Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
OpiniTsaqafah

Hari Pahlawan dan Problem Keteladanan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Desember 2022 13:42 1:42 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 November 2022 19:00
Bagikan
Para ulama dari berbagai ormas Islam adalah para perancang persiapan kemerdekaan NKRI
Bagikan

Memperingati Hari Pahlawan tak cukup menyebarkan flyer dan baliho “Pahlawanku, Teladanku”, tapi perlu keteladanan para pemimpin negeri ini

Oleh: Qosim Nurseha Dzulhadi

Hidayatullah.com | KAMIS, 10 November 2022, saya berkesempatan mengisi satu agenda penting yang dihelat oleh Aliansi Ormas Islam Pembela Masjid Sumatera Utara, di Masjid al-Jihad, Jln. Abdullah Lubis, Medan. Agendanya: “Tabligh Akbar Peringatan Hari Pahlawan”.

Acara yang menarik ini diisi oleh beberapa tokoh dan ulama Sumatera Utara. Kemudian diakhiri dengan muhasabah, doa dan buka bersama.

Sebagai salah satu pembicara dalam agenda itu, penulis menyampaikan beberapa hal penting seperti mengenang kembali nama-nama para pahlawan sebelum kemerdekaan Indonesia, misalnya: Sultan Badaruddin II, Sultan Syarif Kasim, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dan banyak lagi.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Tentu saja, banyak tokoh penentang penjajah lainnya di negeri yang besar ini. Kita mengenal Teuku Umar, Teuku Cik di Tiro, Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Pattimura, dan banyak lagi.

Di sana juga ada tokoh pergerakan yang hebat, sebut saja Panglima Besar Jenderal Soedirman. Disamping banyak tokoh besar lainnya sekelas H. Samanhudi, HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, M. Natsir, Buya Hamka, dan banyak lagi.

Tentu saja, selain Cut Nyak Dien, ada Dewi Sartika dan Rasuna Said. Bahkan, umat Islam patut berbangga dengan seorang wanita penting di negeri ini yang Pondok Pesantren Putrinya “menginspirasi” Universitas Al-Azhar untuk mendirikan Kulliyyat al-Banat (Universitas lengkap dengan asrama bagi mahasiswi). Dialah Rahmah El Yunusiyah (26 Oktober 1900-26 Februari 1969), pendiri Diniyah Putri di Sumatera Barat.

Peran wanita Muslimah hebat bergelar “Syaikhah” (Syeikh Wanita) ini melebihi perjuangan wanita manapun di Indonesia, utamanya dalam bidang pendidikan Islam bagi wanita. Bahkan, “Syaikhah” dari Padang ini merupakan pelopor pembentukan unit perbekalan TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Hilangnya keteladanan

Apa yang penulis sebutkan di atas hanya segelintir dari hebatnya peran para ulama, mujahid, dan pahlawan di negeri ini. Maka, sepatutnya mereka dijadikan “teladan” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya bagi para petinggi di negeri yang besar ini.

Karena diantara problem besar yang tengah dihadapi oleh bangsa ini adalah keringnya “mata air” keteladanan.

Ghirah perjuangan dalam membela agama dan negara, misalnya, kita dapat meniru Tuanku Imam Bonjol: orang tua, guru ngaji biasa, tetapi darahnya mendidih ketika sebuah masjid dimasuki kuda penjajah.

Pangeran Diponegoro: keturunan Nabi yang sangat murka ketika syariat Islam dilecehkan. Jadi, keliru jika kita mengatakan perang yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro hanya Perang Jawa. Ini salah fatal.

Syeikh Yusuf al-Makassari al-Bantani (1626-1699): seorang sufi yang ditakuti penjajah Belanda. Sehingga, ia harus dibuang ke Ceylon, Sri Langka (1682). Bahkan, pada 1694 harus dibuang kembali ke Afrika Selatan.

Tentu tak ketinggalan, tokoh hebat dan mentor para pendiri bangsa ini: HOS Tjokroaminoto (1883-1934). Oleh Hamka dikenang hebat ketika pada 1934 tokoh utama Sarikat Islam ini mangkat. Umat kehilangan tokoh penggerak dan lokomotif umat ini.

Dalam masalah keilmuan, banyak ulama-mujahid yang menjadi teladan generasi hari ini, seperti: KH. Ahmad Dahlan, Syeikh Ahmad Sorkati, Hadratus-Syeikh Hasyim Asy’ari, A. Hassan, bahkan Buya Hamka, dan yang lainnya.

Contoh dan teladan dalam hidup sederhana dapat diambil dari Haji Agus Salim: diplomat jenaka, ulung, jenius, tetapi tidak pernah memiliki rumah pribadi. Atau, Mohammad Natsir: seorang Perdana Menteri; pengurus utama Rabithah Alam Islamiy, tetapi jasnya “bertambal”. Bahkan, Perdana Menteri ini tak mampu menghutangi seseorang yang datang ke kantornya. Padahal ia seorang Perdana Menteri.

Tentu saja kehidupan para ulama, mujahid dan pahlawan lainnya tidak kita nafikan. Ini hanya sekadar contoh. Juga, tak dapat disebutkan satu persatu karena jumlah mereka begitu banyak. Butuh ribuan lembar kertas, bahkan jutaan lebih, untuk menuliskan jejak-rekam kehidupan mereka.

Belum lagi jika disebutkan para Pahlawan pra-perjuangan kemerdekaan. Tentu, generasi ini akan dibuat menangis. Ya, menangis karena sudah banyak yang “mengkhianati” cita-cita perjuangan mereka.

Karena generasi hari ini lebih cenderung menjadi generasi “penikmat” perjuangan dan pengorbanan para Pahlawan itu. Agaknya, buku Api Sejarah karya Prof. Ahmad Mansur Suryanegara harus dibaca berulang-ulang, didakwahkan, diajarkan bahkan jadi materi wajib sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam.

Tulisan ini tentu sangat ringkas dan sederhana. Bahkan terkesan eklektik. Tetapi, ada satu poin penting yang ingin penulis tekankan, yaitu: problem keteladanan. Inilah di antara problem terbesar yang dihadapi oleh bangsa ini.

Para petingginya harus sungguh-sungguh menjadikan para pahlawan itu sebagai teladan istimewa. Karena memperingati Hari Pahlawan tak cukup hanya menyebarkan flyer dan baliho yang bunyinya: “Pahlawanku, Teladanku”. Karena biasanya, flyer ini hanya bermakna satu hari; 10 November. Padahal, keteladanan para Pahlawan harus diaplikasikan setiap saat: dalam berilmu, berjuang, dan berkorban untuk nusa, bangsa dan negara.*/Medan, Jum’at, 11 November 2022

Dosen “Islamic Worldview” di STIT Ar-Raudlatul Hasanah, mahasiswa doktoral Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hari Pahlawanketeladananpahlawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Diplomat Iran Tuding Barat Ajarkan Demonstran Membuat Bom Molotov
Tulisan selanjutnya Bicara Kinerja KPK, Ma’ruf Amin Anggap Tak Pandang Bulu dan Beri Pujian

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Berita
31 Agustus 2026 20:04
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura

Terbaru

  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Mungkin Anda Juga Suka

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
Buya Hamka
ArtikelTsaqafah

Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa

23 Maret 2026 20:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?