Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Anomali itu Bernama Komunisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Mei 2016 07:00 7:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Mei 2016 08:20
Bagikan
Dua mahasiswa diamankan pihak aparat saat gunakan kaos Palu Arit dalam konser musik di Lapangan Saburai, Ahad (8/5/2016) malam
Bagikan

Oleh: Herry Mohammad

 

“Iki ono pacul tapi gak nduwe sawah.

Enak-e dipacul-no nang sopo, yo.”

[Ini ada cangkul tapi nggak punya sawah

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Enaknya dicangkulkan ke siapa, ya?]

 

Parikan atau kidungan (pantun berbahasa Jawa) tersebut dilontarkan oleh seorang tokoh ludruk di Jawa Timur ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) masih eksis di era 1965-an.

Pesan-pesan lewat parikan tersebut dalam rangka memerangi para tuan tanah yang kapitalistik.

Tapi, dalam prakteknya, PKI tidak hanya memusuhi kaum kapitalis pemilik modal, tapi juga kaum santri dan angkatan darat yang tidak sejalan dengan mereka.

Maraknya “kebangkitan” kembali faham komunisme di Indonesia membuahkan polemik yang berkepanjangan. Kaum komunis yang tua bersemangat untuk bangkit, yang muda lebih bersemangat lagi. Kaos bergambar palu arit bermunculan, juga bendera PKI beredar kembali.

Selasa malam pekan lalu, Mayjen (Purn) Kivlan Zen, tampil sebagai salah satu nara sumber di acara Indonesia Lawyer Club   (ILC) di TV One. Kivlan, tanpa tedeng aling-aling mengungkapkan fakta-fakta di seputar kebangkitan kembali PKI. Tampilnya Kivlan Zen itu ditanggapi Budayawan Goenawan Mohamad dalam twiternya. Dalam akun @gm_gm menulis, “Nasihat untuk Kivlan Zen: berhentilah memakai pikiran yang sudah berkarat untuk melawan ideologi yang sudah berkarat.”

Kritik GM itu membuat Kivlan Zen menantangnya Berpolemik Secara Intelektual dan terbuka. Dari pengalaman selama ini, GM yang oleh Wahyu Muryadi, mantan pemred majalah Tempo, disebut sebagai manusia setengah dewa, tak mungkin mau (atau berani) berdebat secara terbuka. GM bukanlah seorang ahli debat, ia bukan orator, dan tidak tangkas dalam bersilat lidah. Ia hanyalah seorang pemikir liberal-sekuler dan penulis, yang bekerja di belakang meja. Ia akan gagap jika berdebat secara terbuka.

Anomali Sejarah

Mari kita lihat perkembangan dunia per-komunis-an di berbagai penjuru dunia. Komunisme telah runtuh di di negeri asalnya, di Barat sana. Tembok Berlin runtuh sejak 9 November 1989. Sebelumnya, sekitar 5000 penduduk Jerman Timur yang pemerintahannya sosialis-komunis mencoba lari ke wilayah Jerman Barat. Berlin Timur dan Berlin Barat yang sejak 13 Agustus 1961 dipisahkan dengan Tembok Berlin, kembali bersatu. Anak-anak mudanya melakukan romantisme idiologis dengan mengusung konsep kebebasan untuk semua. Jerman pun akhirnya bersatu, tak ada lagi Jerman Timur maupun Jerman Barat. Sosialis dan komunisme di Timur mereka tinggalkan.

Pada 26 Desember 1991, setelah pemerintahan komunis berkuasa sejak 1922, Uni Sovyet bubar. Selama sepuluh tahun  sejak bubarnya Uni Sovyet, negeri Beruang Merah ini selalu dalam keadaan kacau. Kacau politik, kacau pula ekonominya. Keadaan  relatif stabil ketika pada tahun 2001, Vladimir Putin, seorang yang berlatar intelijen, mendirikan Partai Rusia Bersatu. Partai Putin ikut pemilu, dan menang dengan perolehan suara 65 persen, sedangkan Partai Komunis hanya dapat 15 persen. Sisanya, yang 20 persen, dipulung oleh beberapa partai kecil.

Apa arti dari keruntuhan Uni Sovyet? Komunis tak diperlukan lagi. Dan faktanya, mereka hanya menguasai 15 persen suara. Komunis sudah tak laku lagi di sini.  Aktifitas keagamaan, yang selama pemerintahan komunis berkuasa mendapat tekanan,  mulai bangkit.

Coba tengok apa yang dilakukan oleh anak-anak muda Moskow hari-hari ini? Mereka tak ada beda dengan anak-anak muda dari Eropa Barat, baik tampilan baju, rambut, maupun pilihan idiologinya. Di hari libur di musim panas, misalnya, di jalan-jalan utama anak-anak remaja putri berdandan sekenanya, dengan berkalung karton di dadanya tertulis: Peluk aku. Maka, siapa pun bisa memeluknya. Itulah ekspresi kebebasan versi anak-anak muda Moskow.

Di Tatarstan, salah satu negara federasi Rusia, yang 65% penduduknya Muslim, mulai bangkit lagi ke-Islam-an warganya. Nama-nama Muslim bermunculan, dan rumah-rumah ibadah mulai  hidup.

Tengok juga RRC. Sejak adanya reformasi ekonomi pada 1978, anak-anak muda tak lagi tertarik dengan idiologi komunisme, mereka lebih tertarik kepada kajian globalisasi dan ekonomi kapitalisme. Ekonomi RRC tumbuh meraksasa justru ketika ia mengadopsi ekonomi kapitalisme. Dan RRC bisa bersaing di pasar global, walaupun sistem politiknya tetap menggunakan satu partai, Partai Komunis. Anak-anak muda di RRC saat ini, yang ada di benaknya, adalah kebebasan dan kehidupan yang hedonisme.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Jika di berbagai belahan dunia faham komunisme sudah mulai ditanggalkan, di Indonesia malah mau bangkit. Ini bukan hantu atau mimpi, tapi nyata. Mereka yang dulu ikut terlibat –dan sekarang sudah sepuh-sepuh– mulai unjuk kebolehan atas nama HAM. Anak-anak mereka bebas menjadi apa saja –ada yang dokter, anggota DPR, aktifis LSM, dan seterusnya– mulai gagah berani dan bangga sebagai anak PKI. Ada euforia untuk menghidupkan kembali faham komunisme. Berawal dengan perjuangan menegakkan HAM, lalu merebut kekuasaan, dan berujung pada kekalahan. Inilah yang dilakukan oleh Komunis Indonesia, baik di tahun 1948 maupun tahun 1965.

Padahal, Tap MPRS XXV/1966 tentang larangan Paham Komunisme tetap berlaku. Dan UU No 27 tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang berkaitan dengan Keamanan Negara, dapat menjerat mereka yang memakai atribut komunis, seperti pemakaian kaos bergambar palu dan arit, itu.

Bangkitnya komunisme di Indonesia merupakan anomali sejarah. Ketika dunia global sudah mulai meninggalkan paham komunisme, di Indonesia malah mulai menggeliat. Dan, kebangkitannya akan digilas oleh sejarahnya sendiri.*

Wartawan, pemerhati politik Islam

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:atributchinagoenawan MuhammadkomuniskomunismeMoscowRRCTap MPRS XXV/1966
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Konstitusi Negara Indonesia Harus Dijaga dari Perusakan Akidah
Tulisan selanjutnya Kondisi Terbaru Pasca Pelepasan Cincin Tawaf di Masjidil Haram

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Berita
31 Agustus 2026 19:36
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Terbaru

  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?