oleh: Fahmi Salim, MA
SETELAH Perang badar, kaum Yahudi Bani Qainuqa’ terus memperlihatkan kebencian mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan kaum Muslimin. Mereka menolak ajakan masuk Islam dari Rasulullah dan melecehkan kemenangan kaum Muslimin pada Perang Badar. Puncak kebencian mereka kepada Islam dan Muslimin akhirnya terjadi di pasar Bani Qainuqa’.
Ketika itu, seorang wanita Muslimah mereka permainkan sehingga terbuka auratnya di bagian belakang. Mereka tertawa-tawa dengan pelecehan ini. Seorang sahabat Rasul yang mendengarkan jeritan wanita Muslimah yang dipermalukan, langsung melompat dan membunuh lelaki Yahudi yang telah menyingkap aurat Muslimah tersebut. Namun akibatnya, dia dikeroyok oleh Yahudi Qainuqa’ dan dibunuh.
Pengkhianatan Yahudi Qainuqa’ ini langsung disikapi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Pasukan Muslim mengepung mereka berhari-hari sampai mereka menyerah. Setelah menyerah, mereka dihukum Rasulullah dengan diusir keluar dari Kota Madinah.
Satu tahun setelah kejadian tersebut, Yahudi bani Nadhir juga melakukan pengkhianatan. Mereka membuat makar untuk membunuh Rasulullah. Yaitu dengan naik ke atas bangunan dan menjatuhkan batu besar ke Rasulullah yang duduk di bawah. Tapi, malaikat Jibril mengabarkan rencana ini kepada Rasulullah, sehingga Beliau langsung bangkit dari tempat tersebut dan segera kembali pulang.
Kemudian, Rasulullah membawa pasukan dan mengepung Yahudi bani Nadhir beberapa hari sampai menyerah. Lalu mereka dihukum oleh Rasulullah dengan diusir keluar dari Kota Madinah. Setahun lebih setelah pengkhianatan tersebut, Yahudi Bani Quraizhah juga berkhianat. Dalam Perang Khandaq mereka ikut serta berkonspirasi dengan kafir Quraisy yang datang menyerang Madinah.
Kaum Muslimin Madinah benar-benar terkepung dan dalam kondisi mencekam serta ketakutan. Setelah Allah Subhanahu Wata’ala menangkan kaum Muslimin dalam Perang Badar, Rasulullah langsung menghukum Bani Quraizhah. Mereka dikepung berhari-hari sampai menyerah. Setelah menyerah, seluruh lelaki Yahudi Bani Quraizhah dibunuh, dan kaum wanita serta anak-anak menjadi budak. Itulah hukuman bagi mereka para pengkhianat.
Dari tiga peristiwa tersebut, banyak sekali hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Salah satunya sikap adil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Di mana Rasulullah hanya menghukum orang atau kaum yang bersalah saja.
Ketika Yahudi Qainuqa berkhianat di Madinah, maka yang dihukum dan diusir hanya Bani Qainuqa saja. Kaum Yahudi yang lain seperti Bani Nadhir dan Quraizhah sama sekali tidak dihukum dan diusir.
Lalu ketika Yahudi Bani Nadhir yang berkhianat, maka hanya mereka saja yang dihukum dan diusir. Yahudi lain tidak terkena hukuman dan sama sekali tidak diusik. Begitu juga ketika Yahudi Quraizhah berkhianat, hanya mereka yang dihukum.
Sedangkan Yahudi lain tidak diusik. Ketika Rasulullah wafat, baju besi Beliau masih tergadai kepada seorang Yahudi.Terlihat bagaimana Rasulullah tidak mengeneralisir permasalahan. Yang bersalah dan terlibat dalam pengkhianatan, mereka saja yang dihukum. Sedangkan yang lain yang tidak terlibat, tidak ikut diberi hukuman
Umat Buddha Indonesia
Dalam konteks peristiwa kezhaliman yang menimpa kaum Muslimin Rohingya, tentunya semua umat Islam wajib berempati. Memberikan berbagai bantuan yang mungkin dilakukan untuk menolong dan meringankan beban mereka. Apalagi bila Muslimin Rohingya tersebut sudah sampai lari dan mengungsi ke negeri mayoritas umat Islam Indonesia.
Maka umat Islam Indonesia berkewajiban menolong mereka dan memberikan segala fasilitas yang bisa menjamin keselamatan mereka. Semua langkah-langkah solidaritas, penggalangan bantuan dan dana, sangat layak diapresiasi dan didukung. Itulah ciri persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah) setiap Muslim.
Namun di balik itu, adalah sebuah sikap yang tidak bijak serta jauh dari keadilan bila ada pula yang mengajak atau menyuarakan pembalasan kezhaliman tersebut kepada umat Buddha yang ada di Indonesia. Baik itu hanya berupa komentar, tulisan pendek, status di media social (Medsos) dan sejenisnya, apalagi sampai ada aksi di lapangan yang mengintimidasi saudara sebangsa dan setanah air dari umat Buddha.
Apa salah mereka terhadap kaum Muslimin Rohingya? Mereka tidak ikut serta dalam tindakan pembantaian di sana. Umat Islam di Indonesia harus bersikap adil. Jangan samapai propokatif atau terprovokasi.
Kepedulian kepada Muslimin Rohingya jangan dirusak pula dengan mengintimidasi umat Buddha di tanah air. Kita mesti meneladani kaum Muslimin di Nepal yang dengan jiwa besar ikut serta menolong umat Buddha yang menjadi korban gempa. Tidak ada sedikitpun mereka kaitkan dengan kezhaliman kaum Buddha di Myanmar. Sebab, kaum Buddha Nepal tidak ikut serta melakukan kezhaliman.
Ada pihak-pihak yang akan beruntung bila terjadi konflik horizontal antarumat beragama di Indonesia. Indonesia akan goyang dan semakin lemah. Dan yang paling merugi serta dirugikan dengan melemahnya negara kita Indonesia adalah umat Islam sendiri. Karena itu, jangan terpancing, apalagi memancing.
Tidaklah tepat bila seorang Muslim dicederai oleh seorang Kristen di Eropa, lalu orang Kristen di Indonesia diciderai pula oleh kaum Muslimin.
اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Maka berlaku adillah! Adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS Al Maidah: 8);
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاء لِلّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ
“Maka jangan ikuti hawa nafsu, agar kalian berlaku adil.” (QS An Nisa: 135). Wallahu A’lam!
Inisiator MIUMI dan Pengurus MUI Pusat