Oleh: Herry Mohammad
“Iki ono pacul tapi gak nduwe sawah.
Enak-e dipacul-no nang sopo, yo.”
[Ini ada cangkul tapi nggak punya sawah
Enaknya dicangkulkan ke siapa, ya?]
Parikan atau kidungan (pantun berbahasa Jawa) tersebut dilontarkan oleh seorang tokoh ludruk di Jawa Timur ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) masih eksis di era 1965-an.
Pesan-pesan lewat parikan tersebut dalam rangka memerangi para tuan tanah yang kapitalistik.
Tapi, dalam prakteknya, PKI tidak hanya memusuhi kaum kapitalis pemilik modal, tapi juga kaum santri dan angkatan darat yang tidak sejalan dengan mereka.
Maraknya “kebangkitan” kembali faham komunisme di Indonesia membuahkan polemik yang berkepanjangan. Kaum komunis yang tua bersemangat untuk bangkit, yang muda lebih bersemangat lagi. Kaos bergambar palu arit bermunculan, juga bendera PKI beredar kembali.
Selasa malam pekan lalu, Mayjen (Purn) Kivlan Zen, tampil sebagai salah satu nara sumber di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One. Kivlan, tanpa tedeng aling-aling mengungkapkan fakta-fakta di seputar kebangkitan kembali PKI. Tampilnya Kivlan Zen itu ditanggapi Budayawan Goenawan Mohamad dalam twiternya. Dalam akun @gm_gm menulis, “Nasihat untuk Kivlan Zen: berhentilah memakai pikiran yang sudah berkarat untuk melawan ideologi yang sudah berkarat.”
Kritik GM itu membuat Kivlan Zen menantangnya Berpolemik Secara Intelektual dan terbuka. Dari pengalaman selama ini, GM yang oleh Wahyu Muryadi, mantan pemred majalah Tempo, disebut sebagai manusia setengah dewa, tak mungkin mau (atau berani) berdebat secara terbuka. GM bukanlah seorang ahli debat, ia bukan orator, dan tidak tangkas dalam bersilat lidah. Ia hanyalah seorang pemikir liberal-sekuler dan penulis, yang bekerja di belakang meja. Ia akan gagap jika berdebat secara terbuka.
Anomali Sejarah
Mari kita lihat perkembangan dunia per-komunis-an di berbagai penjuru dunia. Komunisme telah runtuh di di negeri asalnya, di Barat sana. Tembok Berlin runtuh sejak 9 November 1989. Sebelumnya, sekitar 5000 penduduk Jerman Timur yang pemerintahannya sosialis-komunis mencoba lari ke wilayah Jerman Barat. Berlin Timur dan Berlin Barat yang sejak 13 Agustus 1961 dipisahkan dengan Tembok Berlin, kembali bersatu. Anak-anak mudanya melakukan romantisme idiologis dengan mengusung konsep kebebasan untuk semua. Jerman pun akhirnya bersatu, tak ada lagi Jerman Timur maupun Jerman Barat. Sosialis dan komunisme di Timur mereka tinggalkan.
Pada 26 Desember 1991, setelah pemerintahan komunis berkuasa sejak 1922, Uni Sovyet bubar. Selama sepuluh tahun sejak bubarnya Uni Sovyet, negeri Beruang Merah ini selalu dalam keadaan kacau. Kacau politik, kacau pula ekonominya. Keadaan relatif stabil ketika pada tahun 2001, Vladimir Putin, seorang yang berlatar intelijen, mendirikan Partai Rusia Bersatu. Partai Putin ikut pemilu, dan menang dengan perolehan suara 65 persen, sedangkan Partai Komunis hanya dapat 15 persen. Sisanya, yang 20 persen, dipulung oleh beberapa partai kecil.
Apa arti dari keruntuhan Uni Sovyet? Komunis tak diperlukan lagi. Dan faktanya, mereka hanya menguasai 15 persen suara. Komunis sudah tak laku lagi di sini. Aktifitas keagamaan, yang selama pemerintahan komunis berkuasa mendapat tekanan, mulai bangkit.
Coba tengok apa yang dilakukan oleh anak-anak muda Moskow hari-hari ini? Mereka tak ada beda dengan anak-anak muda dari Eropa Barat, baik tampilan baju, rambut, maupun pilihan idiologinya. Di hari libur di musim panas, misalnya, di jalan-jalan utama anak-anak remaja putri berdandan sekenanya, dengan berkalung karton di dadanya tertulis: Peluk aku. Maka, siapa pun bisa memeluknya. Itulah ekspresi kebebasan versi anak-anak muda Moskow.
Di Tatarstan, salah satu negara federasi Rusia, yang 65% penduduknya Muslim, mulai bangkit lagi ke-Islam-an warganya. Nama-nama Muslim bermunculan, dan rumah-rumah ibadah mulai hidup.
Tengok juga RRC. Sejak adanya reformasi ekonomi pada 1978, anak-anak muda tak lagi tertarik dengan idiologi komunisme, mereka lebih tertarik kepada kajian globalisasi dan ekonomi kapitalisme. Ekonomi RRC tumbuh meraksasa justru ketika ia mengadopsi ekonomi kapitalisme. Dan RRC bisa bersaing di pasar global, walaupun sistem politiknya tetap menggunakan satu partai, Partai Komunis. Anak-anak muda di RRC saat ini, yang ada di benaknya, adalah kebebasan dan kehidupan yang hedonisme.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Jika di berbagai belahan dunia faham komunisme sudah mulai ditanggalkan, di Indonesia malah mau bangkit. Ini bukan hantu atau mimpi, tapi nyata. Mereka yang dulu ikut terlibat –dan sekarang sudah sepuh-sepuh– mulai unjuk kebolehan atas nama HAM. Anak-anak mereka bebas menjadi apa saja –ada yang dokter, anggota DPR, aktifis LSM, dan seterusnya– mulai gagah berani dan bangga sebagai anak PKI. Ada euforia untuk menghidupkan kembali faham komunisme. Berawal dengan perjuangan menegakkan HAM, lalu merebut kekuasaan, dan berujung pada kekalahan. Inilah yang dilakukan oleh Komunis Indonesia, baik di tahun 1948 maupun tahun 1965.
Padahal, Tap MPRS XXV/1966 tentang larangan Paham Komunisme tetap berlaku. Dan UU No 27 tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang berkaitan dengan Keamanan Negara, dapat menjerat mereka yang memakai atribut komunis, seperti pemakaian kaos bergambar palu dan arit, itu.
Bangkitnya komunisme di Indonesia merupakan anomali sejarah. Ketika dunia global sudah mulai meninggalkan paham komunisme, di Indonesia malah mulai menggeliat. Dan, kebangkitannya akan digilas oleh sejarahnya sendiri.*
Wartawan, pemerhati politik Islam