KACA mata iman dalam memandang sakit memiliki pandangan yang benar-benar sangat mengagumkan. Akan tetapi, banyak para pemeluk Islam tidak mengetahui bahwa di dalam kumpulan sunnah-sunnah Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam terdapat bab-bab khusus, bahkan kitab-kitab yang independen tentang cara seorang mukmin menghadapi sakit, baik berupa sakit fisik maupun psikis/jiwa.
Demikian juga, terdapat kitab-kitab khusus tentang cara mengobati penyakit-penyakit tersebut. Adapun yang terakhir ini telah tersebar dengan sebutan Ath-Thib An-Nabawi (pengobatan ala Nabi).
Al-Bukhari dalam kitab shahihnya membuat judul pada kitab kelimanya dengan nama Kitab Al-Mardha (kitab tentang orang-orang sakit) dan setelahnya terdapat Kitab Ath-Thib (kitab tentang pengobatan). Kedua kitab tersebut terdapat dalam kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an.
Al-Bukhari r.a mengawali Kitab Al-Mardha dengan bab Ma Ja’a fi KafaratiAl-Maradh wa Qaulillahi. Dalil-dalil tentang penghapusan dosa karena sakit ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“… Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu …” (An-Nisa’:123)
Dalam hadist dari Aisyah r.a:
“Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang muslim, bahkan duri yang melukainya sekalipun, melainkan Allah akan menghapus (kesalahannya).” (Al Bukhari).
Ada pun hadits dari Abu Hurairah r.a menuturkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
“Perumpamaan seorang mukmin seperti biji tanaman di mana ia dihembus angin, maka angin itu memberikan keuntungan baginya. Jika ia sudah menjadi kuat, ia menjadi kebal terhadap penyakit. Adapun seorang pendosa seperti padi yang sudah masak sampai Allah menjadikannya pecah jika Ia menghendakinya.” (Al Bukhari).
Juga hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
“Siapa saja yang Allah menginginkan kebaikan untuknya Ia pasti akan memberinya musibah.” (Al Bukhari).
Ibnu Hajar berkata di dalam Fath Al-Bari, Al-Qarafi mengatakan, “Musibah itu adalah penghapus dosa secara pasti, sama saja baik dibarengi dengan ridha ataupun tidak. Namun, jika disertai dengan ridha maka penghapusannya menjadi besar dan jika tidak disertai ridha maka penghapusannya pun sedikit.”
Ada pun yang benar adalah bahwa musibah menjadi penghapus dosa sesuai dengan dosanya dan jika disertai ridha maka ia diganjar karena ridhanya tersebut. Maka jika orang yang ditimpa musibah tersebut tidak memiliki dosa maka diganti dengan pahala yang sebanding dengan musibahnya.
Seorang mukmin memiliki beberapa senjata untuk menghadapi penyakit yang paling parah dan takdir yang paling pahit. Di antara senjata yang paling besar adalah tauhid yang murni,
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)
Sebagian dari senjata tersebut adalah tawakkal yang baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu berusaha untuk mencari sebab dan selanjutnya menyerahkan perkara tersebut kepada Allah semata.
Sebagian dari senjata tersebut adalah berprasangka baik kepada Allah, yang memberikan musibah sebagai ujian untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, dan dengan itu seorang mukmin bisa menghilangkan rasa gelisah dari dirinya.
Iman telah mengeluarkan dirinya dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat. Maka, seorang mukmin yang paripurna imannya tidak akan berkurang imannya karena bencana yang menimpanya.
Seorang mukmin yang sempurna imannya, hatinya tidak akan bisa dihinggapi keraguan dan godaan/bisikan. Setiap kali bencana menimpa lebih keras, maka bertambah pula keimanannya dan semakin kuat sikap berserah dirinya.
Ketika ia berdoa dan tidak terlihat adanya perubahan, hatinya tetap teguh tidak goyah. Karena ia tahu bahwa dirinya adalah budak dan ia memiliki Rabb yang bisa memperlakukannya sekehendak-Nya.
Jika dalam hatinya terbersit keinginan untuk membantah, ia akan keluar dari ruang lingkup penghambaan dirinya kepada penentangan, sebagaimana yang terjadi pada diri Iblis.
Marilah kita meminta kepada Allah agar menganugrahi kita keyakinan guna meringankan musibah dunia yang menimpa kita.*/Dr. Mukmin Fathi Al-Hadad, dari bukunya Iman Sehat Pangkal Bahagia.