Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pustaka

Inilah Metode Belajar yang Benar Menurut Ibnu Khaldun

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 3 Mei 2020 16:22 4:22 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 3 Mei 2020 16:21
Bagikan
Potret Ibnu Khaldun - (MIddle East Monitor/MEMO)
Bagikan

Hidayatullah.com | IBNU Khaldun dikenal sebagai tokoh penting dalam peradaban Islam di Abad ke-14. Beliau dikanal dengan berbagai gelar. Mulai dari peletak dasar Filsafat Sejarah, perintis Ilmu Ekonomi, Bapak Sosiologi, hingga penggagas teori politik.

Ulama bernama asli Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami lahir di Tunisia, pada 27 Mei 1332 (meninggal 19 Maret 1406 pada umur 73 tahun). Hafidz quran ini menulis Kitab Muqaddimah atau Prolegomena (bahasa Yunani) yang dikagumi kalangan Barat. Sampai-sampai Arnold J. Toynbee, seorang sejarawan Inggris mengatakan, ”Sebuah buku yang tak diragukan lagi adalah karya terbesar dari jenisnya yang belum pernah diciptakan oleh pikiran siapa pun di waktu atau tempat mana pun.”

Inilah sebagian kutipan Kitab Muqoddimah– nya, terkait metode belajar;

“Ketahuilah bahwa mentalqin ilmu kepada pelajar hanya akan bermanfaat jika dilakukan secara bertahap, yaitu satu demi satu, sedikit demi sedikit.

Awalnya, mereka diajarkan inti dari pembahasan tiap bab pada sebuah disiplin ilmu tertentu. Lalu pemahaman mereka diperdekat dengan syarah (penjelasan) secara umum. Pada tahapan ini seorang pendidik hendaknya memperhatikan kemampuan akal murid dan kesiapannya dalam menerima apa yang akan diberikan. Dan metode ini dilakukan hingga ia menuntaskan disiplin ilmu tersebut.

Tahapan selanjutnya, seorang murid kembali lagi mempelajari disiplin ilmu yang sama untuk kedua kalinya. Namun kali ini seorang guru mentalqin permasalahan yang lebih dalam dari sebelumnya. Kemudian menunaikan syarh (penjelasan) dan pemaparan secara sempurna. Lalu keluar dari penjelasan secara umum kepada permasalahan khilaf dan menjelaskan titik perbedaan antar ulama hingga ia menuntaskan disiplin ilmu tersebut. Pada tahap ini malakah (kemampuan yang mendarah daging) seorang murid akan disiplin ilmu tersebut menjadi semakin baik.

Tahapan selanjutnya, ia kembali lagi kepada disiplin ilmu yang sama, dalam keadaan telah menyempurnakan ‘kepingan-kepingan puzzle‘ tiap pembahasannya. Di sini seorang pendidik tidak meninggalkan ta’bir (redaksi) yang sulit, mubham (tidak jelas), ataupun yang ‘terkunci’ kecuali menjelaskannya dan memecahkannya. Maka ketika seorang murid telah menyelesaikan tahapan ini malakah disiplin ilmu tersebut akan menancap dalam dirinya. Inilah metode belajar yang bermanfaat!

Sebagaimana yang engkau lihat, metode ini akan tercapai dengan tiga kali pengulangan/pembelajaran. Dan bagi sebagian orang dapat dicapai lebih cepat dari pada itu, sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan dan kemudahan dari-Nya.

Aku telah menyaksikan banyak sekali para pendidik masa ini yang tidak mengetahui metode belajar dan mengajar yang benar. Mereka menjejalkan kepada murid permasalahan-permasalahan yang terkunci dan sukar sejak awal pembelajaran. Lalu menuntut murid berfikir keras untuk memecahkannya. Ia beranggapan hal itu adalah bentuk latihan dalam pembelajaran, disamping melihat itu sebagai metode yang benar. Ditambah mereka juga membebani murid untuk memperhatikan dan memahami permasalahan tadi. Imbasnya, seorang murid akan menyampurkan pembahasan-pembahasan tingkat tinggi ilmu tersebut ke dalam pembahasan dasar, bahkan sebelum ia sanggup untuk memahami inti ilmu itu. Karena sesungguhnya penerimaan ilmu dan kesiapan memahaminya tumbuh dengan bertahap.

Keadaan seorang murid pada masa awal ialah tidak mampu memahami (sebuah ilmu) secara keseluruhan kecuali hanya sedikit saja. Itupun dengan pendekatan yang mudah, penjelasan yang umum dan contoh-contoh yang indrawi. Lalu kesiapannya dalam menerima ilmu akan tumbuh sedikit demi sedikit karena perbedaan permasalahan dalam fan (disiplin ilmu), pengulangan maupun peningkatan penjelasan dari sekedar pendekatan kepada penyeluruhan. Hingga sempurnalah malakah seorang murid untuk menerima ilmu dan sempurnalah penggambaran permasalahan ilmu itu pada dirinya.

