Hidayatullah.com– Warga Korea Selatan mmulqi menimbun garam laut dan barang-barang lain sementara negara tetangga Jepang bersiap untuk membuang air radioaktif dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke laut.
Jepang bersiap untuk meleaskan lebih dari 1 metrik ton air yang telah dipakai untuk mendinginkan reaktor nuklir yang rusak akibat gempa dan tsunami 2011 ke Samudera Pasifik.
Tokyo telah berulang kali meyakinkan bahwa air tersebut aman dan telah disaring untuk menghilangkan sebagian besar isotop meskipun mengandung jejak tritium, isotop hidrogen yang sulit dipisahkan dari air.
Meskipun Jepang belum menetapkan tanggal pembuangan air, pengumuman tersebut telah membuat para nelayan dan penduduk di seluruh kawasan khawatir.
Otoritas perikanan Korea Selatan meningkatkan pemantauan kadar zat radioaktif dalam tambak garam alami dan memberlakukan larangan makanan laut dari perairan dekat Fukushima.
“Saya baru saja membeli lima kilogram garam,” kata Lee Young-min, ibu dua anak berusia 38 tahun, seraya menambahkan bahwa dia belum pernah membeli garam sebanyak itu sebelumnya.
“Sebagai seorang ibu yang membesarkan dua anak, saya tidak bisa hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Saya ingin memberi mereka makan dengan aman,” katanya kepada Reuters seperti dilansir Independent Sabtu (1/7/2023).
Aksi borong itu mengakibatkan kenaikan 27 persen harga garam di Korea Selatan pada bulan Juni dari harga dua bulan lalu, meskipun pihak berwenang mengatakan cuaca dan rendahnya pasokan garam juga menjadi penyebabnya.
Guna menjaga ketersediaan garam, pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk mengeluarkan sekitar 50 metrik ton garam dari gudang per hari dengan harga lebih murah 20 persen dari harga pasar sampai 11 Juli.
“Saya khawatir pembuangan air limbah tidak hanya mencemari (laut) dan menyebabkan masalah kesehatan, tetapi juga menaikkan harga garam dan makanan laut,” kata Park Young-sil, seorang wanita berusia 67 tahun saat berbelanja di sebuah pasar tradisional di Seoul.
Lebih dari 85 persen masyarakat Korea Selatan menentang rencana Jepang tersebut, menurut sebuah survei bulan lalu Research View. Tujuh dari 10 orang dilaporkan mengatakan bahwa mereka akan mengurangi konsumsi makanan laut jika pembuangan air limbah dilanjutkan.
Hyun Yong-gil, seorang pemilik toko grosir garam di Seoul, mengatakan kepada Reuters awal bulan ini bahwa penjualan meningkat “40 hingga 50 persen” meskipun harga melonjak.
“Saya datang untuk membeli garam tapi tidak ada yang tersisa,” kata Kim Myung-ok, 73 tahun. “Terakhir kali saya datang juga tidak ada.”
China mengutuk rencana pelepasan air limbah itu, menuduh Jepang kurang transparan dan mengatakan tindakan itu merupakan ancaman bagi lingkungan laut dan kesehatan orang-orang di seluruh dunia.
Jepang mengatakan telah memberikan penjelasan rinci dan didukung sains tentang rencananya kepada negara-negara tetangga.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Hirokazu Matsuno pelan lalu mengatakan bahwa Jepang melihat adanya peningkatan pemahaman dari tetangganya terkait rencana itu.
Rafael Mariano Grossi, direktur jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), berkata, “Metode yang dipilih Jepang layak secara teknis dan sejalan dengan praktik internasional.”
Grossi dijadwalkan mengunjungi Jepang pekan depan untuk bertemu dengan para pemimpin Jepang dan melihat persiapan akhir untuk pelepasan air limbah radioaktif yang sudah diolah tersebut.*