Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Asy’ari dan Identitas Muslim Nusantara

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Agustus 2017 17:28 5:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Agustus 2017 17:27
Bagikan
Sufi Islam Nusantara
Islam datang ke Nusantara langsung dibawa oleh para ulama-ulama dari Timur Tengah
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

KEHADIRAN Islam di bumi Nusantara berlangsung secara sistematis, terencana, dan tanpa kekuatan militer, dibawa oleh para ulama-alim yang memang membawa misi khusus menyebarkan Islam.

Berbeda dengan kedatangan agama Kristen pertama kali yang dibawa oleh kolonialis, khususnya dari Belanda. Para dai membawa misi kedamaian, bukan peperangan. Yang dibawa adalah ilmu, bukan senjata.

Sehingga, para dai pembawa Islam berhasil melakukan perubahan besar-besaran dan mendasar dalam jiwa penduduk bumi Nusantara. Perubahan yang bukan fisik semata-mata, tetapi peningkatan dalam jiwa dan alam fikir ini menjadi kekuatan Muslim Nusantara. Dalam hal ini Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas memberi catatan:

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

“Kedatangan Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia harus kita lihat sebagai mencirikan zaman baharu dalam persejarahannya, sebagai semboyan tegas membawa rasionalisme dan pengetahuan akliah serta menegaskan suatu sistem masyarakat yang berdasarkan kebebasan orang perseorang, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan”(Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, hal. 106).

Kesimpulan Prof. Al-Attas di atas penting untuk dijadikan dasar membaca sejarah Islam di Indonesia. Bahwa, penduduk bumi Nusantara sangat patut bersyukur dengan para ‘misionaris’ Muslim (meminjam istilah dari Prof. Al-Attas) itu. Merekalah yang membawa pribumi kepada zaman baru. Era tumbuh-kembangnya semangat rasionalisme sehingga menjadi bangsa yang maju dan berkepribadian mulia.

Apa dampak yang bisa disaksikan? Tiga abad lebih dijajah kolonialis Kristen. Tetapi, Islam tetaplah kekal hingga hari ini. Memang ada penurunan kejayaan di masa penjajahan dibandingkan dengan zaman kesultanan-kesultanan Islam. Tetapi, jiwa Islam tidak pernah luntur. Hal itu disebabkan pengislaman yang berangsur-angsur di bumi Nusantara itu sampai pada level struktur pandangan alam Islam (Islamic Worldview) yang menancap dalam diri Muslim Nusantara sebagai identitasnya yang asli.

Baca: Mengenal Madzab Asy’ari dan Akidah Ahlus Sunnah

Jadi, Islam yang dibawa para ‘misionaris’ Muslim adalah Islam yang asli. Dari ulama-alim yang ahli dari Timur-Tengah. Bukan Islam ‘luaran’ yang bercampur dengan kebudayaan lain. Jika pun Islam yang dibawa para penyebar agama itu tidak asli – sebagaimana dituduhkan oleh orientalis – niscaya identitas keislaman penduduk Nusantara mudah luntur, lenyap dan hilang.

Kesimpulan Prof. Al-Attas yang menyatakan kedatangan Islam membawa kepada pengetahuan aqliyah ini perlu digaris bawahi. Sehingga wujud iklim tradisi keilmuan yang melahirkan filsuf, pemikir tingkat internasional dengan karya-karya yang berbobot.

Maka patut untuk dibahas, bahwa ternyata peranan teologi Ahlussunnah wal Jama’ah (disingkat Aswaja) memainkan pernan dalam proses Islamisasi terutamanya dalam mengubah sistem pemikiran alam Melayu-Nusantara dari segi kefahaman tentang agama dan kehidupan. Khususnya pada fase kedua penyebaran Islam (baca Syed Muhammad Naquib al-Attas,Islam and Secualism, hal. 70).

Dalam hal ini para sarjana Muslim dan sejarawan menulis bahwa teologi yang berperan besar itu adalah teologi Sunni bermadzhab Asy’ariyah, mengikut imam al-Asy’ari. Mohd Farid Mohd Shahran, seorang sarjana Malaysia, dalam artikel nya berjudul Kerangka Teologi Islam di Alam Melyau: Kekuatan dan Cabaran berpendapat:

“Madzhab teologi yang mendominasi Islamisasi di alam Melayu adalah Ahlussunnah wal Jama’ah aliran Asya’irah. Aliran ini pada awalnya dipelopori oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan kemudiannya telah diteruskan oleh tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar al-Baqillani, Abu al-Ma’ali al-Juwaini, Abu Hamid al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi, Abu al-Fath al-Syahrastani, Abd Qahir al-Baghdadi, Abu Ishaq al-Isfarayini dan Muhammad Yusuf al-Sanusi. Aliran ini dicirikan dengan keutamaan dalil wahyu dalam penghujahan disamping memperkukuhnya dengan kehujahan akal dan pengambilan jalan tengah antara pendekatan ultrarasional Mu’tazilah yang mengutamakan pandangan akal dan juga pendekatan sempit sebahagian ahli Hadis yang terlalu menenkankan pendekatan tekstual” (Mohd Farid Mohd Shahran, Akidah dan Pemikiran Islam: Isu dan Cabaran, hal. 6).*>>> klik (Bersambung)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:ahlussunnah wal jamaahalam IslamASWAJAAsy’ariislamic worldviewmenyebarkan Islam Muhammad Naquib al-AttasMuslim Nusantaranusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Manuskrip Mushaf Tertua dalam Sejarah Islam Direstorasi
Tulisan selanjutnya Mahkamah Konstitusi Chile Hapus Larangan Aborsi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?

Berita
27 Agustus 2026 11:44
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

5 Januari 2023 14:30
ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?