Oleh: Qosim Nurseha Dzulhadi
Hidayatullah.com | Diantara pemikir besar Islam abad ini yang memberi perhatian serius kepada masalah keumatan adalah Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas (lahir di Bogor tahun 1931). Tentu selain beliau banyak pemikir lain, seperti: Sayyid Qutb, Badiuzzaman Said Nursi, Abu al-Hasan Ali an-Nadwi, Syeikh Muhammad al-Ghazali, Syeikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, dan lainnya. Tetapi, analisis tajam Prof. SMN al-Attas memiliki kekhasan tersendiri. Inilah yang akan menjadi fokus tulisan ini.
Dalam bentuk pertanyaan Prof. al-Attas mengajukan beeberapa problematika ini: mengapa umat jahil dan mundur secara duniawi?; apa sebab bangsa dan umat lain (seperti Kristian Barat) maju sementara umat terbelakang?; mengapa umat mundur dalam bidang ekonomi?; apa peran pemuda Islam di masa mendatang?; apa sebab umat seolah-olah demikian buruk nasibnya?; dan pertanyaan lainnya. (Prof. Dr. SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), 4-5).
Diantara problematika umat yang ditanyakan oleh Prof. al-Attas di atas, pernah ditanyakan pada 1929 oleh seorang ulama Melayu, Syeikh Muhammad Basyuni Imran (dari Sambas, Borneo) kepada Syeikh Muhammad Rasyid Ridha (murid Syeikh Muhammad Abduh). Pertanyaan itu berbunyi: Limādzā Ta’akhhara’l-Muslimūna wa Limādzā Taqaddama Ghayruhum? Oleh Syeikh Rasyid Ridha pertanyaan disampaikan kepada Amīru’l-Bayān, Syakib Arslan. Jawabannya kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul pertanyaan itu. (Lihat, Syakib Arslan, Limādzā Ta’akkhara’l-Muslimūna wa Limādzā Taqaddama Ghayruhum (Mesir: Mathba‘ah al-Manār, cet. I, 1349 H).
Kemudian, disusul pula dengan karya Abu al-Hasan Ali an-Nadwi, Mādzā Khasira’l-‘Ālam bi Inhithāt al-Muslimīn dan karya Syeikh Muhammad al-Ghazālī, “Sirru Ta’akkhuri’l-‘Arab wa al-Muslimīn (Kairo: Nahdhah Mishr, 2005).
Kemudian amat menarik melihat dan menyimak jawaban pakar sejarah Melayu dan islamisasi pengetahuan ini. Diantaranya, karena merebaknya penyakit kekeliruan akal serta kesesatan kalbu. Penyakit ini, kata ‘Pemegang Kursi al-Ghazali dalam Pemikiran Islam’ ini sedang menyerang dan menggemparkan Umat Islam dengan hebatnya. (Prof. SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 5).
Banyaknya masalah kaum kita, tegas pendiri ISTAC itu, seperti kerumitan jiwa karena jatuhnya maruah diri sendiri dan kekurang ilmu dan akhirnya kekurangan iman. Dan kekurang iman ini, lanjutnya, sebagaimana juga telah dinyatakan oleh Hujjatu’l-Islam al-Imām al-Ghazālī, radiya’Llāhu ‘anhu, dalam setengah karangannya yang agung itu, memanglah disebabkan oleh kekurangan ilmu, khususnya ilmu yang sebenar mengenai Islam pada keseluruhannya. (Prof. SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 5).
Itulah penyakit kronis yang menyebabkan kemunduran dan kerusakan umat Islam. Yaitu kurang ilmu: ilmu mengenai Islam secara keseluruhan.
