Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Dicari Sosok “Ayah” untuk Umat!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2010 13:39 1:39 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2010 13:39
Bagikan
Bagikan

LEBIH dari setengah abad lamanya, setelah bangsa-bangsa Muslim memperoleh kemerdekaannya (baca: umat), nasib mereka –secara umum– tampaknya belum membaik secara total. Kemiskinan, keterbelakangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, penindasan baik oleh bangsa sendiri maupun oleh bangsa lain masih saja menjadi gejala umum dari umat. Beberapa negara Muslim boleh saja bangga dengan kemakmuran yang mereka peroleh. Tetapi faktanya, kemakmuran mereka tersebut sangat bergantung dengan teknologi, modal dan sistem yang “dipinjamkan” oleh oleh negara lain kepada mereka, sehingga jika saja negara lain tersebut mengembargo atau menarik sedikit saja teknologi dan modal yang mereka “pinjamkan” itu, segera beberapa negara Muslim tersebut tidak berdaya mengatasinya. Anehnya, para pemimpin negara-negara Muslim tersebut membiarkan saja ketergantungan mereka yang fatal itu tanpa ada upaya radikal dan signifikan untuk mengatasinya.

Memang mengharapkan perbaikan nasib umat kepada pemimpin formal negara seperti Presiden atau Perdana Menteri, rasanya tidak mungkin. Disebabkan sekularisasi budaya yang begitu massif dan nyaris mapan, para pemimpin formal umat umumnya gagal meletakkan diri sebagai representasi aspirasi Muslim yang genuine.

Mereka lebih suka menampilkan diri di seberang aspirasi umat akibat latar belakang pandangan politik sekuler mereka yang kuat. Walhasil kepemimpinan mereka terhadap umat tampak ambigu, tidak pernah solid dan sulit diterima secara luas dan memuaskan. Akhirnya yang mengisi kekosongan kepemimpinan umat adalah tokoh-tokoh informal religius seperti ulama.

Sayangnya, tokoh-tokoh informal religius ini tidak banyak berdaya mengefektifkan kepemimpinannya dalam mengemansipasi umat. Umumnya, disebabkan dua faktor. Pertama, bahwa tokoh-tokoh informal religius tersebut tidak memiliki wewenang yang sah secara undang-undang yang berlaku seperti halnya pemimpin-pemimpin formal negara. Kedua, banyak dari tokoh-tokoh tersebut tidak memiliki tipe intelektual organis—meninjam istilah Gramsci—dan hanya kuat dalam wilayah ilmu-ilmu Islam tradisional, sehingga mereka mengalami kegagapan baik di dalam mengoperasikan kepemimpinannya secara strategis, maupun ketika berhadapan dengan tantangan intelektual dari musuh-musuh umat.

Akibat dari situasi ini, umat terperangkap dalam kebingungan. Bingung hendak kemana sebaiknya kesetiaan dan kepatuhan mereka diberikan: apakah kepada pemimpin formal atau kepada pemimpin informal. Dalam situasi kebingungan ini, umat terlempar ke dalam kondisi terlantar, kehilangan arah, dan tidak terurus. Masing-masing dari mereka mencari sendiri tempat untuk berlindung. Nasib umat hampir seperti kawanan domba yang kehilangan penggembala, penulis menyebutnya dengan istilah “yatim”.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Dalam “keyatiman” sosial ini, umat tidak sepenuhnya putus ikatan dengan Islam dan bahkan diantara mereka secara kreatif berjuang melestarikan hubungan spritual mereka dengan Islam meskipun mereka tidak memiliki “ayah” yang melindungi dan mengarahkan jalan mereka.

Kedengkian Politik

Seperti yang kita tahu, keyatiman adalah sebuah kondisi bagi anak yang kehilangan wali terdekatnya, yaitu ayah. Fakta ini, penulis samakan dengan kondisi umat saat ini. Umat tidak memiliki wali yang bertindak melindungi, baik melindungi jiwa maupun harta mereka. Akhirnya, banyak nyawa dan harta kekayaan umat terlantar begitu saja, dan bahkan ada yang secara licik dan kasar mencuri dan menjarahnya tanpa ada perlawanan apa pun dari barisan umat.

Realitas keyatiman umat ini telah lama berlangsung sejak era Khulafa al-Rasyidin berakhir. Dan lebih mencolok lagi, sejak urusan umat dipisahkan secara tegas dengan urusan negara, khususnya di era nation state dewasa ini. Akibatnya adalah umat terisolir, terlemahkan secara politik, dan akhirnya mengalami penguraian.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “urai” berarti lepas terbuka, bercerai-berai, tidak bersimpul dan tidak padat. Demikian pulalah realitas umat dewasa ini. Karena itu, aksi yang perlu dilakukan untuk memecahkan masalah umat adalah mensenyawakan kembali. Ini mirip pekerjaan seorang ahli kimia: kapan harus mengurai, dan kapan harus mensenyawakan.

Secara faktual umat sebagai pengikut jalan Muhammad merupakan satu kesatuan sosial, ekonomi, budaya, spritual dan politik. Tapi politik berbasis sekularisme telah mengurai umat dari kesatuan ikatannya yang asli. Sebagian unsur dari umat bergerak mengikatkan diri kepada nasionalisme dan paham-paham politik baru di luar Islam. Sebagian lagi mengambang di antara tarikan magnetis nasionalisme dan sejenisnya dengan tarikan Islam. Namun ada juga sebagian yang tetap kuat terikat kepada Islam, kebal dari proses penguraian. Bagian yang terakhir ini amat ditakuti karena berpotensi menarik kembali unsur-unsur umat yang telah bercerai-berai hingga membentuk senyawa umat. Barangkali musuh-musuh politik umat mengerti betul tentang hal ini sehingga mereka berupaya sekuatnya agar proses persenyawaan kembali tersebut tidak pernah terjadi.

Seandainya bukan karena kecemburuan dan kedengkian politik –baik yang berkala regional atau internasional– usaha umat membangun sendiri ikatan mereka itu tentunya sudah lama terwujud. Namun kita menyaksikan, selalu saja upaya semacam itu dihalang-halangi bahkan dipadamkan secara kasar bahkan kejam. Kasus FIS di Aljazair tahun 1991 dan HAMAS di Palestina tahun 2007.

Untuk melancarkan persenyawaan kembali unsur-unsur umat dan membesarkan daya eksistensialnya, diperlukan kekuatan yang berfungsi melindungi. Kekuatan itu lebih dari sosok barisan tentara pelindung, tetapi sosok “ayah” yang tidak hanya melindungi, namun juga mengarahkan.

Menemukan sosok “ayah” untuk umat tersebut pada waktunya akan tiba selagi kondisi “keyatiman” itu disadari sendiri oleh umat. Sosok “ayah” untuk umat akan hadir jika umat sudah ingin melepaskan diri dari derita “keyatiman” tersebut. Masalahnya, siapakah dan kapankah “ayah” umat itu akan muncul? Wallahua’lam bishshawab

Penulis adalah Sekretaris Yayasan Bumi Ummah Center

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Obama Kurangi “Radikalisme Islam”, Perbanyak Bisnis
Tulisan selanjutnya LBH Deklarasikan “Gerakan Advokat Bersih”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?