Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Masa Depan Normalisasi Hubungan Turki dan Israel

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Juli 2016 10:46 10:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Juli 2016 10:46
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Pizaro

 

KAPAL bantuan kemanusiaan dari Turki akhirnya tiba di Jalur Gaza melalui Israel, seminggu setelah kedua negara meneken kesepakatan untuk mengakhiri keretakan hubungan selama enam tahun. Bantuan kemanusian yang dikirimkan Turki adalah salah satu bentuk persyaratan kesepakatan. Menlu Turki Jawish Oglu mengatakan, pengiriman ini adalah langkah pertama untuk mengangkat blokade atas Gaza. Pertanyaannya, akankah ini menjadi kenyataan?

Posisi Israel

Normalisasi antara Turki dan Israel adalah era baru yang menggambarkan hubungan politik di Timur tengah. Sejak awal, banyak analis dan media Israel telah menjelaskan kian lemahnya kekuasaan Isarael di Timur Tengah. Upaya Israel mendekat ke Turki dapat dilihat sebagai upaya stabilisasi posisi Israel. Dalam konferensi persnya di Roma, Netanyahu menggambarkan kesepakatan ini sebagai kepentingan strategis Israel, dalam bidang keamanan, stabilitas regional, dan ekonomi.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Sebagai perdana menteri, Netanyahu mengaku bertanggung jawab atas kepentingan strategis Zionis. Ia harus menggunakan cara pandang jangka panjang dan luas dengan berdasarkan pemahaman masalah internasional, keamanan dan kebutuhan ekonomi Israel di masa kini dan akan datang.

Pada tahun 2013, Aluf Benn, Pemimpin Redaksi Hareetz.com, sudah menganalisis dampak dari hilangnya Israel aliansi dengan Turki dalam geopolitik Timur Tengah. Hal itu diperparah oleh kekhawatiran tentang memburuknya situasi keamanan setelah meletusnya revolusi Suriah. Karena itu, Israel mendekat ke Presiden Suriah, Bashar Asad.

Benn menekankan, selama tiga tahun terakhir, Netanyahu adalah sekutu senyap Assad. Dengan tidak stabilnya kondisi Suriah, terjadinya pelanggaran di perbatasan dan upaya menjatuhkan Asad, Israel akhirnyamendukung Damaskus. Negara zionis itu juga menyatakan khawatiran jatuhnya senjata kimia dan rudal ke tangan oposisi.

Pada gilirannya, Israel pun menerima kerjasama bidang militer dan pertahanan sebelum Rusia menyerang basis oposisi pada September 2015. Langkah ini menunjukkan bagaimana lemahnya kekuasaan Israel dan dapat dilihat sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensinya.

Mengenai normalisasi, pertanyaannya adalah, akankah normalisasi Turki-Israel mengakhiri blokade Gaza?

Sejatinya tuntutan-tuntutan Turki adalah hal yang berat bagi Israel, khususnya, perysaratan untuk mengangkat blokade Israel. Hal ini dapat kita lihat dari sikap Netanyahu yang menolakupaya Turki untuk mendapatkan akses kemanusiaan langsung ke Gaza. Netanyahu menekankan bahwa Tel Aviv akan tetap pada blokade pertahanan maritim dan meminta bantuan itu harus melalui Pelabuhan Ashdod.

Kabarnya, Israel awalnya tidak ingin membahas blokade dan menolak segala konsesi apapun. Dua kutub pendapat ini akhirnya dinegosiasikan untuk menemukan jalan tengah dengan mengirimkanbantuan tahap pertama ke Gazamelalui Ashdod.

Mohammed Kaya, kepala lembaga kemanusiaan Insani Yardim Vakfi (IHH), memiliki perspektif yang berbeda mengenai normalisasi ini. Dia mengatakan, IHH tetap menolak permintaan maaf dan kompensasi Israel atas insiden Mavi Marmara. IHH tetap berdiri pada tuntutan untuk mengangkat blokade di Jalur Gaza secara penuh.

IHH menekankan, proyek ekonomi dan kemanusiaan di Gaza tidak akan berhasil selama blokade masih dilakukan. Begitu juga Turki yang dinilai tidak akan bisa berbuat banyak meringankan problem kemanusiaan selama Gaza masih diblokade. IHH memandang, situasi di Gaza hanya bisa berkembang ketika blokade Israel benar-benar diangkat.

Kaya memperingatkan, kesepakatan Turki untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina di Gaza melalui pelabuhan Ashdod Israel dan penyeberangan Karam Abu Salem di Gaza selatan adalah bentuk pengakuan resmi atas blokade Gaza.

Normalisasi ini juga semakin rumit dengan sikap Israel yang meminta Turki membatasi peran Hamas. Padahal hubungan Turki dan Hamas sedang dalam puncaknya. Dalam pidato di sidang umum PBB, Netanyahu bahkan menyamakan Hamas dan ISIS. Sebuah tuduhan yanng menunjukkan pendirian Israel yang tidak akan pernah menerima Hamas.

Masa Depan Normalisasi

Normalisasi Turki dengan Israel akan menjadi tantangan nyata bagi politik Turki, baik dalam mendukung perjuangan Palestina maupun dalam pertarungan diplomatiknya terhadap Israel yang memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kekuasaan politik atas Palestina. Ini akan berhadapan dengan Erdogan yang memiliki posisi kuat dalam geopolitik di Timur Tengah dengan dukungan sejumlah negara Arab dan masyarakat Palestina.

Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh mana Israel bisamemegang teguh persyaratan normalisasi? Seperti kita ketahui, kedua negara memiliki sejarah panjang dan berliku dalam upaya diplomatik, khususnya bagi Israel. Operasi militer Israel di Gaza bisa saja merusak pemulihan hubungan Israel dan Turki.

Itu sebabnya, Karel Valansi, ahli Timur Tengah asal Turki yang menulis untuk media Yahudi-Turki, mengatakan setiap kesepakatanantara kedua negara layaknya orang yang berjalan di atas kulit telur, dengan kesempatan jatuh dan gagal dalam setiap kesempatan. Ini tentunya akan menjadi peringatan bagi Turki.

Dengan semua konsekuensi politik ini, bukan tidak mungkin prediksi Jerusalem Postbisa menjadi benar yang menggambarkan normalisasi Israel-Turki seperti:  to stop fighting publicly, while quietly continuing to disagree on virtually everything (menghentikan pertempuran secara terbuka, sementara diam-diam terus tidak setuju pada hampir segala hal).*

Penulis peminat masalah Timur Tengah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BlokadegazaIHHisraelpalestinaTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Prancis akan Kerahkan Kapal Induk Pengangkut Jet Tempur untuk Perangi ISIS
Tulisan selanjutnya Relawan Pertanyakan Pengangkatan Putra Hendropriyono jadi Staf Khusus Presiden

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?