Hidayatullah.com– Kementerian Pendidikan Malaysia menarik diri dari Frankfurt Book Fair, dengan alasan sikap organisasi tersebut yang mendukung Israel, setelah rencana pemberian anugerah kepada seorang penulis Palestina dibatalkan. Langkah serupa diambil oleh sejumlah penerbit dari negara-negara Arab.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (16/10/2023), Kementerian Malaysia mengatakan bahwa mereka “tidak akan berkompromi dengan kekerasan Israel di Palestina, yang jelas-jelas melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia”.
Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah agenda pemberian anugerah kepada penulis Palestina Adania Shibli yang rencananya diadakan di pameran buku terbesar di dunia itu dibatalkan.
Pada akhir pekan kemarin, direktur Frankfurt Book Fair (Frankfurter Buchmesse), Juergen Boos, merilis pernyataan yang memaparkan rencana untuk memberikan waktu lebih di panggung bagi suara-suara dari kalangan Israel dan Yahudi menyusul “serangan teror barbar oleh Hamas”, dan mengutarakan”solidaritas penuh terhadap Israel”.
Namun, dalam sebuah pernyataan yang dibagikan kepada The Guardian pada hari Selasa (17/10/2023), Boos mengatakan bahwa “jutaan orang tak berdosa di Israel dan Palestina terkena dampak perang yang mengerikan ini” dan bahwa “simpati kami ditujukan kepada semua orang.”
Kementerian Malaysia itu mengatakan bahwa keputusan untuk mundur dari pameran buku tersebut, yang dijadwalkan digelar pada tanggal 18 sampai 22 Oktober, sejalan dengan sikap pemerintah Malaysia yang memberikan solidaritas dan dukungan penuh kepada rakyat Palestina.
Arab Publishers’ Association, Emirates Publishers Association dan Sharjah Book Authority juga menarik keikutsertaan mereka di Frankfurt Book Fair.
Menanggapi hal itu hari Senin Boos berkata, Kami sedih melihat sejumlah peserta pameran dari kawasan Arab menarik diri dari keikutsertaan mereka dalam pameran tahun ini.”
“Pameran buku Frankfurt melambangkan pertemuan damai orang-orang dari seluruh dunia. Sejak awal, pameran buku ini selalu tentang kemanusiaan dan fokusnya selalu pada wacana damai dan demokratis,” kata Boos kepada The Guardian.
“Kebebasan berekspresi adalah tulang punggung industri penerbitan kami. Hal ini merupakan DNA dari pameran buku Frankfurt dan makna dari pameran tersebut.””Kami tidak dapat mengomentari keputusan masing-masing peserta pameran, namun platform kami selalu terbuka untuk penulis, penerbit, penerjemah, dan penggemar sastra dari seluruh dunia. Tentu saja, Frankfurt Book Fair adalah platform bagi suara-suara Israel dan Palestina,” kata Boos.
Novelis kelahiran Palestina, Shibli, dijadwalkan menerima LiBeraturpreis 2023, sebuah hadiah tahunan yang diberikan kepada penulis perempuan dari belahan dunia selatan. Namun, pada hari Jumat (13/10/2023), LitProm – asosiasi yang mengelola pemberian anugerah tersebut, dan Boos menjabat sebagai presidennya – mengatakan akan menunda seremoni itu “karena perang yang dimulai oleh Hamas, yang menyebabkan jutaan orang di Israel dan Palestina menderita “.
Meskipun LitProm menganggap keputusan tersebut sebagai keputusan bersama, agensi sastra Shibli mengatakan kepada The Guardian bahwa keputusan tersebut dibuat sepihak oleh LitProm tanpa persetujuan atau sepengetahuan penulis.*