Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Sim Salabim: “Air Laut Jadi Bensin” [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Juni 2008 23:40
Bagikan
Bagikan

Oleh: Amran Nasution *

Joko Suprapto, si “tukang sulap” pembuat air laut menjadi bensin tiba-tiba tak muncul seperti yang direncanakan, Siapa sesungguhnya Joko?

Hidayatullah.com–Pada 6 Mei lalu, ia malah sempat dijemput ke Bandar Udara Cengkareng tapi tak nongol. Kabar pun tak ada. Suasana menjadi genting. Beredar isu Joko diculik komplotan perusahaan minyak raksasa yang merasa terancam oleh temuannya. Karena itu dikerahkan pasukan anti-teror Detasemen Khusus 88 mencarinya.

Akhirnya ia ditemukan di Rumah Sakit Umum Daerah Soedono, Madiun. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Abu Bakar Nataprawira mengatakan Joko menderita penyakit jantung. Sampai sekarang Joko istirahat di rumahnya di Nganjuk karena penyakitnya. Ia menolak ditemui wartawan. Rumahnya dijaga tentara dan polisi.

Di mata para pengajar UGM jelas Presiden SBY sudah dikelabui. Soalnya bagi mereka, Joko bukan orang baru. Seperti ditulis Koran TEMPO, 29 Mei 2008, Joko dan 8 temannya pernah menemui Rektor UGM Sofian Effendi, Desember 2006. Joko mengaku menemukan pembangkit listrik ajaib 25 kilowat, hanya dengan beberapa baterai kecil dan panel surya. Joko minta Rp 3 milyar untuk proyek itu.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Setelah beberapa pertemuan akhirnya diketahui orang ini tak beres. Ia tak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang mencurigakan. Belakangan diketahui alamat yang tertera di kartu namanya pun palsu.

Ketua Jurusan Teknik Elektro UGM Tumiran mengatakan klaim Joko tetang energi berbahan baku air itu menyesatkan. ‘’Ini hal yang memalukan karena Presiden kita lebih mempercayai hal-hal seperti itu,’’ kata Tumiran. Karena pengalaman itu pertemuan dengan Presiden direncanakan. Sayang Presiden kurang sehat.

Para pengajar UGM itu benar. Cerita air sebagai sumber energi bukan baru. Dari mulai yang misterius model Joko sampai penelitian serius di laboratorium sudah dilakukan. Tapi sampai sekarang hasilnya mengecewakan.

Pada 1935, Henry Gerret dari Dallas, Texas, memamerkan mobil menggunakan air. Malah temuan itu sempat ia patenkan. Ia memecah hydrogen dari air dengan aliran listrik dari sebuah baterai. Temuan itu tak berkembang karena mobil mogok kehabisan baterai setelah berjalan beberapa kilometer.

Sejak itu, berbagai penelitian dan percobaan dilakukan agar air bisa dijadikan bahan bakar. Agustus 2006, Majalah New Scientist, melaporkan bahwa Tareq Abu Hamed dari University of Minnesota bekerja sama dengan Weizmann Institute of Science dari Israel, berhasil menggunakan air sebagai bahan bakar mobil dengan menggunakan senyawa kimia boron untuk memecah hydrogen dari air. Dalam beberapa tahun lagi, hasil penelitian itu sudah bisa dimanfaatkan. Tapi nomor berikutnya, majalah itu seakan meralat sendiri laporannya dengan menyebutkan sebenarnya bukan air, tapi boron yang menjadi bahan bakar atau penggerak mesin temuan Tareq Abu-Hamed itu.

Di Washington, seorang peneliti swasta John Kanzius memisahkan hydrogen dari air laut dengan menggunakan generator ciptaan sendiri. Itu terjadi secara kebetulan. Kanzius yang Indian itu sebenarnya sedang meneliti pengobatan kanker. September tahun lalu, temuan itu ia uji di Penn State University. Oleh universitas, temuan itu dikonsultasikan ke Departemen Energy dan Departemen Pertahanan di Washington, untuk memperoleh dana riset.

Rustum Roy, ahli kimia dari Penn State University mengatakan bahwa benar hydrogen bisa dipisahkan dari air laut. Tapi apakah sistem itu akan bisa efisien menjalankan mobil, tergantung hasil riset selanjutnya. Riset semacam itu juga pernah dilakukan perusahaan mobil Daimler-Chrysler. Tapi pada tahun 2003 riset dihentikan karena hanya menghasilkan bahan bakar yang tak efisien.

Sementara para ahli berjuang di laboratorium tanpa hasil yang konkret, banyak penipuan terjadi. Desember 1996, hakim di Ohio menghukum Stanley Meyer untuk membayar 25.000 dollar kepada dua investor yang menuntutnya. Proyeknya membuat BBM dari air dianggap hakim sebagai penipuan setelah hakim memanggil saksi ahli ke depan sidang.

Juli 2006, pengadilan di Mercer County, menghukum Patrick Kelly 5 tahun penjara. Ia dinyatakan hakim menipu sekitar 500 penduduk New Jersey yang menjadi investornya. Dari para investor itu lelaki asal Idaho ini mengumpulkan dana 2,5 juta dollar, sementara BBM dari air tak pernah terwujud.

Bagaimana Joko Suprapto? Kalau diikuti penjelasan para pengajar UGM, ini jelas penipuan. Yang sangat disayangkan, kenapa Presiden SBY langsung percaya tanpa lebih dulu melibatkan LIPI, BPPT, atau lembaga penelitian di universitas, untuk mengeceknya. Padahal apa pun langkah Presiden tentu berdampak luas, karenanya perlu pemeriksaan yang teliti sebelum langkah diayunkan.

Sekarang beredar gosip bahwa janji Presiden tak akan menaikkan BBM karena blue energy. Seusai pelantikan KSAL, November 2007, dalam keterangan pers Presiden SBY memang mengatakan bahwa kenaikan harga BBM bukan opsi untuk tahun 2008. Akhirnya, setelah Joko Suprapto menghilang, terpaksa harga BBM dinaikkan.

BPPT sendiri ternyata sudah menguji blue energy yang diperoleh dari Direktorat Perhubungan Darat. Jadi bukan atas permintaan Presiden. Ternyata blue energy tak lain dari bahan bakar diesel atau solar. Ia bukan air laut. ‘’Jadi blue energy tak dapat disebutkan bahan bakar ramah lingkungan berbasis air,’’ kata Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman kepada wartawan 2 Juni 2008. Baiknya polisi segera mengusut Joko Suprapto agar perkara ini klir dan terbuka, tanpa menimbulkan banyak gosip. Sudah terlalu banyak gosip di negeri ini. [habis/hidayatullah.com]

* Direktur Institute For Policy Studies

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kedzaliman Evolusionis Di Inggris
Tulisan selanjutnya Bantah Melarikan Diri, Munarman Minta Polisi Bersabar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Artikel
21 Juli 2026 07:00
Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?