Oleh: Amran Nasution *
Hidayatullah.com–Penerbitnya tak dikenal, penulisnya apalagi. Nyaris tanpa promosi. Kenyataannya The Shack kini tercatat sebagai novel terlaris di Amerika Serikat. Penerbitnya, Windblown Media, menduga novel itu telah terjual di atas 1 juta eksemplar.
Seperti dilaporkan koran The New York Times, 24 Juni lalu, pada mulanya tak ada penerbit yang berminat pada novel itu. Atas bantuan dua pendeta, Mei setahun lalu, The Shack (pondok) terbit dan beredar di kalangan aktivis Gereja, menjadi cerita dari mulut ke mulut. Dari sanalah – setelah setahun kemudian – novel itu menempati rak utama di toko-toko buka ternama, termasuk di super-market terkemuka seperti Wal-Mart dan Costco, sebagai buku laris, best seller.
Penulisnya, William P.Young, bekas pegawai tugas malam di sebuah hotel di Gresham, Oregon. Novelnya menceritakan kisah seorang ayah yang bersedih karena kehilangan anak perempuan. Ia kemudian bertemu Tuhan dalam sosok seorang wanita kulit hitam yang selalu gembira.
Singkat cerita, novel berkisah tentang cinta Tuhan kepada manusia, atau dengan kata lain ini adalah sebuah novel agamis. Dalam ukuran yang berbeda fenomena The Shack mirip dengan sukses novel dan film Ayat-Ayat Cinta di Indonesia.
Fenomena ini sesungguhnya hanya memperjelas betapa agama (Kristen-Protestan) sekarang sangat penting di dalam kehidupan mayoritas masyarakat Amerika Serikat. Amerika bukanlah seperti digambarkan kaum kapitalisme-liberal melalui film-film Hollywood: serba permisif alias serba bebas, dan agama menjadi urusan nomor delapan belas.
Survei terbaru oleh Pew Forum on Religion, lembaga riset ternama di Washington, yang diumumkan 23 Juni 2008, menunjukkan 92% responden percaya pada Tuhan. Mayoritas responden percaya malaikat dan setan aktif di dunia ini. Dan sekitar 80% responden berpendapat bahwa keajaiban memang terjadi di dalam kehidupan.
Survei ini ditujukan untuk mencari tahu secara mendalam bagaimana pandangan orang Amerika terhadap agama. Respondennya berjumlah 36.000 orang dewasa tersebar di seluruh Amerika. Pengumpulan pendapat dilakukan dengan interviu tatap muka. Kesimpulannya jelas: orang Amerika memang agamis, amat mempercayai agama.
Itu bukan fenomena baru. Profesor Samuel Huntington dari Harvard University dalam bukunya Who are we? America’s Great Debate (The Free Press, 2005), menyebutkan bahwa sejak 25 tahun terakhir abad 20, gerakan sekulerisme mengalami penurunan.
Di saat bersamaan terjadi kebangkitan agama hampir di seluruh dunia, kecuali Eropa Barat. Itu terjadi di Amerika Latin, Rusia, Turki, India, berbagai negara Timur Tengah dan Asia lainnya. Itu juga terjadi di Amerika Serikat.
Di Amerika, menurut Huntington, terjadi pertumbuhan cepat dan signifikan Kristen Evangelical, aliran Protestan yang konservatif. Sementara pengikut Kristen arus utama yang lebih liberal semacam Presbyterian atau United Church of Christ, menjadi anjlok. Terjadi eksodus.
Selain itu, banyak orang Amerika konsern pada kemerosotan nilai-nilai, moral, dan standar, di dalam masyarakat. Merebaknya penggunaan Narkoba, penyakit AIDS, perselingkuhan, wanita melahirkan tanpa ayah (single-parent), abortus, meningkatnya kriminalitas, ketamakan mengejar harta, dan sebagainya. Lalu muncul kebutuhan personal untuk mempercayai dan memiliki sesuatu yang tak bisa dipenuhi atau dipuaskan oleh ideologi dan institusi sekuler.
Perubahan besar itu pun terjadi. Menjadi atheis, misalnya, sekarang sesuatu yang asing bagi orang Amerika. Ada survei menunjukkan, kaum atheis lebih tak disukai dibanding kaum homo atau menjadi Muslim. Artinya, orang semacam Christopher Hitchens, penulis atheis asal Inggris yang anti-agama dan anti-Tuhan itu – bukunya terakhir God isnot Great — bukanlah favorit Amerika.
Dulu di tahun 1960-an, Presiden J.F.Kennedy terkenal dengan ucapannya: pandangan seorang Presiden tentang agama adalah urusan privat (A President whose views on religion are his own private affairs). Sekarang tak begitu. Siapa ahli filsafat politik yang dikagumi Presiden Bush? ”Jesus. Sebab Ia mengubah hatiku,” kata Bush di sebuah acara TV yang dipancarkan ke seluruh negeri.
Kevin Phillips, bekas ahli strategi Partai Republik, memperkuat tesis Huntington. Ia malah menyebut pemerintahan Presiden Bush mengarah pada pemerintahan agama dan Partai Republik adalah partai Kristen pertama dalam sejarah Amerika (lihat American Theocracy, Penguin Books, 2006).
Bush dulu suka minuman keras. Ia berubah (convert) setelah bertemu seorang Pendeta. Kini dia seorang Kristen Evangelical yang taat. Maka setelah terjadi serangan terror yang merubuhkan Menara Kembar WTC dan Gedung Pentagon, 11 September 2001, Presiden Bush memproklamirkan perang melawan teror (war on terror).
Katanya, itulah perang untuk memburu teroris sampai ke mana pun, dan sampai kapan pun, sehingga mereka betul-betul dikalahkan. Dan Presiden Bush menyebut perang itu sebagai crusade alias Perang Salib. Yaitu perang antara tentara Kristen melawan Islam, 1000 tahun lalu, guna memperebutkan Jerusalem. Bush rupanya merasa sebagai pemimpin tentara Salib. [bersambung/hidayatullah.com]
* Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies