Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Natal dan Toleransi Dalam Keilmuan (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Desember 2014 14:23 2:23 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Desember 2014 14:23
Bagikan
Bagikan

Oleh: Akhmad Rofii Dimyati

Sambungan artikel PERTAMA

Intoleransi Barat

DENGAN penggunaan angka-angka Romawi, maka akan banyak memakan waktu dan tenaga untuk mengoperasikan sistem hitungan.

Seandainya dunia Barat masih berkutat dengan menggunakan angka Romawi, tentunya mereka masih gelap gulita sampai sekarang. Hal itu karena angka Romawi tidak memiliki kesederhanaan.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Untung saja ada sumbangan angka-angka Arab, disebabkan sumbangan pemikiran Al-Khawarizmi, maka pengerjaan hitungan yang rumit pun menjadi lebih sederhana dan mudah.

Al-Khawarizmi menulis karyanya dalam bidang matematika tersebut tentu saja berakar dari motivasi agama untuk menyelesaikan persoalan hukum warisan dan hukum jual-beli.

Abu Abdillah Muhammad bin musa Al Khawarizmi (164— 235 H) yg lebih dikenal dgn Al Khawarizmi, ilmuan matematika dan Geografi muslim pertama yg menemukan angka 0,1,2,3 dst.
Abu Abdillah Muhammad bin musa Al Khawarizmi (164— 235 H) yg lebih dikenal dgn Al Khawarizmi, ilmuan matematika dan Geografi muslim pertama yg menemukan angka 0,1,2,3 dst.

Contoh lain, pemikir Muslim yang sangat berperan dalam toleransi ilmu pengetahuan. Ibn Sina salah satu yang penting dalam ilmu pengetahuan. Ketika baru berusia 21 tahun, beliau telah menulis al-Hasil wa al-Mahsul yang terdiri dari 20 jilid. Selain itu, beliau juga telah menulis al-Shifa(Penyembuhan), 18 jilid; al-Qanun fi al-Tibb (Kaidah-Kaidah dalam Kedokteran), 14 jilid; Al-Insaf (Pertimbangan), 20 jilid; al-Najat (Penyelamatan), 3 jilid; dan Lisan al-’Arab(Bahasa Arab), 10 jilid. Karyanya al-Qanun fi al-Tibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di Toledo Spanyol pada abad ke-12. Bukual-Qanun fi al-Tibbdi jadikan buku teks rujukan utama di universitas-universitas Eropa sampai abad ke-17. Disebabkan kehebatan Ibn Sina dalam bidang kedokteran, maka para sarjana Kristen mengakui dan kagum dengan Ibn Sina. Seorang pendeta Kristen, G.C. Anawati, menyatakan: “Sebelum meninggal, ia (Ibnu Sina) telah mengarang sejumlah kurang lebih 276 karya. Ini meliputi berbagai subjek ilmu pengetahuan seperti filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, musik, syair, teologi, politik, matematika, fisika, kimia, sastra, kosmologi dan sebagainya.”

Karena ‘the power of cahaya’ keilmuan Islam itulah, maka sebenarnya pada zaman kegemilangan kaum Muslimin, orang-orang Barat meniru kemajuan yang telah diraih oleh orang-orang Islam.

Jadi, kegemilangan Barat saat ini tidak terlepas daripada sumbangan pemikiran kaum Muslimin pada saat itu. Hal ini telah diakui oleh para sarjana Barat. Selain itu, para ulama kita dahulu menguasai beragam ilmu.

Fakhruddin al-Razi (1149-1210), misalnya, menguasai al-Qur’an, al-Hadith, tafsir, fiqh, usul fiqh, sastra arab, perbandingan agama, logika, matematika, fisika, dan kedokteran. Bukan hanya al-Qur’an dan al-Hadits yang dihafal, bahkan beberapa buku yang sangat penting dalam bidang usul fikih seperti al-Shamil fi Usul al-Din, karya Imam al-Haramain al-Juwayni, al-Mu‘tamad karya Abu al-Husain al-Basri dan al-Mustasfa karya al-Ghazali, telah dihafal oleh Fakhruddin al-Razi.

Semua keilmuan itu, biarpun jauh dari kisaran pusatnya, yaitu wahyu, namun semua itu dalam rangka mengembangkan dan melaksakan seruan agar menuntut ilmu dan menghilangkan kebodohan. Semua pengetahuan selalu tersambung dengan Islam walaupun terlihat menjauh dari Islam. Baru kemudian di masa-masa berikutnya, di masa keilmuan itu beralih ke Barat, tiba-tiba banyak sekali keilmuan itu terputus dari pusatnya.

