Netizen Muslim dari seluruh dunia menyerukan boikot brand atau merek Swedia menyusul pembakaran Al-Quran oleh ekstremis Rasmus Paludan di bawah perlindungan polisi.
Paludan, yang memimpin partai politik sayap kanan Denmark Garis Keras, membakar Al-Quran di depan kedutaan Turki di Swedia pada Jumat lalu, memicu kecaman di seluruh dunia, yang oleh beberapa orang digambarkan sebagai “tindakan keji”.
Sebagai respon penistaan Al-Quran, netizen Muslim melakukan kampanye online yang menyerukan diakhirinya pembelian produk merek Swedia.
Tagar #مقاطعةالمنتجاتالسويدية atau Boikot Produk Swedia sempat trending di beberapa negara, di mana orang menggunakannya untuk menyoroti merek Swedia yang harus diboikot.
Merek-merek tersebut antara lain IKEA, H&M, Spotify, Ericsson, Volvo dan banyak lainnya.
“Tidak ada yang bisa menyebut kebebasan berekspresi dan kebebasan berpikir ini,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.
Banyak negara Arab, termasuk Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab juga mengutuk pembakaran Al-Qur’an oleh politisi Swedia itu dengan menyebutnya sebagai tindakan “Islamofobia”. Protes juga dilakukan di beberapa negara Arab untuk mengecam politisi Swedia tersebut.
Al-Azhar Mesir, salah satu lembaga Islam paling dihormati, pada Rabu (25/01) menyerukan umat Muslim seluruh dunia untuk memboikot Belanda dan Swedia karena membiarkan penistaan Al-Quran oleh ekstremis sayap kanan.
Di sisi lain, kampanye boikot serupa terhadap merek dan produk Prancis diluncurkan sebagai tanggapan atas karikatur anti-Islam yang ofensif yang dibagikan oleh surat kabar Charlie Hebdo.*