Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Politisasi Ilmu Psikologi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Februari 2018 14:07 2:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Februari 2018 14:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Bagus Riyono

 

ILMU Psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia. Dalam rumpun ilmu sosial, ilmu psikologi termasuk ilmu dasar. Artinya ilmu sosial yang lain akan sangat dipengaruhi oleh ilmu psikologi. Posisi ini menjadikan ilmu psikologi sebagai ilmu yang sangat penting.

Di kalangan masyarakat awam, apa yang dikatakan ilmu psikologi dianggap sebagai kebenaran. Oleh karena itu ilmu psikologi juga menjadi ilmu yang berbahaya karena pengaruhnya yang sangat kuat. Menyadari hal itu para ilmuwan psikologi mengusahakan untuk setia pada prinsip prinsip ilmiah dalam mengambil kesimpulan. Komitmen ini desebut sebagai “Leona Tyler Principle”.

Leona Tyler adalah presiden dari American Psychological Association (APA) pada tahun 1973. APA  adalah organisasi profesi yang memiliki otoritas untuk mempublikasikan dan menentukan standard keilmuan di bidang psikologi. Sebagai presiden APA, Leona Tyler sadar bahwa ilmu psikologi harus dijaga objektivitasnya supaya tidak menyesatkan. Oleh karena itu dia menginisiasi sebuah komitmen dalam APA untuk tidak mempublikasikan sebuah standar keilmuan sebelum teruji dengan kuat melalui prinsip-prinsip ilmiah. Aturan ini kemudian disebut sebagai “Leona Tyler Principle”.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Prinsip ini terus ditegakkan dalam APA sampai pada tahun 1979, ketika jabatan President APA dipegang oleh Nicholas A. Cummings, PhD.

Dr. Cumming menyaksikan perubahan trend di APA pada era 1970-an tersebut. Dia mengatakan bahwa pada waktu itu muncul gerakan feminisme (woman rights movement) yang mulai masuk dan mempengaruhi APA. Gerakan feminisme ini kemudian menjelma menjadi gerakan mendukung homoseksual (gay rights movement).

“Sulit membedakan antara gerakan pembela perempuan dan derakan pembela homoseksual ini karena orang-orangnya sama”, demikian kesaksian Dr. Cumming. Semakin banyaknya psikolog yang homoseks dalam tubuh APA menyebabkan perkembangan wacana yang mengarah pada topic homoseksual.

Baca: Lima Dari Tujuh Orang Tim Pembuat DSM Adalah Homo dan Lesbian

Pada waktu itu homoseksual masuk ke dalam klasifikasi abnormalitas (Mental Illness). Kelompok pembela homoseksual dalam tubuh APA ini kemudian mengusulkan sebuah resolusi melalui Dewan Pakar APA (APA Council) untuk mengambangkan status abnormalitas ini dengan janji akan dilakukan penelitian ilmiah untuk nantinya memutuskan apakah homoseksual itu normal atau abnormal. Keputusan diambil dengan suara terbanyak (voting) dan Dewan Pakar APA menyetujui untuk mengeluarkan resolusi tersebut.

Kesaksian Dr. Cumming mengatakan bahwa setelah itu tidak ada penelitian ilmiah tentang homoseksual seperti yang sudah disepakati bersama. “Leona Tyler Principle” sudah tidak dipakai lagi, walaupun tidak ada pencabutan prinsip itu secara resmi. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi Dr. Cumming. Belakangan diketahui bahwa para pimpinan APA sebagian besar adalah homoseksual, baik homoseksual maupun lesbian. Akhirnya Dr. Cumming, seorang ilmuwan senior mantan Presiden APA, didepak dari APA karena tidak sejalan dengan mayoritas. Dr. Cumming kemudian mendirikan NARTH (National Association for Research & Therapy of Homosexuality) dengan menegakkan kembali “Leona Tyler Principle”. Namun demikian sebagai organisasi baru NARTH belum bisa menyaingi APA yang sudah menjadi organisasi “raksasa” yang telah menguasai keilmuan psikologi dunia, termasuk Indonesia.