Melalui westernisasi secara sistematis, satu-satu ilmu dipindah ke Barat. Ilmu-ilmu yang asalnya kait-mengait satu dengan yang lainnya tiba-tiba muncul di Barat dengan terputus-putus. Munculnya sains dan teknologi modern yang begitu hingar bingar itu membutakan mata umat manusia. Seakan sains dan teknologi menjadi penyelamat manusia pembawa kesejahteraan. Padahal sains dan teknologi hanya satu aspek saja keilmuan yang diwariskan dari tradisi keilmuan Islam. Di mana di ranah Islam keilmuan tidak saling berhadap-hadapan, saling bertentang antar satu dengan yang lain. Sementara di Barat ilmu menjadi musuh agama.

Begitu pula, proses westernisasi ilmu-ilmu itu berlangsung tidak jujur, kotor dan tentu saja tidak toleran. Sejak zaman Perang Salib hingga penjajahan negara-negara berpenduduk Islam di berbagai belahan dunia, orang-orang Barat gemar mencuri kitab-kitab orang Islam untuk dibawa ke negaranya masing-masing.

Banyak perpustakaan raksasa baik di Inggris, Amerika, Prancis, Jerman, Belanda, Rusia dan lain sebagainya yang menyimpan ribuan kitab-kitab penting para ulama dahulu yang masih tidak diizinkan diakses oleh orang-orang Islam sendiri. Mungkin itu bagian dari sikap yang intoleransi mereka.

Selain itu, tidak seperti ulama Islam yang terbiasa jujur menyebut sumber rujukan, misalnya ketika menyelamatkan karya-karya Yunani, para ulama menyebutkan nama Plato, Aristoteles dan lain sebagainya. Tidak demikian dengan orang-orang Barat. Mereka tidak pernah mau jujur bahwa yang mereka pelajari itu berasal dari Islam yang dibaratkan. Mereka jadikan kitab-kitab ulama yang penting-penting itu sebagai kurikulum pendidikan mereka. Lalu mereka menulis buku versi mereka tanpa merasa perlu menyebut dari mana mereka mempelajarinya. Ini sikap intoleransi lainnya dalam keilmuan Barat.

Begitulah yang terjadi, hingga mereka juga memproduksi keilmuan-keilmuan kontemporer yang penuh onak dan duri. Lalu kini Barat menjajakannya ke dunia Islam. Mereka mau mengajarkan keilmuan-keilmuan itu ke halayak umum Islam. Mereka mau mengajari toleransi keilmuan kepada Islam yang lebih dulu dewasa dalam urusan toleransi. Dengan teknologi, mereka mengatur dunia dengan arus informasi. Pengaturan imej baik dan buruk ada dicorong informasi yang dipegang mereka. Maka bukan kebenaran yang dicari tapi pembenaran yang diimijkam.
Imej yang paling mengerikan adalah Barat itu superior dan Islam itu inferior. Kaum Muslimin dipropagandakan dengan sangat buruk, mulai dari Muslim itu ‘teroris’, ekslusif, intoleran, terbelakang, anti kemajuan dan lain sebagainya. Semua itu adalah paket-paket yang dilemparkan orang Barat ke dunia Islam.

Propaganda-propaganda itu terjadi hampir sama di seluruh tempat, di seluruh negara berpenduduk Muslim. Paket-paket keburukan selalu diciptakan di sana. Seolah ada pesan, di mana ada negara berpenduduk Muslim, di sana kekacauan musti dibuat.

***

Di tengah-tengah intoleransi keilmuan itu, kini kita masih dipaksa belajar toleransi versi Barat. Versi mereka, toleransi itu penyamaan agama-gama (pluralisme agama), kawin beda agama, pengucapan hari raya bepada agama, pemakaian simbol-simbol agama mereka pada penduduk Muslim. Sebenarnya, yang demikian itu over toleransi atau over acting dalam bertoleransi.

Apa saja yang over acting itu pasti negatif. Perbuatan over biasanya menerabas batas-batas kewajaran. Banyak rambu-rambu yang dinafikan demi tercapainya tujuan over acting itu. Contohnya, penyamaan agama-agama harus mendekonstruksi ayat-ayat al-Quran agar bisa mendapatkan dalil-dalilnya. Konsep-konsep yang sudah pasti dinafikan. Perbedaan mukmin dan kafir disamarkan, dan lain sebagainya. Padahal, jika dipikir lebih jernih, justru dengan adanya perbedaan itulah toleransi muncul. Kalau disamakan, apa yang bisa kita toleransikan?.*

Penulis kandidat doktor di bidang filsafat Islam di Suleyman Demirel Universitesi, Isparta, Turkiye

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Arabbaratislammatematikanataltoleransi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islamisasi Pendekatan Tradisi dan Benteng Ahlus Sunnah
Tulisan selanjutnya Yordania Mengkorfirmasi Pesawatnya Ditembak Jatuh ISIS/ISIL

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?