Oleh: Daru Nur Dianna
Hidayatullah.com | ALLAH telah memberikan pegangan Agama yang mengafirmasi ilmu kesehatan, hidup sehat, pengobatan, pola makan dan minum sehat, dan mengontrol fisik maupun mental stress. Ini terefleksikan di dalam kitab suci dan juga ajaran-ajaran yang dicontohkan Nabi.
Dalam al-Qur’an terdapat 9 term inti yang mengasosiasikan terhadap kesehatan, diantaranya: Quwwah (kuat dalam fisik, mental dan pikiran), diulang 42 kali; Iṭma’anna (sehat dalam hati dan jiwa) diulang 12 kali; ṭahārah (bersih fisik, psikologi, dosa, kekejian, kelalaian) diulang 25 kali; taskiyyah (pembersihan hati) diulang 23 kali; marīḍ (penyakit fisik dan psikis) diulang 24 kali; adzā (sakit fisik, rusaknya hubungan social, penyakit karena alam) diulang 23 kali; rijsun (kotor berhubungan dengan fisik, ketidaksenonohan, godaan setan) diulang 8 kali; saqiyyun (sedih, mengalami kesusahan dan kecewa) diulang 12 kali; dan syifā’ (obat fisik dan spiritual) diulang 6 kali.
Dalam Hadits Nabi, Rasulullah ﷺ. Pernah bersabda bahwa tidakklah Allah menurunkan penyakit kecuali ada obatnya.
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari).
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” (HR. Muslim)
Megenai kesehatan, dari perspektif Islam, dibagi dalam dua aspek. Yakni terhadap kesehatan jiwa/hati dan terhadap kesehatan fisik. Kesehatan jiwa dan fisik, dari perspektif Islam, tidak dikotomis. Antara jiwa dan jasad saling terkait. Imam al-Ghazālī, mengatakan bahwa hubungannya seperti kuda dan penunggang kuda. Adapun jiwa adalah penunggang kudanya. al-Ghazālī, Mizān al-‘Amal, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah 1964), hlm 338.
Ini relevan dengan sebuah Hadits yang berisi tentang adanya segumpal darah (hati/khalbun) dalam diri manusia. Jika ia sehat maka, yang lainnya (jasad) juga akan sehat.
Konsep ini berimplikasi terhadap konsep penyakit. Bahwa penyakit dalam Islam, memiliki dua jenis, yakni penyakit hati/jiwa dan penyakit fisik/jasmani dan keduanya saling terkait. Hal-hal ini kerap disampaikan oleh penulis-penulis tema Tazkiyatun Nafs seperti Ibnu Qayim al-Jauziyah.
Penyakit hati, terdiri dari penyakit syubhat yang diiringi dengan keragu-raguan dan penyakit syahwat diiringi kesesatan. Penyakit syubhat diterangkan dalam surat al-Baqarah ayat 10 dan surat al-Mudatsir ayat 31. Penyakit syahwat dijelaskan di surat al-Aḥzāb ayat 32. Untuk mengobati penyakit hati tersebut, adalah al-Qur’an itu sendiri sebagai pusat ilmu dan ajaran Islam.
Syubhat dan syahwat dapat dihilangkan dengan belajar ilmu agama dengan bimbingan Ulama yang memahami al-Qur’an dengan benar. Karena itulah, al-Qur’an disebut juga sebagai obat penawar (asy-Syifā’):
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS: Al-Isrā’: 82)
Hubungan ketenangan jiwa dan jasad ini adalah jika hati atau jiwa sehat maka akan memberikan ketenangan yang akan mempengaruhi kondisi fisik seorang. Sebagaimana yang ditemukan dalam penelitian yang menyebutkan salah satu penyebab sakit adalah stress atau banyak pikiran yang menyebabkan jiwa tidak tenang.
Contohnya, munculkan tanda-tanda perut sakit, ingin muntah, tremor, tangan berkeringat, sakit dada, dan lain-lain saat hati gelisah atau merasa takut. Pendekatan sainsnya, para ilmuwan modern mengatakan adanya zat adrenalin ke darah atau getaran impuls saraf yang terakomodir di otak yang tersambung ke bagian tubuh atau sistem metabolisme manusia lainnya. Ini menyebabkan munculnya gangguan-gangguan tadi. Istilah kedokterannya sakit yang dirasakannyata, namun sebab fisiknya tidak diketahui, melainkan dari gangguan stress-psikologis ini adalah ‘sakit akibat gangguan psikosomatis’.
