Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Cerdaslah dalam Berpolitik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Oktober 2017 18:28 6:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Oktober 2017 18:28
Bagikan
Perseta Pemilu 2014
Bagikan

Oleh:  Ilham Kadir

 

TUMBANGNYA Orde Baru ditandai dengan rontoknya dinasti Presiden Soeharto yang berkuasa lebih dari tiga dasawarsa. Setelah itu muncul masa reformasi, ditandai dengan terbukanya secara lebar kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat, bahkan partai politik yang sebelumnya diatur secara ketat dan hanya diikuti oleh tiga partai gajah, kini lebih longgar dan dipermudah syarat dan rukun-rukunnya.

Maka partai-partai baru yang kemudian memunculkan tokoh-tokoh politik baik skala nasional maupun lokal. Harus diakui bahwa munculnya tokoh-tokoh nasional di Orde Reformasi karena peran partai atau sebaliknya, ketokohannya yang menjadikan sebuah partai terkatrol dan tetap eksis.

Para pelakon politik selalu muncul di tiap masa. Mereka adalah figur-figur yang menjadi panutan masyarakat luas. Bahkan lebih dari itu semua, tidak sedikit tokoh politik memiliki massa yang fanatik, sehingga apa pun yang dikatakan oleh sang figur seakan jadi kredo bagi pendukungnya, dan perbuatannya menjadi anutan para pengikutnya. Ada adagium, “Langit itu biru, tapi kalau tuan bilang langit itu hitam maka saya percaya kata tuan”. Pernah ada seorang pengikut tokoh yang mengambil air bekas cucian kaki panutannya untuk ia minum dan jadikan jampi.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Masalah kemudian muncul. Bahwa tidak sedikit aktor politik yang dengan mudah loncat partai sana sini, atau calon pemimpin yang selalu berganti-ganti pasangan sesuai kebutuhan dan kepentingan.

Baca: Imam al-Ghazali tentang Kekuasaan dan Memilih

Kita saksikan, selama Orde Reformasi para calon presiden dan wakil presiden bongkar pasang. Diikuti oleh para kepala daerah, yang seenaknya kawin cerai dengan wakilnya. Bahkan ada pasangan kepala daerah yang terpilih bertahan tidak sampai seratus hari setelah menang. Setelah itu, mereka berdua sudah berhadapan sesama, dipertontonkan kepada khalayak umum.

Maka, terjadilah ketidak-stabilan pemerintahan. Sebab fungsi wakil sudah tidak berjalan, di lain pihak kepala daerah sudah kehilangan satu sayap, pembangunan amburadul dan kue kekuasaan dimakan tikus-tikus rakus.

Yang menyakitkan adalah lahirnya konflik horizontal antara sesama. Sebab fanatisme masyarakat terhadap tokoh politik tertentu mengalahkan fanatiknya terhadap agama. Tidak sedikit tokoh politik dan masyarakat telah menjadikan politik sebagai orientasi utama dalam  hidupnya.

***

Agama dan politik bagaikan dua saudara kembar yang lahir dari satu ibu, begitu petuah Imam Al-Gazali (1059-1111). Bahkan, penulis “Kitab Ihya Ulumuddin” itu melihat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.

Posisi politik adalah perajut antar satu manusia dengan lainnya, mengatur tata cara hidup perorangan, berkomunitas hingga bernegara. Tapi, harus ada penegasan bahwa pembentukan pemerintahan tidak hanya berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan praktis duniawi, melainkan harus menjadi jembatan bagi kehidupan setelah kematian, (Iqbal & Nasution, “Pemikiran Politik Islam” Jakarta, 2013: 28).

Baca: Krisis Politik karena Krisis Ulama

Bagi Al-Gazali, keberadaan seorang pemimpin atau politikus tidak hanya dipilih berdasarkan rasio dan pertimbangan keduniaan melainkan harus lebih dominan dari pertimbangan akhirat, sebab kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat tidak akan dicapai tanpa penghayatan dan pengamalan agama secara benar.

Di sini, Al-Gazali menilai bahwa politik (negara) menempati posisi yang sangat penting dan strategis, hanya berada setingkat di bawah kenabian.

Kecuali itu, para ulama dan cerdik pandai juga menjadi bagian penting dalam memajukan sebuah bangsa. Sebab, dari mereka penelitian yang melahirkan teori berasal, lalu teori-teori itu diaplikasikan oleh para politikus. Para ulama adalah penasihat para pemimpin, jika salah memberikan nasihat akan berakibat fatal bagi umat, dan pemimpin serta politisi harus menjadikan ulama sebagai pijakan dalam kebijakan.

Sesungguhnya kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan pemimpinnya, dan kerusakan pemimpin disebabkan kerusakan para ulama. Kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan jabatan. Siapa yang dikuasai ambisi duniawi maka ia tidak mampu mengurus rakyat kecil, begitu pesan Al-Gazali dalam “Ihya’ Ulumuddin, II/381”.

Baca: Deislamisasi Politik

Posisi politikus memang mulia jika berada pada jalur yang benar, satu tingkat di bawah Nabi. Sebab, Nabi diutus untuk memberikan penjelasan kepada manusia tentang petunjuk Allah dan dalil-dalil beribadah. Ada kabar gembira (basyir) ada pula peringatan (nadzir), serta perintah mengenal Allah dan syariat agama. Ada pun politisi, bagi Al-Gazali golongan ini mulia karena mereka menjaga umat manusia dari sikap permusuhan antarsesama. Kemaslahatan umat manusia di bumi ini sangat tergantung dengan kebijakan dan sikap para politisi.

Terang, bahwa para politikus yang berambisi merebut dan atau sedang mempertahankan kekuasaan mereka jika benar-benar amanah, memerintah sesuai kehendak agama dan undang-undang adalah sarana untuk menduduki maqam yang mulia di sisi Allah, dunia dan akhirat.

Sebaliknya, jika jabatan diraih dengan cara yang salah, membuat kebijakan yang tidak bijak, merugikan umat dan rakyat. Bahkan lebih celaka lagi jika menjadi pemantik api permusuhan. Maka, cerdas berpolitik adalah solusi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Wallahu A’lam!

Alumni Pondok Psesantren Darul-Huffadh Tuju-Tuju, Bone

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BerpolitikImam Al GhazaliIslam dan politikNegaraOrdeorde reformasipartai Islampartai politikpemimpin MuslimpolitikSoeharto
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Delegasi Indonesia Usulkan Pembelaan Terhadap Rohingya dalam Sidang IPU
Tulisan selanjutnya Gubernur-Wagub Jakarta Dilantik, Anies Janjikan Keadilan bagi Semua

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?

Berita
27 Agustus 2026 11:44
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
600 Aktivis Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi Dai MUI

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?