Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Novel Baswedan: Pejuang Kebenaran Pasti Dimusuhi

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 15 Juni 2020 11:30 11:30 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 15 Juni 2020 11:30
Bagikan
pegawai KPK, Novel
Wakil Ketua KPK Laode Syarif (kanan), Novel Baswedan (kiri), dan mantan Ketua KPK Abraham Samad di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/02/2018), setibanya Novel Baswedan (kiri) dari Singapura.
Bagikan

Hidayatullah.com | NAMA Novel Baswedan mencuat lagi. Seiring dibacakannya tuntutan hukuman pelaku penganiayaan terhadap dirinya.

Yang membuat publik terkejut, tuntutannya demikian ringan. Hanya 1 tahun. Sementara Novel, matanya mengalami cacat permanen. Publik berharap tuntutannya lebih berat, karena pelakukan oknum polisi yang tahu hokum dan mestinya melindungi rakyat.

Novel adalah penyelidik senior KPK. Banyak kasus besar ditanganinya. Termasuk kasus yang melibatkan orang besar di kepolisian.

Banyak tekanan dan ancaman diterima Novel. Mulai dari teror hingga usaha pembunuhan. Itu semua tak pernah membuat dia takut, apalgi mundur.

“Dari sini saya jadi paham, sesuatu yang nilainya besar, tantangannya juga besar. Saya juga menyadari, jika kita memperjuangkan kebenaran, pasti kita dimusuhi. Saya semakin paham saat berkaca kepada Rasulullah ﷺ, juga para Sahabat dan ulama. Beliau-beliau ini memperjuangkan kebenaran, dan karena itu dimusuhi banyak orang,” kata Novel, dikutip dari Majalah Suara Hidayatullah.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Mengapa Novel demikian berani dan kukuh? Inilah jawabannya.

Bagaimana ceritanya sehingga Anda bisa menjadi polisi?

Memang dulu banyak yang menentang saya masuk polisi. Bahkan seorang sahabat sampai mengancam akan memutuskan persahabatan kalau saya masuk polisi. Wah, gila!

Keluarga juga bertanya-tanya, “Kok polisi?” Tapi ibu saya mendukung.

Saya bilang ke teman itu, “Saya akan membuat perubahan. Jika tidak mampu, saya akan keluar.”

Alhamdulillah, janji itu saya tepati. Saya tidak mau mengambil jalan buruk untuk diri saya.. Saya tidak bisa diam kalau ada kezhaliman di sekitar saya.

Ketika di KPK, saya pernah menangani kasus salah satu petinggi Polri. Saya ditekan agar tidak menjangkau bos-bos. Saya bilang, tidak bisa. Saya berdasar fakta saja. Kalau fakta begini, ya begini.

Akhirnya, daripada terus diintervensi dan diancam, sudahlah saya mundur saja. Bagi saya itu mudah saja. Soal rezeki, Allah yang atur.

Anda tidak takut risiko?

Namanya risiko tentu ada. Namun Allah berfirman, “Sekali-kali tidak akan menimpa melainkan apa yang telah ditetapkan Allah.” (at-Taubah [9]: 51).

Ujian-ujian itu justru menguntungkan saya karena akan menjadi pengalaman yang memperkaya ruhani. Pengalaman seperti itu sangat mahal.

Pertanyaannya, apa kita takut dengan risiko-risiko itu? Padahal Allah sudah menjamin. Masak kita tidak percaya pada jaminan Allah?

Kalau benar-benar terjadi, bagaimana?

Yakinlah bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan, sayangnya Allah lebih 70 kali sayangnya ibu kepada anak kandungnya. Masak iya Allah yang begitu sayang akan memberi keburukan kepada hamba-Nya yang memperjuangkan kebenaran? Tentu jawabannya tidak mungkin.

Seringkali kita berpikir hanya menggunakan logika dan parameter dunia. Jika perspektifnya salah, itu yang membuat kita takut betulan. Takut membela kepentingan orang banyak. Takut membela agama. Takut kehilangan pekerjaan. Seolah rezeki bukan dari Allah, tapi dari gaji. Padahal Allah itu penentu atas segalanya.

 

Begitu pula insiden yang membuat mata Anda cacat?

Ini bukan keburukan. Jika menilai buruk, karena dia melihat dari sisi dunia saja. Memang hingga kini saya tak seberapa bisa melihat, namun itu akan menjadi tabungan saya di akhirat. Balasan dari Allah akan jauh lebih besar.

