Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
ArtikelPustaka

Mengenal Aliran Teologi Syi’ah, Sebuah Pengantar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Januari 2024 06:35 6:35 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Januari 2024 11:32
Bagikan
Kaum Syiah Iran merayakan Asyuro/CNN
Bagikan

Syi’ah ideologis dianggap mematenkan konsep-konsep ideologis syi’ah, seperti; taqiyah, imamah, mut’ah, laknat pada para sahabat

Oleh:  Jemmy Ibnu Suardi, Tk. Sidi

Hidayatullah.com | SETIAP 10 Muharram dalam tradisi Syi’ah secara khusus dikenal sebagai peringatan terbunuhnya cucu Rasulullah ﷺ, sayyidina Hussain bin Ali bin Abi Thalib.

Hussain sendiri bersama kakaknya Hassan disebut oleh Rasulillah ﷺ sebagai pemimpin para pemuda di surga. Fitnah terbesar dalam sejarah dunia Islam ini merupakan konspirasi besar terhadap Hussain dalam peristiwa Karbala, sampai kini kaum Muslimin selalu berduka dan bersedih hati atas tragedi tersebut.

Namun apakah hanya Syi’ah yang berhak mendaku diri atas Hussain? Tentu saja tidak. Sayyidina Hussain bin Ali bin Abi Thalib, salah satu cucu tersayang Nabi Muhammad ﷺ, sejatinya adalah milik umat Islam secara keseluruhan.

Baca Juga

Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace

Dan seluruh umat Islam akan mengecam dan berduka atas peristiwa konspirasi jahat di Karbala ini.

Dalam hal ini, kemunculan Syi’ah sendiri menurut Syed Naquib Al Attas dalam bukunya berjudul “Bukan Sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah” dianggap sebagai sebuah ‘agama’ yang baru muncul belakangan sejak abad ke-16 masehi. (lihat Syamsuddin Arif, Bukan sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah, INSISTS.2018).

Syamsuddin Arif menjelaskan tipologi tentang aliran teologi Syi’ahini. Menurutnya ada tiga macam varian Syi’ah;

Pertama disebut Syi’ah terminologis, kedua disebut Syi’ah politis dan ketiga disebut Syi’ah ideologis. Setiap tipologi memiliki pengertian dan bentuk yang berbeda-beda, memang kita mesti jeli dalam melihat fenomena atas Syi’ahini.

Tipologi pertama adalah Syi’ah terminologis, dimana Syi’ahini merupakan Syi’ah dalam artian umum. Secara bahasa yang bermakna; kelompok, puak, pengikut, atau pembela.

Sebagai contoh; Anggap saja misalnya kita bisa menyebut Nusron Wahid yang mendukung Prabowo, maka dia layak disebut sebagai “Syi’ah Prabowo” dalam arti pembela Prabowo, atau juga boleh disebut pendukung tim sepakbola Barcelona sebagai “Syi’ah Barcelona.”

Selanjutnya tipologi yang kedua, yakni Syi’ah politis. Dalam hal ini Syi’ah dapat diartikan secara khusus, yakni sebuah kata yang digunakan untuk menyebut para sahabat yang berpihak, mendukung, dan setia berjuang bersama Sayyidina ‘Ali ketika terjadi pertikaian di antara umat Islam, selepas syahidnya Sayyidina Utsman bin Affan.

Misalnya ; Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Ayub al-Anshari, yang mendukung ‘Ali, disebut sebagai Syi’ah ‘Ali. Adapun kesyi’ahan Abdullah bin Abbas misalnya, tidak sama dengan syi’ahnya Khomeini yang mencela dan menghina para sahabat dan memiliki paham Imamah dalam hal teologis khas seorang Rafidi.

Terakhir Syiah Ideologis. Tipologi Syi’ah ini adalah Syi’ah yang memiliki ideologi tertentu, yakni Syi’ah yang memiliki makna tersendiri mencakup keyakinan (aqidah atau i’tikad), cara pandang menyeluruh (worldview), pola pikir (mindset), dan kerangka berpikir (intelectual framework) yang kemudian membentuk sikap, mempengaruhi perilaku, menentukan pemahaman, dan mewarnai penafsiran pada fakta dan peristiwa.

Ini adalah gerakan sempalan yang muncul sekitar dua ratus tahun sesudah wafatnya Rasulullah ﷺ. (Syamsuddin Arif, Bukan sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah, INSISTS. 2018. hal. 15-17).