Atau sederhannya, stress biasanya berdampak pada kondisi psikologis yang mempengaruhi mood seseorang menjadi buruk dan gangungan pada metabolisme tubuh yang menyebabkan tidak nafsu makan. Jika seseorang itu tidak segera menenangkan dirinya, maka kondisi fisiknya akan semakin buruk. Kondisi ini cukup membuat seseorang itu menjadi mudah terkena berbagai penyakit.
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi tuntunan manusia untuk menjalani kehidupan dalam segala aspek. Salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia adalah aspek kesehatan. Begitu juga Sunnah yang diajarkan Rasulullah. Al-Qur’an yang didukung dengan Sunnah, telah memberikan gambaran yang jelas bagaimana mengatur pola hidup sehat secara jasmani maupun ruhani.
Adapun ‘the best explanation’ hubungan keimanan dan kesehatan secara langsung dan praktisnya adalah bahwa imunitas seseorang dapat ditingkatkan dengan religiusitas yang baik.
Nabi Muhammad ﷺ juga telah memberikan contoh praksis dalam hal menjaga kesehatan dan penyembuhan dari sakit. Tema ini populer dengan ‘Pengobatan Ala Nabi’ atau ‘Ṭibbun Nabawi’. Dalam perjalanan peradaban Islam, pengobatan ini semakin berkembang dengan bertemunya masyarakat muslim dengan budaya Yunani, Romawi, bahkan India saat masa Dinasti Muawiyah.
Philip K. Hitti dalam bukunya “History of Arabs” menjelaskan, ilmu kesehatan dan kedokteran telah berkembang dengan baik di dunia Islam dan ilmu kedokteran di dunia ini banyak dipengaruhi oleh penemuan-penemuan ilmuwan Muslim. Philip K. Hitti, History of Arabs-Terj, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2014), hlm 319.
Islam, ilmu pengetahuan dan sains, tidak memiliki pertentangan. Al-Qur’an sebagai sumber utama Islam, mengafirmasi sains dan ia juga sekaligus mampu menjadi inspirasi untuk mengembangkan Sains. Sehingga masyarakat Islam giat mengembangkan berbagai macam keilmuan. Salah satu ilmu yang dikembangkan adalah ilmu kedokteran.
Raghib as-Sirjani, dalam “Sumbangsih Peradaban Islam Pada Dunia”, mencatat banyak ilmuwan Islam yang berjasa besar terhadap pengembangan ilmu kedokteran, diantaranya: Abu Bakar ar-Razi; Abu Qasim Az-Zahrawi, dan Ibnu Sina. Raghib as-Sirjani, Sumbangsih Peradaban Islam Pada Dunia-Terj, (Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2009), hlm 270-276.
Lalu di zaman modern, Sami K. Hamarneh dalam karyanya “Directory of Historians of Islamic Medicine and Allied Sciences”, memberikan gambaran yang jelas dokumen-dokumen petunjuk serta sekmen-sekmen penting dalam karya-karya dan warisan (legacy) sains Islam-Arab yang telah tertransmisikan ke Eropa, Asia dan Afrika dari abad ke-11 sampai abad ke-16. Sami K. Hamarneh, Directory of Historians of Islamic Medicine and Allied Sciences, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), hlm xvi.
Nilai-nilai ajaran kesehatan dalam al-Qur’an dan Sunnah, telah merangsang sarjana Muslim untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu kedokteran. Hal ini berdampak membawa peradaban Islam kepada kemajuan ilmu kedokteran.
Fakta historis dalam ilmu kedokteran, ilmuwan Islam memiliki peran penting dalam mengembangkan ilmu kedokteran di seluruh dunia sampai sekarang ini. Kebudayaan religius Islam yang tidak dikotomis, mampu memunculkan sebuah peradaban manusia yang memiliki kemajuan dalam ilmu kesehatan.*
Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)