Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra
Dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan perihal komitmen para Nabi, mereka berangkat dari ajaran yang sama yaitu ajaran tauhid yang penuh dengan kemuliaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah, dan sebaik-baik ucapan, yang aku dan para Nabi sebelumku ucapkan ialah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Tiada Tuhan kecuali Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan bagiNya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian kita mengetahui hakikat para Nabi termasuk Nabi Ibrahim, mereka sebenarnya orang yang senantiasa meng-Esakan Allah Ta’ala, berserah diri (muslim), menautkan segala urusan serta selalu memohon pertolongan hanya kepadaNya.
قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah : “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami berserah diri (muslim) kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 136)
Dalam Al Qur’an ditegaskan Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi, Nashrani dan bukan pula seperti yang diyakini pengikut Gafatar, melainkan ia seorang yang berserah diri hanya kepada Allah Ta’ala.
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim (berserah diri kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali imran: 67)
Aturan (syariat) sudah berlaku sejak dahulu, masing-masing zaman ada syariatnya, hanya teknisnya berbeda, seperti jumlah rakaat shalat, nominal zakat, prosesi berkurban, pelaku taubat mendapat kompensasi berupa vonis mati, mensakralkan kabah, membayar upah bagi buruh, tidak mencurangi orang lain dan sebagainya.
Kendati teknis berbeda, namun substansinya sama, seperti;
(1) Tidak menyembah selain Allah,
(2) Beramal sesuai dengan Sunnah Nabi
(2) Berbakti kepada kedua orangtua,
(3) Membantu kerabat, anak-anak yatim, kalangan miskin,
(4) Bertutur kata yang baik dan berlaku sopan,
(5) Tidak sombong,
(6) Menjauhi perbuatan keji dan mungkar,
(7) Menjalin ikatan pernikahan dan mensakralkannya,
(8) Membayar mahar bagi mempelai perempuan,
(9) Melaksanakan shalat
(10) Menunaikan zakat dan lain sebagainya
Isa (Yesus) merupakan Nabi terakhir yang diutus Allah Ta’ala dari kalangan Bani Israil, karena penutup para Nabi berasal dari bangsa Arab bernama Muhammad, keterangan demikian dinyatakan dengan tegas oleh Allah Ta’ala sebagai isarat bahwa tidak ada Nabi setelahnya, maka ikutilah risalah yang dibawa olehnya.
“(Muhammad) adalah Rasulullah dan penutup para Nabi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 40).
Bani Israil merupakan suku besar yang pusat perkembangannya berada di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Pelafalan Israil (hamba Allah) dinisbatkan kepada nenek moyang Nabi Isa (Yesus) yang bernama Yakub bin Ishak bin Ibrahim bin Taruhk bin Nahur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin Abir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh ‘alaihi assalam (Qashash al Anbiya. Hal. 102).
Leluhur Nabi Isa maupun para Nabi terdahulu seperti; Nabi Sulaeman, Daud, Harun, Musa, Yusuf, Yakub, Ishak, Ismail, Ibrahim, Nuh dan seterusnya. Mereka merupakan para Nabi terpandang yang mendapat kedudukan mulia di sisi Allah Ta’ala.
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلاًّ هَدَيْنَا وَنُوحاً هَدَيْنَا مِن قَبْلُ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ
وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ
وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya (Ibrahim). kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (85) Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. (86) Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat lain (pada masanya), (87) Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi-nabi dan Rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al An’am: 84-87)
Balasan kebaikan untuk Nabi Ibrahim berupa kebaikan pula, yaitu banyak keturunannya menjadi Nabi termasuk anak-anaknnya yaitu Ismail dan Ishak. Nabi Ismail merupakan cikal bakal bangsa Arab, diantara keturunannya yaitu Nabi Muhamamd, sedangkan Nabi Ishak merupakan cikal bakal Bani Israil yang banyak terlahir para Nabi diantaranya Nabi Isa (Yesus).
Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS. Al Baqarah: 124)
Beginilah Allah Ta’ala memulikan Nabi Ibrahim dan anak keturunannya dengan menjadikannya manusia-manusia terbaik yang hadir menghiasi muka bumi karena kebaikannya dan kesungguhannya menjaga agamaNya.
Dengan demikian kita bisa mengambil pelajaran berharga, bahwa sebaik-baik ajaran di muka bumi yaitu agama yang lurus, jauh dari penyimpangan dan bersih dari kemusyrikan.
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(Nya).” (QS. An Nisaa: 125)
Maka jelas dan teranglah bagi kita, apa dan bagaimana ajaran nenek moyang kita, sejelas hitam di atas putih dan seterang rembulan yang menyinari gelap malam. Tiada alasan bagi kita untuk tidak mengikuti mereka.
“Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim): “Berserah dirilah!” dia menjawab: “aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al Baqarah: 130-131)* (Bersambung)