Syi’ah ideologis ini yang kemudian mematenkan konsep-konsep ideologis syi’ah, seperti; taqiyah, imamah, mut’ah, laknat pada para sahabat dan evolusi akidah lainnya.

Syi’ah jenis terakhir ini berkembang sedemikian rupa yang akhirnya membentuk sebuah pemerintahan politik, Dinasti Syafawi di Persia yang muncul pada tahun 1501 masehi dan gencar melakukan gerakan Syi’ahisasi, dan bahkan pernah berhasil menguasai Baghdad, yang kemudian oleh Dinasti Turki Utsmani berhasil merebut kembali Baghdad, dan Syi’ah Dinasti Syafawi ditumpas oleh Utsmani.

Sejatinya Persia yang pada awalnya adalah wilayah kaum muslimin dengan mayoritas akidahnya ahlussunnah wal jamaah, lebih kurang 800 tahun dari abad ke-7 hingga akhir abad ke-15 masehi. Kemudian Persia mengalami konversi paksa menjadi Syi’ah dengan konsep dasar yang berbeda dengan ahlussunnah wal jama’ah pada umumnya.

Dalam perjalanannya, Syi’ah ideologis ini kemudian berkembang setidaknya menjadi tiga varian. Pertama Syi’ah Tafdil, kedua, Syi’ah Rafidah, ketiga Syi’ah Ghulat.

Jenis pertama Syi’ah Tafdil adalah mereka yang hanya sekedar menganggap Sayyidina Ali sebagai orang paling unggul, hebat, istimewa (afdal) di antara atau dibandingkan dengan para sahabat Nabi ﷺ.

Anggapan ini tanpa disertai dengan pengingkaran, penolakan, pelecehan, atau kutukan pada para ketiga Khalifah Rasyidin, Sahabat Nabi yang lain, dan ataupun istri-istri nabi.

Lalu varian kedua Syi’ah Rafidi, yakni mereka yang memiliki pendapat dan yang mengatakan bahwa Sayyidina Ali ialah satu-satunya orang yang paling berhak atas kepemimpinan umat setelah wafatnya Nabi ﷺ, dan menganggap kekhalifahan sebelumnya tidak sah.

Istilah Rafidi ini sudah muncul sejak abad kedua hijriyah. Karena keyakinan mereka atas penunjukan Sayyidina Ali dan para Imam sesudahnya, kelompok ini kemudian dikenal dengan nama Syi’ah Imamiyah, dan terpecah menjadi Ismailiyah dan Itsna ‘Asyariyyah.

Adapun varian jenis ketiga, Syi’ah Ghulat atau ghuluww. Syi’ahini adalah mereka yang mempunyai kepercayaan pelik lagi cenderung kufur dan syirik. Misalnya mereka percaya Sayyidina Ali itu Tuhan berwujud manusia.

Dan imam-imam sesudahnya tidak mati, melainkan bakal datang kembali di akhir zaman untuk memenuhi dunia dengan keadilan. Para imam maksum, mustahil berdosa, imam-imam tersebut bahkan lebih mulia dari malaikat. (Syamsuddin Arif, Bukan sekedar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah, INSISTS. 2018. hal. 39-45).

Baik Syiah Rafidah dan Syiah Ghulat, kedua-duanya sentiasa mencela para sahabat, dan istri-istri nabi. Syi’ah jenis ini juga memiliki akidah khusus, yaitu akidah Imamah.

Konsep teologis Syi’ah ini semakin paten dan baku dengan adanya momentum revolusi Iran tahun 1979, dimana Khomeini menetapkan konsep Imamah dalam bernegara di Iran. (M. Kholid Muslih, Penerapan Konsep Welayat Al Fakih, dalam buku Teologi dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya, INSISTS, 2014).*

Khadim Surau Miftahul Istiqamah Banten, Magister bidang Pemikiran Agama Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aliran SyiahHeadlinePilihan Redaksisyiahsyiah ideologissyiah rafidah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Para Uskup Katolik di Afrika Menolak Seruan Paus Fransiskus Soal Pemberkatan Pasangan Homoseksual
Tulisan selanjutnya Adila Hassim Adila Hassim, Pengacara Muslim yang Wakili Afrika Selatan di ICJ

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Berita
17 Oktober 2026 21:46
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

7 Agustus 2026 17:00
Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?