Oleh: Ekky al-Malaky*
Bulan Ramadhan dan tayangan program Islam ibarat cahaya dan laron. Seperti biasa, di bulan suci ini televisi, radio, dan mal dibanjiri oleh acara yang bernuansa Islam (selanjutnya ditulis islami). Video klip islami bermunculan, kebanyakan dibintangi wajah baru dan selebriti yang sebelumnya jarang menyanyikan lagu religius.
Sinetron menjadi religius, misalnya sinetron Hikmah (dibintangi Tamara Blezynski), Adam dan Hawa (dibintangi Marshanda), bahkan sinetron komedi Bajaj Bajuri pun ada versi Ramadhan. Pemirsa minat, pengiklan juga terpikat. Tetapi, selepas Ramadhan tayangan semacam itu menghilang. Apa yang salah?
Sesungguhnya, banjirnya program islami di televisi sungguh menggembirakan. Para selebriti turut menyemarakkan sinetron, diskusi, talk show, dan variety show yang religius. Stasiun televisi pun berlomba-lomba menyajikan dakwah dengan berbagai kemasan. Ini berarti masyarakat yang diuntungkan, karena mendapat banyak pencerahan.
Namun sejatinya program di televisi adalah masalah profit-oriented. Bulan puasa, bulan menaiknya gairah keberislaman ummat, adalah pasar yang sangat menggiurkan insan pertelevisian—mulai dari selebriti, rumah produksi, hingga stasiun televisi sendiri.
Bisnis di televisi memang super mahal. Kalau bermodalkan semangat dakwah semata, tentu berisiko besar. Dibutuhkan program yang menjual, yang secara mutu bisa disandingkan dengan tayangan sejenis. Tidak hanya mendatangkan iklan, tetapi juga ditonton sebanyak mungkin orang—alias memuaskan selera pasar sekaligus pengiklan—yang dibuktikan dengan rating.
Lesunya program islami selama ini, boleh jadi karena banyak pihak yang tidak percaya kalau program semacam ini laku dijual di luar bulan Ramadhan. Maka, yang pertama kali harus direnungkan adalah: Kita butuh pejuang Islam yang serius dan fokus di bidang broadcasting (penyiaran). Mulai dari segi kreativitas meracik program, memproduksi sebuah acara, mencari biaya operasional, hingga menggolkannya ke stasiun televisi dan–ini tantangannya—agar ditempatkan di jam tayang utama (prime time). Termasuk orang yang mengerti betul masalah teknis yang berhubungan dengan blocking time, menghitung rating, mengoperasikan kamera dan sound system, hingga mempunyai jaringan sebanyak mungkin dengan selebriti dan publik figur untuk pemanis dan “pemancing pemasukan”.
Nazrey Johani—vokalis utama tim nasyid Raihan–saat bertemu penulis menyatakan, hal ini perlu momentum. Salah satu momentum yang kini bisa kita saksikan adalah acara Nasyid Tausyiah dan Qiro’ah (NTQ) yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta. Ini merupakan ajang penjaringan bakat seperti halnya Indonesian Idol dan Akademi Fantasi Indosiar. “Orang-orang akan sadar tentang potensi nasyid setelah NTQ. Mereka akan melihat dari jumlah sms yang datang. Boleh jadi akan ada jutaan sms. Itu akan membuktikan kalau nasyid akan diterima banyak orang,” jelasnya bersemangat.
Orang yang fokus di bidang pertelevisian ini bisa berwujud berbagai profesi. Mulai dari personal kamera, tim kreatif, penulis naskah, hingga produser. Orang-orang ini bisa berada di banyak tempat, mulai dari orang dalam stasiun televisi swasta hingga pemilik rumah produksi. Yang terakhir itu, ide “rumah produksi islami’, menjadi penting, kalau kita tidak mau lagi bergantung dengan rumah produksi sekuler semacam Multivision Plus atau Sinemart.
Upaya dakwah di bidang ini sebenarnya pernah dirintis, misalnya oleh Chairul Umam yang menggarap FTV Ramadhan dan sinetron Jalan Lain ke Sana. Juga dilakukan Forum Lingkar Pena yang dimotori Asma Nadia, yang menggarap Cerita Matahariku. Sementara MQTV memproduksi Keluarga Senyum yang ditayangkan oleh sebuah televisi swasta.
Dari “orang dalam”, ada Gola Gong (RCTI) yang menghasilkan Kampung Ramadhan untuk sahur tahun lalu–yang melibatkan penulis Fahri Asiza dan Benny Rhamdhany. Gola Gong juga membuat cerita untuk sinetron yang islami tapi dikemas dengan “biasa” seperti LUV dan Anak Gudang.
Jadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, yakinkan bahwa program islami juga layak jual. Tidak sekadar meyakinkan, harus dibuktikan. Tentu hal ini bisa terjadi kalau ada contoh program yang telah terbukti sukses.
Kedua, harus ada orang yang benar-benar mendalami bidang penyiaran dan pertelevisian. Orang-orang ini yang “menyusup” ke dalam industri televisi sekarang. Bisa juga dengan menumbuhkembangkan rumah produksi yang memang mempunyai visi dan misi keislaman. Jangan sekadar bertindak sebagai wasit atau penonton yang protes—walau itu juga diperlukan—tetapi langsung terjun dalam perubahan. Tentu saja, orang ini harus tahu fiqhud da’wah yang tidak hanya mementingkan isi, tetapi juga estetika dan sisi hiburan serta nilai komersialnya. Boleh jadi, ada sinetron yang kental keislamannya, misalnya, tapi di lain waktu ada talk show yang secara universal mengajak pada kebaikan.
Ketiga, dekati orang-orang yang terkait dengan industri hiburan, khususnya televisi. Dengan demikian, bisa lebih memperlancar upaya menanamkan keyakinan bahwa program islami juga laku dijual. Orang-orang ini harus tetap profesional dan harus bisa beradaptasi dengan sistem yang telah terlebih dulu tercipta, misalnya dengan gaya “kejar tayang” atau “cerita pesanan”.
Keempat, berlatih dan terus berlatih agar menjadi yang terbaik dan mampu bersaing dengan pihak yang sudah lebih dulu terjun ke dunia ini. Latihan menulis, dan memproduksi. Dalam bidang penulisan, tujuannya agar tidak hanya menjadi tukang, tetapi menjadi penulis skenario yang sesungguhnya, dengan mutu yang terjaga. ”Penulis lebih dari sekadar tukang. Dia mengerti teknis bagaimana bercerita melalui skenario. Ada teknik tertentu dan imajinasi visual,” kata Chairul Umam.
Terakhir, di samping berdoa, teruslah mencoba dan mencoba. Dengan begitu, kelak akan lahir program yang kental nilai dakwah, kaya dengan nilai komersial, diminati pengiklan, dan digandrungi pasar. Dan itu bisa tetap tertayang dengan sukses di luar bulan Ramadhan.
*Penulis adalah pengamat budaya pop dan Islam