tuhan memiliki kedudukan sebagai wajib al wujud (sebab pertama dari segala wujud makhluk). Maka ke-Esaan serta kesempurnaan wujud Tuhan tidak mungkin bisa diwujudkan sebagaimana benda atau makhluk biasa.

Karena Tuhan adalah azali yang ke-Esaannya tidak akan pernah dapat dihilangkan. Dalam pemikirannya, beliau tidak setuju terhadap anggapan bahwa Tuhan lebih satu dan tidak terbatas karena definisi akanmembatasi kemutlakan Tuhan.

3)    Teori Emanasi Al-Farabi

Teori emanasi adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Al-Farabi mengenai keluarnya sesuatu yang wujud mumkin (alam makhluk) dari dzat yang harus adanya/Tuhan (wajibul wujud). Teori ini juga biasa disebut sebagai teori “urut-urutan wujud”.

Itulah beberapa pemikiran ataupun teori yang pernah dikemukakan oleh Al-Farabi semasa hidupnya. Masih banyak teori lain yang pernah beliau cetuskan namun tidak dapat tertulis seluruhnya dalam artikel ini.*

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Bahan dari berbagai sumber

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-Farabifilsafatperadaban Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uni Eropa Taliban Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Atas Pejabat dan Media Iran
Tulisan selanjutnya Rektor IPB: Makanan Tidak Sehat dan Residu Mempengaruhi ‘Generasi Melambai’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan

Berita
11 Juli 2026 16:21
Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Korea Utara Bertekad Membangun Kekuatan Nuklir dan Memperluas Peran Intelijen Militer

Terbaru

  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
  • Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
  • Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
  • Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi

16 Juli 2023 06:00
Mimbar

Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya

15 Juli 2023 05:30
Mimbar

OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti

13 Juli 2023 18:47
Mimbar

50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

4 Juli 2023 10:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?