Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Melawan Mindset Konsumerisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Mei 2012 10:16 10:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Mei 2012 10:16
Bagikan
Bagikan

Oleh: Agus Dwi Saputro

BELUM lama ini, masyarakat dikejutkan dengan temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terhadap rekening mencurigakan milik PNS muda. Ada 50 persen PNS muda terindikasi korupsi. Bahkan, ada 10 PNS muda melakukan transaksi hingga miliaran rupiah.

Transaksi ini bukan yang pertama, karena sebelumnya ada kasus Gayus Tambunan yang merupakan pegawai Ditjen Pajak Kemenkeu. Temuan ini diungkapkan pihak PPATK di Jakarta.

Fakta itu merupakan bagian dari temuan 1.800 rekening bernilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah milik PNS.

Mengapa terjadi hal seperti ini? Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas di sejumlah media menyebut, sebab korupsi di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) muda ini adalah karena budaya konsumerisme dan tuntutan gaya hidup. Gaji pas-pasan tetapi berani mengambil kredit untuk kebutuhan besar. Kemudian, ketika ada kesempatan terbuka di lingkungan instansi pemerintah, muncullah tindakan korupsi karena semua faktor terpenuhi.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Psikologi Konsumerisme

Kecenderungan masyarakat mengkonsumsi pangan impor era modern ini bukanlah fakta sosial yang tidak mendasar, terutama bagi Indonesia. Term “konsumsi” sendiri berasal dari kata consumptive, suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasaan secara langsung.

Ada beberapa sebab mengapa konsumerisme menjadi paradigma manusia untuk berperilaku konsumtif. Albert Ando, Richard Brumbern dan Franco Modigliani berpendapat konsumsi seseorang dipengaruhi oleh tiga hal.

Pertama, pendapatan saat ini, dan membuat konsumen memutuskan untuk membelanjakan berdasarkan budget yang ada. Kedua kekayaan yang terakumulasi akibat tabungan masa lalu, menjadikan konsumen bebas leluasa mengeluarkan kekayaan yang sebelumnya tertahan. Ketiga harapan penghasilan di masa depan, maka jika pendapatan pada masa yang akan datang semakin tinggi (usia muda ke usia produktif) maka orang itu akan meningkatkan konsumsinya, dan akan mengurangi konsumsinya pada saat penghasilannya mulai menurun (usia produktif ke usia lanjut). Sebab terpenting yang mempengaruhi manusia lekat dengan budaya konsumerisme adalah adanya variable wealth.

Terlihat usaha pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terkait masalah pangan juga konsumen dengan mengeluarkan peraturan regulasi barang juga pengawasan konsumen. UU No.8 Thn 1999 tentang Perlindungan Konsumen, UU No.7 Thn 1996 tentang Pangan, PP RI No.28 Thn 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, PP RI No.58 Thn 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Perlindungan Konsumen, Keppres RI No 103 Thn 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintahan Non Departemen, Kep Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan No 02592/B/SK/VIII/911 tentang Penggunaan Bahan Tambahan Makanan. Seluruh peraturan tersebut belum dapat men-jinakan tingkah laku konsumerisme, namun usaha itu semua haruslah direspon baik karena upaya semacam ini setidaknya dapat mengurangi ataupun mengatur sehingga tidak over.

Untuk mengilustrasikan budaya konsumerisme masyarakat, sejumlah studi di negara maju mendokumentarkannya fenomena sosial tersebut. Jhon Pilger memproduseri The New Rullers of The World (2001), film ini didesain untuk mendeskripsikan penguasa baru dunia, khususnya pengaruh bagi sebuah negara yaitu Indonesia, yang merupakan dampak dari globalisasi dengan point view-nya kesejahteraan. Berikutnya We The Happy Family (2003) garapan Jhonny Ramone diceritakan bahwa konsep kebahagian bagi keluarga dibangun berdasarkan materi hidup serba berkecukupan dan berlimpah harta namun mereka terancam berantakan karena dilanda materialisme dan konsumerisme. Ilustrasi lainnya tentang konsumerisme adalah What Would Jesus Buy? (2007), Morgan Spurlock mengangkat isu komersialisasi Natal, materialisme, konsumsi yang berlebihan dalam budaya Amerika, dan globalisasi serta praktik bisnis di perusahaan besar. Film tersebut mengulas pendeta fiktif berkeliling Amerika, menyerukan menjauhi budaya konsumtif. Sejalan dengan dampak yang dirasa oleh Indonesia, Barat juga melihat konsumerisme sebagai momok yang buruk.

Sebenarnya konsumerisme juga dapat dinilai sebagai masyarakat yang “sakit” atau setidaknya tengah mengalami benturan kebudayaan (shock culture). Baudrillard sendiri berpendapat bahwa tidak ada yang disebut dengan masyarakat berkecukupan. Sejalan dengan itu Marshal McLuhan, Daniel Bell, David Riesman lebih awal “melihat” fenomena masyarakat konsumsi. Terlebih lagi Mark, Durkheim, Veblen dan Lévi-Strauss bahwa terjadi kejanggalan masyarakat dalam merespon modernisasi.

Sikap Kritis

Setelah melihat budaya hedonis tentu para akademik, pemerintah, ulama, dan mereka yang peduli bahaya keras arus konsumerisme harus bersikap bijak terkait hal itu semua dan kini manusia telah menjadi pemboros agung. Tawaran, gagasan, konsep tentu haruslah mendobrak pola hidup tak beradab tersebut.

Terkait upaya penanggulannya, budaya konsumerisme meliputi dua focus. Pertama, fokus dimensi budaya dari suatu benda, simbolisasi serta pemakaian benda-benda material.

Kedua, fokus nilai ekonomis dari suatu benda-benda budaya, yang memiliki prinsip-prinsip pasar yaitu supply creates its own demand, capital accumulation, competition.

Dari sini jelas sekali konsumerisme menjadi cara beripikir dan berperilaku konsumen sekaligus strategi kapitalis merasuk mindset perlu stategi cerdas merespon hal itu.

Pertama, menempatkan secara proposional sesuai dengan kebutuhan fungsionalnya (dhoruri, haajati, tahsini), Kedua, optimalisasi dari produktivitas barang yang kita konsumsi, harus selalu mengawal setiap keputusan kita untuk membeli produk. Ketiga, peran ketauladanan para tokoh masyarakat didalamnya para pemimping politik serta agamawan untuk mendorong kepada terciptanya budaya fungsional akan sangat menentukan berhasil tidak mengatur konsumtif. Keempat, saving capital terus disosialisasikan untuk membangun resistensi perekonomian rakyat terhadap berbagai fluktasi yang melanda sistem perekonomian khususnya. Kelima, pemerintah serta lembaga-lembaga tinggi lainnya sebagai pemegang keputusan untuk menetukan arah kebijakan makro, harus tetap dijaga dan dikontrol, agar tidak justru melakukan tindakan-tindakan yang bersifat dekulturasi.

Kiranya sudah saatnya memahamkan cara pandang terhadap perilaku konsumerisme tersebut. Melihat realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakikat wujud. Menetapkan primary purpose yang sesuai skala prioritas bukan value of image.*

Penulis Mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, [email protected]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Karena Berjenggot, Penjual Onde-Onde Jadi Sasaran
Tulisan selanjutnya Nonmuslim Juga Ikut Memanfaatkan Perbankan Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?