Belakangan APA melakukan penelitian-penelitian yang mendukung kelompok homoseksual. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh kelompok homoseksual ini bertujuan untuk melegalkan homoseksualitas sebagai sesuatu yang normal. Penelitian-penelitian tersebut tidak mengikuti kaideh-kaidah ilmiah dan bias kepentingan. Namun publikasi penelitian-penelitian pro-homoseksual ini didukung media masa liberal.  APA sudah menjadi organisasi politik untuk kepentingan kaum homoseksual. Pada tahun 2015 gerakan pendukung homoseksual ini berhasil meloloskan legalisasi pernikahan sejenis dalam Mahkamah Agung Amerika melalui voting, dengan 5 hakim dukung homoseks dan 4 hakim menolak.

Dengan bekal legalitas tersebut kelompok pendukung homoseksual semakin merajalela. Mereka juga menguasai American Psychiatric Association (APA) – yang kemudian disebut sebagai “little APA”.

Pada 8 Maret 2016 “little APA” ini menegur Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), hanya karena ada psikiater Indonesia yang mengatakan bahwa homoseksual dapat disembuhkan. Surat teguran ini menunjukkan sikap arogan “little APA” yang didasarkan atas argumen yang secara ilmiah tidak valid.

Baca: Psikolog: Banyak Orang Tak Tahu Sejarah Dihapusnya Homoseksual dari DSM

Penelitian-penelitian ilmiah yang objektif telah membuktikan bahwa homoseksual adalah sebuah kecenderungan yang dapat disembuhkan. Spitzer (2003) melaporkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 200 penderita homoseksual dapat dikembalikan menjadi heteroseksual.

Para peneliti pro homoseksual juga mengklaim bahwa homoseksual adalah bawaan lahir. Sebagian mengklaim bahwa ada gen homoseksual dan sebagian mengklaim bahwa kaum homo memiliki bentuk otak yang berbeda. Klaim-klaim tersbut telah terbantahkan secara ilmiah.  Dr. Joseph Davis (2015) menyampaikan bahwa dia menemukan 26 jurnal ilmiah yang menunjukkan data bahwa homoseksual disebabkan oleh banyak faktor dan kebanyakan adalah faktor sosial seperti pola asuh dan pergaulan.

Dr. Joseph Davis juga mengatakan bahwa klaim terhadap adanya gen homoseksual juga tidak valid karena penelitian terhadap kembar identik menunjukkan bahwa tidak ada kepastian bahwa jika salah satu homoseksual berarti saudara kembarnya juga homoseksual. Sedang penelitian mengenai otak dilakukan pada para homoseksual penderita HIV dibanding orang sehat yang bukan homoseksual. Perbedaan otak antara dua kelompok tersebut bisa disebabkan karena virus HIV yang merusak otak, bukan bentuk otak sejak lahir.

Politisasi yang telah terjadi dalam ilmu psikologi ini perlu diwaspadai oleh ilmuwan, terutama ilmuwan psikologi di  Indonesia, karena tanggungjawab kepada masyarakat menuntut para ilmuwan psikologi dan psikiatri untuk menjaga prinsip-prinsip ilmiah. Di samping itu gerakan pendukung homoseksual ini telah menjadi ancaman bagi bangsa dan negara Indonesia baik secara kesehatan, kemasyarakatan, moralitas maupun pertahanan dan keamanan negara.

Masyarakat bersama pemerintah harus bekerjasama di segala bidang untuk mencegah dampak buruk politisasi ilmu psikologi ini terhadap generasi masa depan bangsa.  Penyadaran, pencerahan, dan pencerdasan kehidupan bangsa Indonesia harus dilakukan di segala lini, yaitu hukum, pendidikan, parenting, terapi dan rehabilitasi, dan bahkan politik.*

Penulis adalah psikolog dan pengajar di Universitas Gadjah Mada

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:abnormalitasAmerican Psychological AssociationAPAfeminismhomoseksualIlmu Psikologilgbtperilaku manusiapolitisasipsikologpsikologi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pendidikan Al-Qur’an dan Penyelamatan Remaja Muslim
Tulisan selanjutnya jokowi lantik dewas bpjs Luhut: Jokowi Minta Sejumlah Bandara Diserahkan ke Swasta

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?