Hidayatullah.com – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada hari Senin mengatakan bahwa pengerahan pasukan penjaga perdamaian di Palestina membutuhkan “konsensus” di antara “negara-negara tetangga”.
Pernyataan pemimpin Malaysia ini lantaran ada pihak yang menuduh pemerintahnya menolak mengirim pasukan ke Palestina.
“Pihak-pihak tertentu di Malaysia mengklaim bahwa kami menolak untuk mengirim pasukan militer kami,” kata Anwar kepada parlemen Malaysia, menurut transkrip pidatonya yang dirilis di Bernama News yang dikelola pemerintah, Senin (16/10/2023).
“Para pemimpin militer kami juga telah meminta saya untuk menjelaskan bahwa tidak adil bagi pihak manapun untuk menyinggung masalah ini,” ujar Anwar.
Dia menambahkan: “Tanpa konsensus, pesawat yang membawa pasukan penjaga perdamaian atau bantuan kemanusiaan Malaysia tidak akan diizinkan untuk mendarat.”
“Ini bukan keputusan yang mudah untuk diambil. Jadi, saya berharap akan ada pemahaman yang lebih baik … jangan membingungkan masyarakat,” kata Anwar, seraya menyerukan doa untuk warga Palestina yang menderita.
Sebelumnya, Anwar Ibrahim mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan tekanan Barat untuk mengutuk kelompok bersenjata Palestina, Hamas.
Anwar mengatakan kepada parlemen bahwa Malaysia, sebagai sebuah pemerintahan, memiliki hubungan dengan Hamas dan hal ini akan terus berlanjut.
Sepuluh hari setelah konflik dengan kelompok Palestina Hamas, pemboman dan blokade Zionis di Jalur Gaza terus berlanjut, dengan lebih dari 1 juta orang – hampir setengah dari total populasi Gaza – telah mengungsi.
Gaza mengalami krisis kemanusiaan yang mengerikan dengan tidak adanya listrik, air, makanan, bahan bakar, dan pasokan medis yang semakin menipis, sementara warga sipil melarikan diri ke selatan setelah penjajah Zionis memperingatkan mereka untuk mengungsi dari wilayah utara.
Pertempuran dimulai ketika gerakan perlawanan Islam Hamas pada 7 Oktober meluncurkan Operasi Badai Al-Aqsa, sebuah serangan mendadak yang terdiri dari rentetan peluncuran roket dan penyusupan ke “Israel” melalui darat, laut dan udara. Dikatakan bahwa serangan tersebut merupakan pembalasan atas penyerbuan Masjid Al-Aqsa dan meningkatnya kekerasan pemukim.
Militer Israel kemudian meluncurkan Operasi Pedang Besi terhadap di Jalur Gaza.
Jumlah warga Palestina yang syahid dalam serangan udara “Israel” di Gaza meningkat menjadi 2.750 orang, termasuk 750 anak-anak. Sementara di pihak penjajah Zionis, 1.300 orang tewas.*