Oleh: Amran Nasution
Dalam tulisan pertama dijelaskan bagaimana pemikir dan politisi Islam Pakistan terkemuka Muhammad Ali Jinnah, mendapat dukungan Presiden Reagen mensupport pejuang mujahiddin untuk menyingkirkan pasukan Soviet
Habis Manis Sepah Dibuang
Sampai di sini, Zia Ul Haq mau pun sekutunya Usamah Bin Ladin mulai beda pendapat dengan Presiden Reagan. Bagi Zia, kekalahan Uni Soviet merupakan peluang untuk mendirikan pemerintahan Islam Afghanistan yang berada di bawah pengaruhnya. Karenanya saat Uni Soviet sibuk menarik pasukannya, Zia dengan badan intelijennya, ISI, sibuk pula mempersiapkan pemerintahan baru di sana.
Tapi bagi Reagan atau wakilnya Bush, Pakistan yang kuat di bawah Zia yang Islam puritan akan menjadi ancaman baru, apalagi kalau dia menguasai Afghanistan. Padahal tak sedikit pengamat berpendapat bahwa kekalahan di Afghanistan menjadi penyebab terpenting ambruknya kelak imperium Uni Soviet. Itu pula yang menyebabkan Amerika sekarang menjadi satu-satunya super power dunia, sebagai pemenang perang dingin. Jadi sebenarnya kalau mau disederhanakan: kekuasaan super power tunggal yang kini dimiliki Amerika Serikat, adalah berkat darah dan keringat Zia, Usamah bin Ladin, dan 80.000-an pejuang jihad global dari seluruh dunia.
Namun selama ini, Amerika memang sudah terkenal dalam mentrapkan pepatah habis manis, sepah dibuang. Lihat saja nasib semua ‘’kawan’’ Amerika, mulai dari Shah Iran (Iran), Ferdinand Marcos (Filipina), Soeharto (Indonesia), Manuel Noriega (Panama), Augusto Pinochet (Chili), dan banyak lagi yang lain, di ujung kekuasaannya mengalami nasib tragis.
Tapi nasib Zia agaknya yang paling tragis. Pada 17 Agustus 1988, dia baru saja meninjau uji coba tank dari Amerika, Abrams M1, di dekat Bawahalpur. Pesawat khusus C-130 — dengan sistem pengamanan canggih — yang membawanya pulang ke Islamabad baru saja mengudara, kemudian jatuh berkeping-keping di kawasan padang pasir. Konon sebuah granat gas meledak di kokpit menyebabkan pilot kehilangan kesadaran dalam mengendalikan pesawat.
Banyak spekulasi atas kematiannya. Mulai pembalasan agen spionase Uni Soviet, Israel, atau India. Ada juga teori balas dendam Benazir Bhutto, yang kemudian menggantikan Zia. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, dihukum gantung oleh Zia. Tapi kebanyakan orang Pakistan sendiri lebih percaya tragedi itu adalah hasil kerja CIA karena Amerika sudah tak butuh Zia, atau malah ia akan merepotkan.
Nasib malang Zia adalah juga nasib malang Pakistan. Sejak awal berdiri, negeri itu sudah bersimbah darah. The founding father Muhammad Ali Jinnah pada awalnya tak bercita-cita mendirikan negeri sendiri, karena memang Pakistan dan India adalah satu wilayah jajahan Inggris. Tapi waktu itu, konflik sektarian berkembang. Penduduk Islam di anak benua India itu minoritas, dan terus-terusan terancam oleh penduduk Hindu yang mayoritas. Akhirnya di tengah konflik, Jinnah memutuskan mendirikan Pakistan. Ditaksir hampir satu juta manusia terbunuh dalam berbagai kerusuhan menjelang dan saat Pakistan memisahkan diri dari India.
Sejak itu pula kedua negeri tak pernah akur. Sampai sekarang keduanya sudah tiga kali terlibat perang. Apalagi ada klaim Pakistan terhadap daerah pariwisata Kashmir yang diduduki India. Situasi itu menyebabkan Pakistan yang kecil tak pernah merasa aman menghadapi ancaman tetangganya yang besar. Maka yang dilakukan negeri ini adalah membangun angkatan bersenjata yang kuat, lalu mencari sekutu yang bisa diandalkan, dalam hal ini Amerika Serikat.