Jahil Hakikat Islam
Di tempat lain dari karyanya, Prof. ala-Attas juga menyatakan bahwa berbagai hal menyedihkan tersebut sebab utamanya adalah kejahilan masyarakat kita kaum Muslimin mengenai Islam sebagai agama yang sebenarnya dan peradaban luhur lagi agung yang telah menghasilkan ilmu-ilmu Islamiah yang berdaya menayangkan pandangan alam yang tersendiri — kejahilan yang melenyapkan kesadaran akan tanggung jawabnya terhadap meletakkan amanah ilmu dan akhlak pada tempatnya yang wajar, sehingga sanggup membiarkan saja kekeliruan dan pelbagai macam penyelewengan dalam ilmu dan amal terus mengharungi pemikiran dan perbuatan para sarjana dan cendekiawan kita yang kebanyakannya masih terbelenggu pada gelang penghambaan ilmu-ilmu orientalis dan kolonial.
Kemudian Prof. al-Attas menuliskan bait syair yang menggugah kesadaran kita sejak 1959, sebagai berikut:
Muslim tergenggam belenggu kafir,
Akhirat luput, dunia tercicir,
Budaya jahil luas membanjir,
Banyak yang karam tiada tertaksir.
Barus dan Singkel, Pasai dan Ranir
Silam ditelan masa nan mangkir;
Lupa Jawaban dihafal mahir
Bagi menyangkal Munkar dan Nakir. (Prof. SMN al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Bandung: Mizan, 1990), 8-9; Risalah untuk Kaum Muslimin, viii).
Jadi, kejahilan umat Islam terhadap agamanya itulah sumber persoalan dan masalah yang terjadi. Padahal, Allah sudah menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah (Qs. Āl ‘Imrān (3): 19). Sehingga siapa saja yang memilih selain Islam sebagai agamanya tidak akan diterima Allah. Dan, di Akhirat dia akan merugi (Qs. Āl ‘Imrān (3): 85). Islam inilah sebagai agama hakiki (dīn) sekaligus peradaban yang luhur lagi agung, kata Prof. al-Attas.
Agama yang luhur dan agung inilah yang telah melahirkan ilmu-ilmu Islamiah. Tapi, kejahilan umat akan hakikat ini justru menghilangkan kesadaran umat akan amanah dan ilmu secara benar. Maka muncullah pelbagai kerancuan dan kekeliruan serius dalam bentuk penyelewengan dan penyimpangan dalam ilmu dan amal. Sehingga tak sedikit sarjana, ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang justru menjadi budak ilmu-ilmu orientalis dan penjajah.
Diantara pemikiran dan ide orientalis dan kolonial itu, misalnya, ada faham sekularisme. Faham asing lagi berbahaya ini sudah diingatkan oleh Prof. al-Attas sejak lama, tepatnya sejak 1974 (dalam Risalah untuk Kaum Muslimin) kemudian diulas secara mendalam sejak 1975 dan tuntas pada 1977 dalam karya pentingnya dengan tajuk Islam and Secularism. Dalam menyikapi sekularisasi, kata Prof. al-Attas, banyak tokoh dan kaum intelektual Muslim yang terpengaruh. Utamanya karena “silau” oleh capaian Barat dalam ranah ilmiah dan teknologi. (Prof. SMN al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), 15).
Sikap “silau” terhadap Barat itu menegaskan apa yang sejak lama ditegaskan oleh sosilog besar Islam, Ibn Khaldūn (w. 808 H) dalam kitab Muqaddimah-nya yang fenomenal itu. Ibn Khaldūn menyatakan bahwa “orang yang kalah memang akan selalu mengekor kepada orang yang menang”, dalam segala hal: dalam motto hidupnya, cara berpakaian, berkeyakinan, bahkan dalam segala gerak-gerik dan kebiasaannya. Sebab utamanya adalah: karena jiwa senantiasa meyakini bahwa kesempurnaan itu ada pada pihak yang mengalahkan dan menguasainya. (Lihat, ‘Abd ar-Rahmān ibn Khaldūn, Muqaddimah Ibn Khaldūn (Beirut-Lebanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. IX, 1427/2006), 116).
Dalam bahasa Prof. al-Attas adalah: “It is most significant to us that these problems are caused due to the introduction of Western ways of thinking and judging and believing emulted by some Muslim scholars and intellectuals who have been unduly influenced by the West and overawed by its scientific and technological achievements, *who by virtue of the fact that they can be thus influenced betray their lack of true understanding and full grasp of both the Islamic as well as the Western world views and essential beliefs and modes of thought that project them;…” (Prof. SMN al-Attas, Islam and Secularism, 15-16).
