Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Inilah Amerika Sekarang [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juli 2008 07:55
Bagikan
Bagikan

Oleh: Amran Nasution *

Hidayatullah.com–Penerbitnya tak dikenal, penulisnya apalagi. Nyaris tanpa promosi. Kenyataannya The Shack kini tercatat sebagai novel terlaris di Amerika Serikat. Penerbitnya, Windblown Media, menduga novel itu telah terjual di atas 1 juta eksemplar.

Seperti dilaporkan koran The New York Times, 24 Juni lalu, pada mulanya tak ada penerbit yang berminat pada novel itu. Atas bantuan dua pendeta, Mei setahun lalu, The Shack (pondok) terbit dan beredar di kalangan aktivis Gereja, menjadi cerita dari mulut ke mulut. Dari sanalah – setelah setahun kemudian – novel itu menempati rak utama di toko-toko buka ternama, termasuk di super-market terkemuka seperti Wal-Mart dan Costco, sebagai buku laris, best seller.

Penulisnya, William P.Young, bekas pegawai tugas malam di sebuah hotel di Gresham, Oregon. Novelnya menceritakan kisah seorang ayah yang bersedih karena kehilangan anak perempuan. Ia kemudian bertemu Tuhan dalam sosok seorang wanita kulit hitam yang selalu gembira.

Singkat cerita, novel berkisah tentang cinta Tuhan kepada manusia, atau dengan kata lain ini adalah sebuah novel agamis. Dalam ukuran yang berbeda fenomena The Shack mirip dengan sukses novel dan film Ayat-Ayat Cinta di Indonesia.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Fenomena ini sesungguhnya hanya memperjelas betapa agama (Kristen-Protestan) sekarang sangat penting di dalam kehidupan mayoritas masyarakat Amerika Serikat. Amerika bukanlah seperti digambarkan kaum kapitalisme-liberal melalui film-film Hollywood: serba permisif alias serba bebas, dan agama menjadi urusan nomor delapan belas.

Survei terbaru oleh Pew Forum on Religion, lembaga riset ternama di Washington, yang diumumkan 23 Juni 2008, menunjukkan 92% responden percaya pada Tuhan. Mayoritas responden percaya malaikat dan setan aktif di dunia ini. Dan sekitar 80% responden berpendapat bahwa keajaiban memang terjadi di dalam kehidupan.

ImageSurvei ini ditujukan untuk mencari tahu secara mendalam bagaimana pandangan orang Amerika terhadap agama. Respondennya berjumlah 36.000 orang dewasa tersebar di seluruh Amerika. Pengumpulan pendapat dilakukan dengan interviu tatap muka. Kesimpulannya jelas: orang Amerika memang agamis, amat mempercayai agama.

Itu bukan fenomena baru. Profesor Samuel Huntington dari Harvard University dalam bukunya Who are we? America’s Great Debate (The Free Press, 2005), menyebutkan bahwa sejak 25 tahun terakhir abad 20, gerakan sekulerisme mengalami penurunan.

Di saat bersamaan terjadi kebangkitan agama hampir di seluruh dunia, kecuali Eropa Barat. Itu terjadi di Amerika Latin, Rusia, Turki, India, berbagai negara Timur Tengah dan Asia lainnya. Itu juga terjadi di Amerika Serikat.

Di Amerika, menurut Huntington, terjadi pertumbuhan cepat dan signifikan Kristen Evangelical, aliran Protestan yang konservatif. Sementara pengikut Kristen arus utama yang lebih liberal semacam Presbyterian atau United Church of Christ, menjadi anjlok. Terjadi eksodus.

Selain itu, banyak orang Amerika konsern pada kemerosotan nilai-nilai, moral, dan standar, di dalam masyarakat. Merebaknya penggunaan Narkoba, penyakit AIDS, perselingkuhan, wanita melahirkan tanpa ayah (single-parent), abortus, meningkatnya kriminalitas, ketamakan mengejar harta, dan sebagainya. Lalu muncul kebutuhan personal untuk mempercayai dan memiliki sesuatu yang tak bisa dipenuhi atau dipuaskan oleh ideologi dan institusi sekuler.

Perubahan besar itu pun terjadi. Menjadi atheis, misalnya, sekarang sesuatu yang asing bagi orang Amerika. Ada survei menunjukkan, kaum atheis lebih tak disukai dibanding kaum homo atau menjadi Muslim. Artinya, orang semacam Christopher Hitchens, penulis atheis asal Inggris yang anti-agama dan anti-Tuhan itu – bukunya terakhir God isnot Great — bukanlah favorit Amerika.

Dulu di tahun 1960-an, Presiden J.F.Kennedy terkenal dengan ucapannya: pandangan seorang Presiden tentang agama adalah urusan privat (A President whose views on religion are his own private affairs). Sekarang tak begitu. Siapa ahli filsafat politik yang dikagumi Presiden Bush? ”Jesus. Sebab Ia mengubah hatiku,” kata Bush di sebuah acara TV yang dipancarkan ke seluruh negeri.

Kevin Phillips, bekas ahli strategi Partai Republik, memperkuat tesis Huntington. Ia malah menyebut pemerintahan Presiden Bush mengarah pada pemerintahan agama dan Partai Republik adalah partai Kristen pertama dalam sejarah Amerika (lihat American Theocracy, Penguin Books, 2006).

Bush dulu suka minuman keras. Ia berubah (convert) setelah bertemu seorang Pendeta. Kini dia seorang Kristen Evangelical yang taat. Maka setelah terjadi serangan terror yang merubuhkan Menara Kembar WTC dan Gedung Pentagon, 11 September 2001, Presiden Bush memproklamirkan perang melawan teror (war on terror).

Katanya, itulah perang untuk memburu teroris sampai ke mana pun, dan sampai kapan pun, sehingga mereka betul-betul dikalahkan. Dan Presiden Bush menyebut perang itu sebagai crusade alias Perang Salib. Yaitu perang antara tentara Kristen melawan Islam, 1000 tahun lalu, guna memperebutkan Jerusalem. Bush rupanya merasa sebagai pemimpin tentara Salib. [bersambung/hidayatullah.com]

* Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya WAMY Mesir adakan Pertemuan Pemuda Muslim Sedunia ke-14
Tulisan selanjutnya Indonesia Harapkan Keamanan di Kabul Segera Pulih

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Yahudi Haredi Wajib Militer
Berita

Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000

Berita
20 Oktober 2026 13:10
Yunani Sahkan Larangan Media Sosial bagi Anak di bawah 15 tahun
Didanai Beijing, Pentagon Anggap Confucius Institutes Ancaman Bagi Keamanan Negara AS
Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain

Terbaru

  • Gereja di Yordania Diserang, Raja Abdullah Janji akan Menuntut Balas
  • Didanai Beijing, Pentagon Anggap Confucius Institutes Ancaman Bagi Keamanan Negara AS
  • Lebih dari 100 Juta Nama Dihapus dari Daftar Pemilih India, Mayoritas Muslim
  • Yunani Sahkan Larangan Media Sosial bagi Anak di bawah 15 tahun
  • Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas dalam Baku Tembak di Tepi Barat
  • Cegah Data Jatuh ke Tangan ‘Israel’, Malaysia Larang ASN Pakai Waze
  • Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi
  • Jihad Santri di Era Modern
  • Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
  • Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?