Pertama, jika dihitung waktu akhirat, kita hidup di dunia hanya 1½ jam. Kedua, Allah menjanjikan balasan yang sangat besar, bahkan tak terhingga. Dengan keuntungan seperti itu, sedikit kehilangan kenikmatan di dunia berupa mata yang tak bisa melihat, saya harus bersedih? Tentu saja tidak.

Sepanjang saya diberi umur, saya akan terus berjuang. Apa yang saya lakukan di dunia belumlah cukup untuk bekal di akhirat. Bahkan Imam Syafi’i, menjelang wafat menyatakan ke para muridnya, beliau menyesal karena merasa kurang amalnya. Nah, apalagi kita?

Kalau masih ada rasa takut, apa yang Anda takuti?

Takut berbuat tidak benar. Takut tergoda. Takut meremehkan hal-hal yang kecil. Takut takabur. Merasa sukses karena diri sendiri. Melupakan Allah. Semuanya ini sangat berat dan sulit. Kadang secara tidak sengaja kita melakukan itu. 

Bagaimana caranya terhindar dari apa yang Anda takuti itu?

Memperbanyak instropeksi diri, mendengarkan masukan, kritik, atau bahkan celaan orang dengan berpikir positif. Dan tentunya memperbanyak ibadah dan mengingat Allah SWT. 

Sejak kapan belajar agama secara mendalam?

Saya akui, saya belajar agama secara lebih sungguh-sungguh tidak sejak awal. Tetapi sejak saya menghadapi berbagai masalah. Dari agama inilah saya mendapat perspektif bahwa (risiko-risiko) itu bukan penderitaan. Atas izin Allah, saya lebih bisa memahami segala sesuatu yang menimpa saya dengan kaca mata keimanan. Itu semua menambah keyakinan.

Menurut saya, takdir itu sangat jelas dan sangat pakem. Ada teman yang menyanggah, saya diminta melempar bayi dari gedung lantai 10. Pasti bayi itu mati. Benar juga, kata saya dalam hati saat itu.

Pada tahun 2000 saya menjadi komandan pengamanan di Aceh. Pasukan saya pernah diberondong tembakan. Logikanya, saya tentu mati. Namun nyatanya tidak. Sulit menjelaskan dengan akal. Dengan teori probabilitas apapun, itu tak bisa dijelaskan.

Kenapa saya tidak tertembak? Karena Allah belum takdirkan. Dari situ kayakinan saya kepada Allah semakin kuat. Bahwa takdir itu tidak meleset sedikit pun.

Saat ketemu lagi dengan teman yang menyuruh melempar bayi tadi, saya bilang, “Anda salah.” Pertama, bisa jadi hati orang yang akan melempar itu tidak tega sehingga tak jadi dilempar. Kedua, dia dicegah orang lain. Ketiga, kalau toh bayi itu dilempar, ada saja caranya bayi itu selamat, kalau dia belum ditakdirkan mati.

Takdir itu seperti anyaman besi. Sangat kokoh. Tidak seperti teori sosial yang bisa ditarik ke kanan dan ke kiri. Semua yang di al-Qur`an dan Sunnah itu seperti anyaman besi yang sangat kokoh. Tidak goyang. Keyakinan seperti itu yang mestinya kita pegang sebagai seorang Muslim.

Membela kepentingan orang banyak, amar ma’ruf nahi munkar, dan menyampaikan atau berdiri di atas kebenaran, itu jihad yang besar. Bagaimana mungkin kita melakukan amal besar bila di dalam hati ada ketakutan atau keraguan? Bagaimana kita bisa punya tekad bila tidak ada iman?

Jika pekerjaan kita membahayakan atau mengancam jiwa kita, sebenarnya itu menguntungkan kita. Setidaknya, itu membuat kita menjadi lebih taat beribadah. Menjadikan hanya Allah tempat bergantung. Malah, kelonggaran justru bisa membuat kita cenderung lalai dan santai.

Tidak ada sedikit pun kerugian bagi orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Yang ada adalah keutungan demi keuntungan. Itulah kemuliaan.

Saya punya beberapa kawan yang memilih hidup pada jalan yang aman-aman saja. Beberapa di antara mereka sudah meninggal duluan. Itu semakin menguatkan bahwa tidak berarti orang yang mengambil jalan penuh bahaya atau risiko itu bakal lebih cepat matinya. Bahwa yang mengambil hidup aman hidupnya lebih panjang. Tidak begitu.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:air kerashukumindonesiaKorupsiKPKNovel Baswedanteror
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Abraham Samad: Pelaku 3 Kasus Penyiram Air Keras Ini Dihukum Lebih 8 Tahun
Tulisan selanjutnya Pasar Induk Jadi Pusat Penularan Baru Coronavirus di Beijing

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?