Washington jelas seakan orang mengantuk dapat bantal. Mereka butuh Pakistan untuk menghadapi musuh besarnya dalam Perang Dingin, Uni Soviet. Belakangan Pakistan akan dibutuhkan untuk mengontrol India, calon negeri super power itu. Sekarang Pakistan diperlukan sebagai pintu untuk menjepit para pejuang Taliban di perbatasan Afghanistan.
Jadi menganalisis Pakistan, sebenarnya, akan lebih banyak berbicara tentang ancaman tetangganya India, peran militernya sendiri, serta kepentingan Amerika Serikat. Tapi terutama faktor terakhirlah yang paling dominan. Maka adalah sangat menyederhanakan masalah – kalau tak mau disebut ngawur – ketika bekas Ketua Umum Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menyalahkan Pakistan yang berantakan sekarang, karena ia menjadi negara Islam (lihat Musharraf dan Dilema Republik Islam. Republika, 31 Juli 2007).
Pecandu Berat Wishky
Sesungguhnya Pakistan mirip dengan beberapa negara Amerika Latin, ketika Amerika Serikat punya kepentingan di sana. Kudeta militer silih berganti. Semua jenderal yang bikin kudeta minta restu Washington. Restu itu segera datang, biasanya disertai guyuran dollar.
Militer memang institusi terpenting di Pakistan, negeri miskin dengan tingkat buta huruf yang tinggi, sebagaimana halnya negeri-negeri bekas jajahan Barat lainnya. Institusi birokrasi berada di bawah pengaruh militer karena banyak digerogoti korupsi. Sedang partai politik sangat lemah, terpecah, praktis baru dibangun setelah kemerdekaan. Mereka sangat tergantung kepada satu-dua keluarga terhormat di sana – semisal keluarga Bhutto atau Sharif – untuk memimpin partai. Karenanya dari dulu sampai sekarang, Amerika selalu mendekati pimpinan militer.
Lihat saja perilaku Jenderal Ayub Khan ketika melakukan kudeta, Oktober 1958. Dalam rapat kabinet pertama dia berpidato, ’’Untuk kamu ketahui, di sini cuma ada satu Kedutaan Besar, yaitu Kedutaan Besar Amerika Serikat.’’ Semua Menterinya mengangguk-angguk. Mereka faham sang Jenderal melarang mereka berhubungan dengan Kedutaan Besar mana pun, kecuali Amerika.
Kenapa Amerika ingin kudeta dilakukan? Seperti ditulis Tariq Ali, intelektual dan aktivis Pakistan, di dalam esei ’’The General in His Labyrinth’’ (London Review of Books, Januari 2007), Amerika dan Inggris khawatir kalau Pemilu yang akan dilaksanakan pertama kali setelah negeri itu merdeka, akan menghasilkan pemerintahan koalisi yang menjauhkan Pakistan dari blok Barat. Dalam pidato radionya, Jenderal Ayub bilang, demokrasi hanya cocok untuk negeri beriklim dingin seperti Inggris. ’’Demokrasi tak akan berjalan di negeri kita yang panas,’’ katanya. Maka semua partai politik dilarang, pers lokal dikendalikan tentara. Pers Barat bebas beredar, tapi semua memuja-muji Jenderal itu karena ia menerbitkan buku biografi dalam bahasa Inggris. Padahal penduduknya saja 70% buta huruf dan yang bisa berbahasa Inggris cuma segelintir.
Akhirnya, setelah berkuasa 11 tahun, perlawanan rakyat menyulitkan Ayub. Karena itu, Maret 1969, ia mundur dan menyerahkan jabatan kepada Jenderal yang lain, Yahya Khan. Untuk diketahui, jenderal yang satu ini pecandu berat whisky, arak Amerika itu. Kerjanya minum melulu, bagaimana bisa dibilang Pakistan itu negara Islam? Di bawah Yahya pada 1971, Pakistan kalah perang lawan India dengan sangat memalukan. Sekitar 90.000 tentaranya ditawan. Itu mengakibatkan provinsinya, Pakistan Timur, memerdekakan diri dengan nama Bangla Desh.