Tentu sangat berbahaya sekali penyakit jahil akan Islam ini. Sehingga dapat menjadikan seorang sarjana dan cendekiawan pun keliru dan menyimpang dari pandangan alam (pandangan hidup) Islam (islamic worldview). Akibatnya, silau terhadap Barat dan mengikuti fahamnya yang sangat bertentangan dengan Islam, seperti faham sekularisme ini.
Kembali ke Pangkalan Islam
Prof. al-Attas tentunya tak hanya mengkritisi kondisi tanpa solusi. Kejahilan ini harus segera diobati. Obatnya hanya ada di dalam Islam itu sendiri. Karena Islam lah satu-satunya agama yang mampu menjelaskan hakikat dīn dan madaniyyah atau tamaddun (agama sekaligus peradaban). Ini yang harus disadari benar oleh umat Islam jika ingin bangkit dari keterbelakangan dan keterpurukan mereka dalam segala lini kehidupan. (Rujuk, Prof. SMN al-Attas, “Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality”, dalam Prof. SMN al-Attas, The Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 41-89).
Mengapa harus kembali ke pangkalan dan pangkuan Islam? Kata Prof. al-Attas: “Engkau harus menginsyafkan dirimu akan hakikat bahwa Islam itu tiada ‘layu’, tiada ‘lenyap sinarnya’, tiada ‘kecut’, dan tiada hapus kelayakannya bagi menjadi pedoman hidupmu dan seluruh manusia untuk zaman apapun; padahal yang tampak layu dan kelam dan lemah itu ialah Kaummu Muslimin jua, kerana kaulah yang jahil dan zalim terhadap diri sendiri.” (Prof. SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 8).
Selain mengetahui hakikat Islam yang tidak akan berubah itu, memahami hakikat pandangan alam Barat juga diperlukan. Sehingga kaum Muslimin bisa mengetahui sejarah Barat dan sebab mereka menjadi sekuler seperti saat ini. Karena memang perbedaan antara Islam dan Kristen Barat amat jauh. Karena worldview Islam bersumber dan bersandar pada Wahyu (Tanzīl). (Prof. SMN al-Attas, Prolegomen to the Metaphysics of Islam, 1-16; Prof. SMN al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam (Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia, 2007).
Kecuali itu, masalah internal umat Islam harus diketahui dengan baik. Sehingga kaum Muslimin tidak lupa akan jati dirinya. “Kealpaan, kejahilan dan kekeliruan mengenai hakikat Islam itulah yang merupakan masalah pokok bagi kita; dan kealpaan, kejahilan dan kekeliruan itu timbul akibat kesilapan, atau kekurangan, atau kehampaan ilmu.” (Prof. SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 126).
Untuk itulah Prof. al-Attas kemudian menegaskan bahwa masalah faham ilmu merupakan pintu dan jalan asasi untuk bisa menjauhkan kondisi umat dari kealpaan, kekeliruan dan kejahilan. Karena faham ilmu yang berkembang saat ini masih dipengaruhi oleh faham Barat yang sekuler, terutama mengenai sifat dan tujuan ilmu. (Prof. al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 129). Tentu ulasan mengenai faham dan tujuan ilmu yang benar ini harus diulas dalam tulisan yang lebih detail.
Untuk itu, problem umat Islam yang dipaparkan sekilas dalam tulisan ini masih dapat diobati dan diatasi dengan kembali ke pangkuan Islam. Hanya dengan memahami hakikat Islam sebagai dīn (agama) dan peradaban; mengenali worldview Islam serta dibandingkan dengan worldview Kristen Barat; dan mengenal hakikat ilmu serta tujuannya maka umat ini akan kembali sehat dari sakit, bangun dari tidurnya, dan bangkit dari keterpurukannya. Wallāhu a‘lam bis-shawāb.[]
Pengajar di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah (Medan) & Anggota MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia)