Oleh: Mohammed Mourtaja*
Pekan ini Lebanon diguncang oleh rangkaian ledakan mematikan pada perangkat komunikasi anggota Hizbullah. Ledakan tersebut menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak dan beberapa petugas kesehatan, serta melukai ribuan lainnya.
“Israel” tidak menyangkal bertanggung jawab atas serangan siber massal ini. Beberapa pejabat yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengisyaratkan bahwa “Israel” berada di baliknya.
Ini menandai eskalasi baru dalam apa yang disebut perang atrisi antara Hizbullah dan “Israel”. Meskipun serangan itu sangat massif dan belum pernah terjadi sebelumnya, namun sebenarnya tidak mengejutkan.
Sejak berminggu-minggu, para pejabat “Israel” telah mengisyaratkan perlunya intervensi militer untuk menghentikan roket Hizbullah. Tujuannya untuk mengamankan kembalinya lebih dari 60.000 warga “Israel” yang mengungsi dari rumah mereka di wilayah utara.
Sehari sebelum serangan, Menteri Pertahanan, Yoav Gallant, mengatakan kepada pejabat Amerika bahwa “waktu hampir habis”. Eskalasi perang dengan Hizbullah harus segera diakhiri agar tidak berubah menjadi perang skala besar.
Namun provokasi “Israel” akan memaksa Hizbullah untuk merespons. Jadi, perang skala besar sangat mungkin segera terjadi.
Pada hari Kamis, “Israel” terus meningkatkan agresinya dalam pemboman besar di Lebanon selatan. Serangan udara besar-besaran di lingkungan pemukiman padat penduduk di Beirut pada hari Jumat menewaskan sedikitnya 14 orang, termasuk anak-anak, dan komandan senior Hizbullah, Ibrahim Aqil.
Tujuan Tersembunyi
Ancaman perang besar sesungguhnya akan memiliki implikasi yang jauh melampaui wilayah Lebanon. Salah satunya, akan mengalihkan perhatian dunia dari Gaza. Artinya, memungkinkan “Israel” untuk menuntaskan agenda jahat genosida terhadap warga Palestina.
Waktu terjadinya provokasi di Lebanon tampaknya telah diperhitungkan dengan cermat, karena pemerintah AS saat ini sedang dalam situasi terbatas untuk mempengaruhi “Israel” agar menghentikan perang.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, dan Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, berulang kali memperingatkan Netanyahu atas kesepakatan gencatan senjata, dan menyerukan invasi ke Lebanon. Sebulan kemudian, Smotrich menyerukan pendudukan Lebanon selatan. Sementara AS sedang fokus pada pemilu, Netanyahu memenuhi seruan Smotrich dan Ben Gvir.
Dalam perang bentuk apapun melawan Lebanon, “Israel” akan menggunakan taktik seperti di Gaza. Yakni menargetkan infrastruktur sipil, mengebom wilayah pemukiman, dan membuat penduduk kelaparan.
Perang ini niscaya akan menarik perhatian internasional yang luas karena tingginya jumlah korban sipil. Dan dunia pun akan berfokus pada Lebanon. Ketika itulah “Israel” secara licik mungkin mengejar tujuan yang lebih gelap: Pembersihan etnis di Gaza sampai sebersih-bersihnya.
Beberapa bulan belakangan, perhatian global terhadap penderitaan di Gaza juga telah berkurang. Perang di Lebanon akan membuat dunia mengalihkan perhatian yang tersisa dari Gaza. Pengalihan ini akan menjadi kedok yang sempurna bagi “Israel” untuk melanjutkan aksi genosida.
Sudah terbukti sejak awal perang, dan melalui dokumen yang bocor, bahwa “Israel” ingin mengusir warga Palestina di Gaza selamanya. Baik dengan memaksa mereka pindah ke Mesir atau membunuhnya.
Menurut pejabat kesehatan Palestina, pembersihan etnis di Gaza sejauh ini telah menewaskan lebih dari 41.000 warga Palestina. Namun sebuah studi yang diterbitkan oleh The Lancet pada bulan Juli 2023 menyebut jumlah korban tewas sebenarnya dapat mencapai sedikitnya 186.000 jiwa.
Baru-baru ini, “Israel” menunjuk gubernur militer permanen untuk Gaza. Ini menandakan adanya pendudukan jangka panjang dan bahkan aneksasi. Jika perhatian dunia pindah fokus ke Lebanon, maka jalan “Israel” untuk mewujudkan ambisi genosida akan semakin mulus.
Dunia Berhenti Berbicara
Setelah hampir satu tahun perang, warga Palestina terus berjuang untuk bertahan hidup. Dan “Israel” terus mengancam dan melakukan pemusnahan total.
Pemboman terhadap sekolah-sekolah di Gaza terus berlangsung, pekerja bantuan terus dibantai, dan pengiriman bantuan diblokade. Bulan Juni lalu jumlah truk bantuan yang memasuki Gaza mencapai rekor terendah. Dan dunia telah berhenti berbicara.
Sebelum perang, Gaza membutuhkan sekitar 500 truk bantuan per hari. Pada bulan Agustus, rata-rata truk bantuan kemanusiaan yang datang setiap hari adalah 69 truk. Penurunan bantuan secara sistematis ini bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah rencana untuk mengusir warga Palestina ke Mesir atau, jika gagal, membuat mereka kelaparan sampai mati.
Front baru di Lebanon akan membuat rencana “Israel” bisa sepenuhnya dilaksanakan di Gaza. Meskipun Lebanon harus disorot jika perang pecah, namun jangan sampai kita lengah membiarkan “Israel” leluasa melakukan genosida di Gaza.
Dunia Arab harus bersatu untuk menentang genosida di Gaza dan agresi “Israel” terhadap Lebanon. Masyarakat internasional harus turun tangan dan memberikan sanksi kepada “Israel” atas kejahatannya.
Kita tidak boleh melupakan Gaza, karena sejarah pasti tidak akan melupakannya.*
Mohammed Mourtaja adalah warga asli Gaza yang memperoleh beasiswa di jurusan Ekonomi dan Studi Timur Tengah di Washington and Lee University di Virginia, Amerika Serikat. Pernah bekerja di Jerusalem Fund di Washington DC. Tulisan ini dimuat di Middle East Eye.