Hidayatullah.com—Seorang pria Belanda akan diadili dengan tuduhan melakukan penistaan agama dan merobek Al-Quran di luar parlemen. Edwin Wagensveld akan menghadapi pengadilan atas tuduhan penghinaan Al-Quran dan menyamakan kitab suci Islam dengan “Mein Kampf” buku yang ditulis Adolf Hitler, kata jaksa hari Selasa.
Edwin Wagensveld, 54, mengepalai kelompok anti-Islam Jerman Pegida cabang Belanda, pernah melakukan protes di Den Haag pada Januari 2023 lalu, kata media Belanda.
Jaksa mengatakan bahwa mereka membuka penyelidikan kriminal terhadap seorang warga negara Belanda berusia 54 tahun yang tinggal di Jerman atas insiden yang memicu kemarahan di dunia Muslim.
“Jaksa Penuntut Umum telah memutuskan untuk memanggil tersangka,” kata jaksa dalam cuitan di akun Twitter belum lama ini. “Dia akan hadir di pengadilan pada 10 Agustus nanti.”
Jaksa mencatat bahwa merobek Al-Quran bukanlah tindak pidana di Belanda, karena toleransi terhadap kritik agama. Namun, katanya, kata-kata Wagensveld dapat dianggap sebagai ‘penghinaan kelompok’ dan dapat dihukum berdasarkan KUHP Belanda yang menyatakan bahwa dengan siapa yang sengaja menghina sekelompok orang karena agama atau kepercayaannya adalah kejahatan.
Jika terbukti melakukan pelanggaran, itu dapat menyebabkan hukuman penjara minimal satu tahun atau denda 9.000 Euro.
Media Belanda melaporkan bahwa Edwin Wagensveld telah merobek Al-Quran sebelum membaca salinannya dengan mengatakan, “Al-Quran adalah buku fasis. Ini sama buruknya dengan Mein Kampf. Para pengikutnya memiliki ideologi yang sama dengan Hitler’, ”katanya dikutip AFP.
Pemerintah Turkiye telah memanggil duta besar Belanda setelah insiden yang juga menimbulkan ancaman terhadap konsulat Belanda di Istanbul. Ratusan orang kemudian mengadakan pawai damai di Istanbul, memprotes kebencian terhadap umat Islam.
Insiden pembakaran Al-Quran baru-baru ini terjadi di Eropa termasuk di Stockholm bulan lalu, ketika seorang pria membakar halaman kitab suci di luar masjid utama ibukota Swedia.
Tindakan Swedia untuk memberikan izin bagi organisasi protes membuat marah banyak orang, terutama di dunia Muslim, dan mendorong Turki untuk mengancam akan membatalkan tawaran Swedia untuk bergabung dengan aliansi pertahanan Trans-Atlantik Organisasi Atlantik Utara (NATO).
Anggota Parlemen anti-Islam Belanda, Geert Wilders, yang dinyatakan bersalah melakukan diskriminasi pada tahun 2016 terkait komentar yang dibuat tentang orang Maroko yang tinggal di Belanda sebelumnya, juga menyamakan Al-Quran dengan Mein Kampf, dan bahkan menggambarkan kedua buku tersebut perlu dilarang.*




