Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Larangan Mudik, Itu Dipertanyakan dengan Sumbang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Maret 2021 15:54 3:54 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Maret 2021 15:54
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Perdebatan di masyarakat menjadi serius sejak pemerintah memutuskan melarang mudik lebaran 2021. Mudik kok dilarang, apa urusannya pemerintah melarang-larang seseorang yang akan melakukan mudik. Protes mereka yang tidak setuju dengan larangan mudik lebaran.

Sedang yang setuju, lagaknya seperti jubir pemerintah, lalu celoteh akan bahaya jika mudik itu dilakukan, dikhawatirkan menimbulkan klaster baru pandemi Covid-19. Lagak yang normatif, tapi memang benar sih. Itu jika melihat mudik dari satu aspek saja.

Mudik sudah menjadi semacam ritual tahunan, khususnya bagi umat Islam. Semacam forum silaturahim, guna merajut kebersamaan dalam sebuah keluarga besar. Bahkan, mampu merajut silaturahim yang lebih luas pada kerabat dan handai taulan.

Untuk bertemu pada waktu-waktu di luar lebaran, tampaknya sulit bisa terlaksana. Maka, mudik lebaran jadi waktu yang tepat menyatukan kebersamaan itu mewujud. Tak mungkin bisa tergantikan pada waktu-waktu di luar lebaran itu.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Mudik itu silaturahim, sebuah pertemuan fisikal, yang mustahil bisa digantikan dengan pertemuan secara virtual. Maka larangan mudik memakai indikator corona, tampak sarat dengan muatan pendangkalan nilai substansi dari mudik itu sendiri.

Mudik lebaran itu perpaduan tradisi, dan itu budaya, juga ajaran agama, setidaknya pada silaturahim, itu hal yang dianjurkan. Karenanya, mustahil bisa digantikan dengan pertemuan virtual, tanpa sungkem anak pada orang tuanya atau kerabat yang lebih tua.

Menjabat tangan kedua orang tua atau kerabat yang lebih tua, sambil mencium tangan yang sudah mengeriput, sungguh peristiwa tak tergantikan. Suasana psikologis yang dibangun sungguh tak ternilai.

Kebijakan pelarangan mudik lebaran, itu lalu menimbulkan pertanyaan kritis tapi wajar di tengah masyarakat. Kenapa kebijakan dibuat seolah selalu “merugikan” umat Islam.

Mengapa tidak dibuat saja jalan tengah, mengakomodir mudik namun dengan persyatatan prokes yang ketat. Regulasi untuk itu bisa dibuat dan diatur dengan sebaik-baiknya. Mestinya itu bisa, semacam pemerintah cakap membuat aturan pelarangan mudik.

Jika regulasi prokes itu dibuat, maka mustahil untuk tidak dipatuhi. Tidak seorang pun yang mudik tanpa persiapan kesehatan yang disyaratkan. Tidak ada yang mau gegabah mudik menemui orang tua tanpa persiapan kesehatan memadai.

Kebijakan yang Mendua

Wajar pertanyaan semacam itu muncul, karena kebijakan yang diambil pemerintah tampak bersikap mendua, itu dalam aturan prokes. Untuk mudik dilarang, tapi tidak pada sektor pariwisata, yang justru sedang digalakkan. Inilah kebijakan mendua, yang sulit bisa dijelaskan kecuali prasangka yang muncul, dan itu politis.

Pada mudik lebaran, justru kehati-hatian menjaga prokes itu lebih terjamin. Kehati-hatian untuk tidak sampai menularkan virus pada orang-orang terkasih di kampung halaman. Jika merasa sakit, maka pastilah mudik tidak akan dilakukan, meski persiapan sudah dipersiapkan dengan matang.

Jika kebijakan yang diambil pemerintah itu konsisten, dan pada semua aspek pelarangan itu diberlakukan, maka larangan mudik itu tidak menjadi masalah. Tidak dipertanyakan penuh sakwasangka, dan menjadi spekulasi di tengah masyarakat.

Inkonsistensi pemerintah menetapkan pelarangan mudik, tapi lalu menggalakkan pariwisata, ini yang sulit bisa dijelaskan. Meski argumen yang dibangun, agar ekonomi bisa tetap menggeliat, khususnya pariwisata, itu pun mudah disanggah.

Jika faktor ekonomi jadi alasan, maka mudik tidak kalah dibanding pariwisata. Mudik justru mampu menggeliatkan ekonomi dengan lebih luas. Sebaran ekonominya lebih merata dibanding pariwisata, yang terbatas.

Argumen pelarangan mudik itu tidak akan dipertanyakan dengan sumbang, jika kebijakan yang dibuat itu tidak lantas mendua. Melarang mudik, tapi menggalakkan pariwisata. Ini sih sama saja bo’ongan.

Setiap kebijakan mestinya dibangun atas asas keseimbangan, dengan memperhatikan sosio kultur dan psikologis yang berkembang dalam masyarakat. Jika tidak, maka efektifitas larangan itu menjadi diragukan… Wallahu a’lam. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Joko widodojokoriMudikumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya FPI Mengecam Keras Peledakan Bom di Depan Gereja Makassar
Tulisan selanjutnya Qutb Minar, Warisan Arsitektur Indo-Islam di India

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Berita
28 Agustus 2026 09:48
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?