Kalau sekiranya engkau menyampaikan ujung permasalahan saat masa-masa awal belajar, ia tidak akan mampu memahaminya, belum siap untuk menerimanya, akalnya kesulitan mencernanya. Apalagi setiap ilmu juga memiliki kesulitannya sendiri. Sehingga seorang murid akan malas mempelajarinya, enggan menerima apa yang disampaikan dan berusaha untuk menghindar. Dan ini terjadi karena buruknya pengajaran!

Maka seorang guru tidak seharusnya memberikan tambahan informasi kepada murid di luar kitab yang sedang fokus dipelajari sesuai dengan kemampuannya, sesuai dengan penerimaannya akan pengajaran yang diberikan pendidik. Baik itu murid tingkat pemula ataupun lanjutan. Dan seharusnya seorang pendidik juga tidak mencampurkan permasalahan dalam suatu kitab dengan yang selainnya hingga seorang murid sanggup memahaminya dari awal kitab hingga akhir dan mencapai tujuannya. Juga sampai malakah menancap pada diri dan dengan itu ia mempelajari lainnya.

Karena sesungguhnya jika seorang murid telah memiliki malakah dalam dirinya ilmu-ilmu yang tersisa akan mudah masuk. Selain itu ia akan semakin bersemangat untuk mendapatkan informasi baru dan menaiki tingkatan di atas tingkatan yang telah ia capai hingga sampailah ia pada puncak ilmu. Akan tetapi jika informasi tentang ilmu yang berada dalam pikirannya kacau ia tidak akan faham, lemas dalam lelah, padam akalnya, putus asanya untuk belajar. Akhirnya meninggalkan ilmu dan pendidikan.

Pun tidak seharusnya bagi seorang pengajar sepertimu memperpanjang masa belajar murid terhadap suatu ilmu atau kitab dengan (banyak) memberi jeda antar majelis satu dengan majlis selanjutnya atau memutus rantai majelis (dengan meninggalkannya terlalu lama). Karena hal tersebut menyebabkan lupa dan memutus korelasi antara suatu permasalahan dalam sebuah fan ilmu dengan yang lainnya, sehingga malakah akan sulit didapatkan. Berbeda keadaannya apabila permasalahan dalam ilmu tersebut, mulai awal hingga akhir, tergambar jelas dalam benaknya. Itu akan menjauhkannya dari pada lupa, memudahkannya mendapatkan malakah. Karena sebuah malakah dihasilkan dari konsistensi dan pengulangan berkali-kali. Kalau hal itu ditinggalkan maka lenyap pula malakah yang pernah dibangun darinya. “Sungguh Allah telah mengajarkanmu sesuatu yang sebelumnya belum engkau ketahui.” (QS: Al-Baqarah : 239)

Termasuk metode yang baik dalam pengajaran ialah seseorang pendidik tidak menggabungkan dua ilmu sekaligus dalam mengajar murid. Sungguh akan sedikit murid yang mempu menguasai saah satu daripadanya. Dikarenakan terbaginya pikiran dan beralihnya pikiran dari memikirkan salah satu keduanya kepada memikirkan hal lain. Maka kedua-duanya menjadi sama-sama ‘terkunci’ dan sulit. Akhirnya ia kembali dari belajarnya dengan tangan kosong. Namun apabila ia memfokuskan pikirannya hanya pada satu jalur saja mungkin itu lebih memungkinkan baginya untuk menguasai ilmu itu. Wallahu al-muwaffiq li as-showab.” (dari Kitab Muqoddimah Ibn Khaldun, Jilid 2, hal 347).*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn MuhammadIbnu KhaldunKitab MuqaddimahMetode BelajarProlegomena
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tradisi Ulama di Bulan Ramadhan: Bertumpu Pada Tongkat Saat Shalat
Tulisan selanjutnya Warga Spanyol Sudah Bisa Keluar Rumah, Masker Diwajibkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Pustaka

Jalan Mudah Menuju Bahagia

20 Februari 2026 16:15
Pustaka

Perjuangan KH Ahmad Dahlan: Membendung Arus Gerakan Kristenisasi dan Freemasonry

23 Juni 2025 13:39
Pustaka

Cahaya Islam di Timor Timur

13 Juni 2024 16:01
ArtikelPustaka

Mengenal Aliran Teologi Syi’ah, Sebuah Pengantar

13 Januari 2024 11:32
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?