Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Siswa di Massachusett Menggugat Pihak Sekolah setelah ‘Dibungkam’ Meyakini Hanya Ada Dua Jenis Kelamin

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Mei 2023 10:21 10:21 am
Ahmad
Dipublikasikan 25 Mei 2023 10:30
Bagikan
Liam Morrison, siswa kelas 7 di NMS, dengan kaos bertuliskan 'hanya dua jenis kelamin' (The Ohio Star)
Bagikan

Hidayatullah.com—Seorang siswa Massachusetts mengajukan gugatan terhadap sekolahnya, menuduhnya menghalangi kemampuannya untuk menggunakan hak Amandemen Pertama setelah dia dipaksa melepas baju bertuliskan, “Hanya ada dua jenis kelamin.”

Siswa kelas tujuh Liam Morrison mengenakan kaus tersebut pada bulan Maret di Sekolah Menengah Nichols (NMS), tetapi ditarik dari kelas olahraganya dan diminta mengganti hal itu dinilai melanggar aturan pakaian sekolah. Namun Morrison menolak melepas bajunya dan ia segera dijemput ayahnya tidak lama kemudian.

“Mereka benar-benar menghalangi kemampuan saya atau menghilangkan kemampuan saya untuk memiliki pendapat yang berbeda dari yang mereka inginkan,” kata Morrison kepada Steve Doocy dalam acara dialog “Fox & Friends” hari Kamis.

Dalam email yang ditinjau Fox News Digital, Pengawas Sekolah Umum Middleborough Carolyn Lyons menyatakan bahwa Morrison telah melanggar aturan berpakaiannya. Secara khusus, “isi baju Liam menargetkan siswa dari kelas yang dilindungi; yaitu di bidang identitas gender.”

Tetapi Morrison mengatakan ketika dia mengenakan kemeja itu dia dipuji oleh banyak teman sekelasnya karena mengambil sikap terhadap masalah kontroversial tersebut, meskipun pejabat sekolah mengatakan kepadanya “banyak orang” yang kecewa karenanya.

Baca Juga

Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing

Pengacara keluarga Morrison, Tyson Langhofer, merinci dengan dia yakin sekolah tersebut melanggar hak kebebasan berbicara Morrison dalam bentuk penyensoran.

“Ini tentang sekolah yang menyensor siswa kelas tujuh yang memiliki sudut pandang berbeda,” kata Langhofer. “Siswa tidak kehilangan hak kebebasan berbicara ketika mereka … masuk ke sekolah. Sekolah membicarakan masalah ini sepanjang waktu, dan yang ingin dilakukan Liam hanyalah mengungkapkan pendapat, yang sebenarnya dibagikan oleh banyak “teman sekelasnya”.

Tetapi setelah sekolah menjelaskan bahwa Morrison dilarang mengenakan kaus itu lagi ke sekolah, dia justru mengenakan kaus lain awal bulan ini dengan bertuliskan, “Ada jenis kelamin yang disensor.”

Morisson mengatakan dia diminta melepas pakaian itu segera setelah pelajaran dimulai. Setelah insiden kedua, keluarga akhirnya memilih jalur hukum.

Terlepas dari penolakan sekolah, Langhofer mengatakan buku pegangan sekolah bahkan mendukung klaim Morrison bahwa hanya ada dua jenis kelamin, meskipun banyak identitas gender.

“Sulit untuk mengatakannya karena buku pegangan siswa mereka benar-benar mengatakan bahwa pendidikan publik harus tersedia untuk anggota dari kedua jenis kelamin, dan dikatakan bahwa pelecehan seksual tidak boleh bertentangan dengan kedua jenis kelamin,” kata Langhofer.

“Jadi… komunikasi sekolah sendiri sebenarnya mendukung sudut pandang Liam. Tapi apa yang mereka katakan padanya adalah bahwa dia tidak bisa mengungkapkan itu di bajunya, dan kami pikir itu salah.”

“Tidak ada siswa yang boleh dihukum hanya karena secara damai berbagi pandangan mereka tentang topik yang sangat penting,” lanjutnya.

Setelah pengumuman hari Rabu bahwa Liam Morrison, seorang siswa kelas tujuh di Sekolah Menengah Nichols, mengajukan gugatan terhadap Kota Middleboro dan administrator sekolah , beberapa anggota masyarakat menyerukan Inspektur Carolyn Lyons dan Ketua Komite Sekolah Rich Muda untuk mengundurkan diri.

Satu per satu, banyak anggota masyarakat – dalam jumlah yang hampir sama untuk setiap pihak – berbicara kepada dewan, menyatakan dukungan untuk hak kebebasan berbicara Morrison atau mengatakan pesan di baju Morrison adalah ujaran kebencian terhadap siswa transgender.

“Tidak ada yang benar-benar menyusahkan saya,” kata Morrison. “Faktanya, banyak orang senang dengan apa yang saya lakukan,” tambahnya. Kasus ini sangat bertolak belakang dengan kampanye Amerika Serikat (AS) yang selalu mengklaim diri sebagai negara yang mengkampanyekan kebebasan berbicara atau freedom of speech.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dua jenis kelaminHeadlinekebebasan berbicaralgbtLiam Morrisonsiswa AS
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslim Edufest 2023 Akan Menhadirkan Ratusan Lembaga Pendidikan Islam Dunia
Tulisan selanjutnya Jasad Migran Afghanistan yang Tewas Ketika Diselundupkan ke Bulgaria Dipulangkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Berita
28 Agustus 2026 09:48
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Terbaru

  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

1 September 2026 12:00

Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

31 Agustus 2026 22:46
Berita

Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

31 Agustus 2026 21:38
Berita

PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

31 Agustus 2026 21:23
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?