Jadi bila Pakistan disebut negara Islam, ya itu tadi, ketika di bawah Zia Ul Haq, 1977 – 1988. Jenderal ini juga naik ke kekuasaan dengan kudeta dan Islamisasi itu kemudian dimanfaatkan Amerika untuk mengusir tentara Uni Soviet dari Afghanistan. Lalu semua peninggalan ’’Islam’’ Jenderal Zia, belakangan dikikis oleh Jenderal Pervez Musharraf. Dan itu dilakukannya atas arahan Pemerintah Bush, demi perang melawan teror. Jenderal ini naik ke kuasaan pada 1999, dengan mengkudeta pemerintah sipil Nawaz Sharif, pimpinan Partai Liga Muslim Pakistan (Pakistan Muslim League Party), pemenang Pemilu.
Limo Hadiah Amerika
Setelah Menara Kembar WTC di New York dirubuhkan oleh serangan teroris 11 September 2001, tak sampai sebulan kemudian, Bush memproklamirkan perang melawan teror, war on terror. Lalu Afghanistan diserbu dan diduduki, dengan dalih negeri itu menyembunyikan Usamah Bin Ladin, tertuduh pimpinan teroris yang menyerang WTC. Maka Pakistan pun menjadi penting. Soalnya, kelompok Taliban yang berkuasa di Afghanistan, sebenarnya direkayasa dari Pakistan. Mullah Omar, pemimpin puncak Taliban, punya hubungan dekat dengan kalangan Islam, kelompok militer, dan terutama intelijen Pakistan (ISI). Merekalah yang mengantarkan Mullah Omar dan kelompok Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan.
Setelah serangan 11 September, Jenderal Mahmood Ahmed, Kepala Intelijen Pakistan, ISI, masih sempat pergi ke Amerika, mencoba meyakinkan Pentagon – Departemen Pertahanan Amerika – bahwa Mullah Omar adalah orang baik. Dia bisa diyakinkan untuk menyerahkan Usamah Bin Ladin, yang menurut intelijen Amerika bersembunyi di Afghanistan. Ternyata Bush tak peduli. Ia rupanya sudah bertekad menghabisi semua ’’teman-teman’’ Presiden Reagan dulu, yang kini dijulukinya sebagai Islamo Fascism (Fasisme Islam). Yaitu, Usamah Bin Ladin dan Al-Qaidah, Taliban, serta semua gerakan Islam fundamentalis, termasuk kelompok Islam yang ada di Pakistan, yang tak sejalan dengan kepentingan politik Presiden Bush.
Di dalam buku biografinya, In the Line of Fire, terbit akhir tahun lalu, Presiden Musharraf mengungkapkan, ia ikut dalam perang melawan teror setelah diancam Richard Armitage, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Armitage mengatakan, Pakistan tinggal pilih: ikut Amerika atau jadi musuh Amerika. Pilih yang terakhir, Amerika akan membom Pakistan sampai kembali ke zaman batu. Tapi di dalam eseinya, Tariq Ali meragukan Musharraf ikut war on terror sebab takut ancaman bom Armitage. Memang kenyataannya menguasai negeri terbelakang seperti Afghanistan saja – nyaris 90% penduduknya buta huruf — sampai sekarang tentara Amerika dan NATO kerepotan. Apalagi kalau sekalian menyerang Pakistan yang kekuatan militernya tak bisa diremehkan, selain punya bom nuklir lagi. ’’Yang sesungguhnya ditakutkan Musharraf, ’’ tulisnya, ’’kalau Amerika menggunakan India untuk menghadapi Pakistan.’’ Memang di situlah titik lemah Pakistan.
Singkat cerita, Musharraf segera menjadi alat utama war on terror. Para ahli strategi perang dan intel Amerika merencanakan serangan ke Afghanistan atau mengobrak-abrik jaringan Al-Qaidah, dari Markas Besar Militer Pakistan di Rawalpindi, 17 km dari ibukota Islamabad. Musharraf sendiri meski punya Istana Kepresidenan di Ibu Kota, menetap di Rawalpindi, mendiami rumah di kompleks tentara yang dulu dipakainya saat menjabat Kepala Staf Militer Pakistan, sebelum ia melancarkan kudeta.
