Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Korban Sekularisasi dan Fenomena Perppu Ormas

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Juli 2017 07:29 7:29 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Juli 2017 07:27
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Iswardani Chaniago

 

SETELAH menjalani proses panjang konflik keagamaan bahkan perang, Barat mulai menapaki jalan sekularisasi. Satu negara dengan negara lain menjalaninya dengan cara yang tidak tunggal. Namun, ada semacam kepercayaan diri yang nyaris sama di Barat yakni sekularisasi diyakini membawa pencerahan.Peradaban  yang tadi terbelakang mulai menatap masa depan dengan langkah sekuler yang dipandang berkemajuan.

Perkembangan sekularisasi di tengah kehidupan peradaban memberi dampak tersendiri yang cukup membekas sekaligus memakan korban. Di antara korban yang paling menderita akibat sekularisasi adalah agama. Ini wajar, karena sekularisasi hadir sebagai reaksi atas agama dengan pelbagai fenomenanya sekaligus menjadi kritikus paling keras -setidaknya pada derajat tertentu. Maka tak aneh bila agama adalah pihak yang paling merasakan kekerasan tamparan sekularisasi.

Akan tetapi, tidak semua sarjana setuju bahwa agama adalah korban sekularisasi yang paling menderita. Adalah Graeme Smith yang bisa dikatakan mengambil posisi demikian. Dalam karyanya,  A Short History of Secularism, Ia justru memiliki sikap yang lebih positif terhadap sekularisasi dan relasinya dengan agama. Dalam pandangannya, eksistensi agama -khususnya Kristen- tidak sedang menjadi korban sekularisasi, melainkan tengah mempraktikkan sebuah ekspresi akhir kristianitas. Kristianitas tidak sedang dikorbankan, tetapi tengah mengalami semacam metaformosis yang adaptif terhadap sekularisasi. “Secularism in the West is the new manifestation of christianity,” tulis Smith.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Meskipun begitu, apa pun alasan dicari sejumlah fakta tak dapat dipungkiri bahwa sekularisasi menjadikan agama sebagai korban. Di Prancis nasib agama dengan segala anasirnya cukup tragis. Institusi agama mengalami kerugian baik materil maupun immateril. Mereka pernah merasakan getirnya penjara dan persekusi. Aset mereka berupa tanah juga pernah diambil alih untuk membayar utang negara. Institusi agama pun kehilangan keistimewaan yang dinikmati di masa monarki. Sampai kemudian pada tahun 1791 negara diharamkan mendukung dan mensubsidi agama via disahkannya konstitusi baru Prancis. Itulah yang mendasari keluarnya peraturan yang membolehkan praktik perceraian di Prancis yang sebelumnya dilarang oleh Gereja Katolik.

Baca: 17 Ormas Islam Menolak Perppu

Di era Napoleon nasib agama sedikit membaik setelah ditandatanganinya Concordat tahun 1801. Agama Katolik mendapat subsidi negara dan dijadikan agama resmi, meskipun sejumlah konsekuensi harus ditanggung seperti kewajiban untuk tidak menuntut kepemilikan gereja yang telah diambil negara.

Di era modern, Prancis nyaris mengadopsi habis pola sekularisasi awal-awal revolusi yang lumayan keras terhadap agama. Hasilnya simbol-simbol agama tidak bisa masuk ke ranah publik. Inilah sekularisasi dengan model french republican yang dipandang tidak ramah terhadap agama dibandingkan model anglo-american. (Ahmet T. Kuru, Secularism and State Policies toward Religion: 2009, 139)

Di Amerika Serikat geliat sekularisasi yang makin marak juga memberi dampak yang luar biasa. Tren AS tengah berjalan di rel sekularisasi diulas sejumlah ilmuwan. Di awal 2000-an Pippa Norris dan Ronald Inglehart dalam Sacred and Secular: Religion and Politics Worldwide masih melihat kecenderungan sekularisasi pada masyarakat AS, kendati religiusitas juga masih eksis. Ini diperkuat dengan hasil pemilu pilpres AS dimana dukungan politik kepada Hillary Clinton dari partai demokrat yang cenderung sekuler-liberal masih kokoh. Meskipun kalah electoral vote ia mengungguli Donald Trump dalam popular vote dengan selisih lebih dari 2 juta suara.

Sekularisasi tingkat masyarakat juga berbanding lurus dengan sekularisasi pada level negara. Pada level ini AS dikenal dengan model sekularisme anglo-american yang konon lebih ramah terhadap agama. Namun, apakah model ini tidak mengorbankan agama? Belum tentu.

Baca:  17 Ormas Islam akan Ajukan Judicial Review Perppu yang Dinilai ‘Anti Islam

Setidaknya ada dua elemen penting dalam relasi agama-negara di negara sekuler termasuk Amerika Serikat (AS). Pertama adalah aspek dukungan negara (establisment). Kedua adalah kebebasan beragama (free exercise). Dalam konteks sekularisme AS elemen yang paling merugikan agama berada pada ranah establishment. Di sini negara mencabut semua dukungannya terhadap agama. Awalnya prinsip no establishment hanya pada lingkup diskriminasi. Artinya regulasi yang dibatalkan Mahkamah Agung AS (Supreme Court)  hanya saat regulasi itu mendiskriminasi agama tertentu, namun kemudian meluas menyorot pada regulasi yang menyentuh agama secara umum meski tidak mendiakriminasi. Oleh sebab itu, banyak putusan Mahkamah Agung AS yang menjadikan agama sebagai korbannya. Misalnya kasus yang menarik adalah pembatalan sejumkah regulasi negara bagian yang mengajarkan teori penciptaan dan melarang teori evolusi di sekolah. Seperti yang yang terjadi pada kkasus Epperson v Arkansas (1968) dan Edward v Aguillard (1987). Terakhir Supreme Court melegalisasi praktik LGBT sebagai sesuatu yang konstitusional di AS. Fenomena ini jelas merupakan pukulan telak bagi kelompok agama di AS yang sangat menentang LGBT.* klik >>> (BERSAMBUNG)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:hak berorganisasiHak KonstitusionalHizbut Tahrir IndonesiaHTIHTI Dibubarkankebebasan berpendapatkebebasan berserikatLembaga Bantuan HukumMKormas berbadan hukumormas Islampembubaran ormaspemerintah bubarkan HTIpengadilanPerppu Pembubaran OrmasUU OrmasUUD 1945
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya India Mulai Proses Pembatalan Paspor Zakir Naik
Tulisan selanjutnya Hafal Al-Qur’an, Belasan Siswa KIIS Diterima di PT Negeri dan Luar Negeri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?