Kerjasama dengan Musharraf segera berbuah hasil. Sejumlah aktivis penting Al-Qaidah berhasil ditangkap atau dibunuh intel Amerika bersama aparat Pakistan: Abu Zubaydah (2002), Ramzi bin al-Shibh (2002), Khalid Sheik Mohammad (2003), Muhammad Naeem Noor Khan (2004), dan Abu Faraj al-Libbi (2005). Beberapa di antara mereka masih ditahan di Penjara Guantanamo.
Dollar pun mengalir deras, terutama dalam bentuk bantuan militer. Seperti ditulis Daniel Markey dari Council of Foreign Relations di dalam jurnal Foreign Affairs Juli/Agustus 2007, sejak serangan 11 September 2001, sampai sekarang, setidaknya Amerika telah memberi bantuan kepada Pakistan 10 milyar dollar.
’’Dihitung dengan bantuan tertutup, jumlah itu bisa jauh lebih besar,’’ tulis Markey. Berbagai lembaga bantuan multi-lateral seperti Bank Dunia dan IMF didorong untuk menolong ekonomi Pakistan. Amerika juga melobi India sehingga berbaik-baik dengan Pakistan.
Maka investasi asing pun datang dan ekonominya membaik. Negeri berpenduduk 165 juta itu dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan ekonomi 6-7%/tahun. Lebih 41% penduduk dewasa sudah melek huruf. Pengangguran tinggal 6,6%, ditambah 23% penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tentu yang paling menikmati pertumbuhan ekonomi ini adalah kalangan militer yang berkuasa.
Tapi seperti ditulis Tariq Ali, sebagai alat utama war on terror, Musharraf begitu banyak membunuh rakyatnya sendiri, terutama para politisi dan aktivis Islam. Dari berbagai laporan lembaga HAM internasional, tahun 2006 saja ditaksir 400 aktivis telah hilang atau mati. Di Provinsi Baluchistan yang bergolak – daerah kaya yang ditelantarkan Musharraf – sudah 1200 orang terbunuh. Sebagai balasan, sampai sekarang Musharraf sudah tiga kali mengalami percobaan pembunuhan dengan bom. Salah satu di antaranya, menjelang Natal Desember 2003, yang nyaris membunuhnya. Dua pengebom bunuh diri menabrakkan mobil penuh bahan peledak ke mobilnya. Supirnya tewas, tapi Musharraf selamat. Mobil Limo Kepresidenan itu berlapis baja, dilengkapi radar dan peralatan anti-bom, hadiah dari Amerika.
Komplotan pembunuh segera terbongkar, mereka dari kelompok Islam. Pemimpinnya, Amjad Farooqi, ditembak mati oleh tentara. Yang menarik, beberapa opsir muda terlibat dalam konspirasi ini. Mereka semuanya diadili diam-diam oleh Mahkamah Militer, lalu digantung. Memang di dalam negeri, musuh Musharraf bukan cuma kalangan Islam, juga tentara, terutama dari grup intelijen ISI. Soalnya, seperti sudah disebutkan tadi, sejak pemerintahan Zia Ul Haq, kalangan Islam dan tentara, terutama ISI, selalu bekerja sama dan akrab. Tak terlalu gampang Musharraf tiba-tiba membaliknya begitu saja, mengubah relasi itu menjadi permusuhan.
Menurut Daniel Markey, hanya dengan bantuan Amerika kepada militer yang bisa membuat kelompok tentara penentang Musharraf dieleminir, dan kelompok pendukungnya diperkuat. Bantuan itu, selain uang 1 milyar dollar/tahun untuk war on terror, juga pengiriman 36 jet tempur F-16, yang masih menunggu izin Kongres Amerika. Dalam paket itu termasuk di dalamnya sistem persenjataan super-canggih. Selain itu sejak terlibat war on terror, sudah sekitar 1000 tentara Pakistan terbunuh oleh kelompok militan Islam di provinsi perbatasan yang dikuasai para Kepala Suku, FATA (Federally Administered Tribal Areas). Itu menurut Markey, menimbulkan biang permusuhan dua sahabat, tentara dan kelompok Islam. [berlanjut bagian ketiga/hidayatullah.com]
* Penulis adalah mantan Redaktur TEMPO dan GATRA. Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta