Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Di Jepang Orang Mati Harus Antre Lama

Ama Farah
Terakhir diupdate: 28 November 2023 14:55 2:55 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 28 November 2023 14:51
Bagikan
KURIHARA, JAPAN - MARCH 24 : A crematorium worker gets ready to close the door with the coffin of Katsuko Oyama, who was killed by the tsunami into the oven during a cremation on March 24, 2011 in Kurihara, Miyagi, Japan. The family lost three family members from the earthquake and tsunami. Under Japanese Buddhist practice, a cremation is the expected traditional way of dealing with the dead, but now with the death toll so high, crematoriums are overwhelmed and there is a shortage of fuel to burn them. Local municipalities are forced to dig mass graves as a temporary solution. Almost two weeks after the magnitude 9 earthquake and tsunami struck Japan the death toll has risen to well over 9,200 dead with thousands missing and the expectation is that it will end up well over 20,000. Presently the country is still struggling to repair a damaged nuclear power plant that has caused tremendous problems, evacuations, and has tainted water supply in the Tokyo area. (Photo by Paula Bronstein /Getty Images)
Bagikan

Hidayatullah.com– Setelah kehilangan paman saya yang berusia 90-an tahun pada musim gugur tahun ini, saya bergegas mengeluarkan pakaian berkabung dari dalam lemari kalau-kalau harus segera menghadiri pemakamannya. Akan tetapi, ternyata pemakaman paman saya belum akan digelar sampai setidaknya enam hari kemudian, dikarenakan krematorium terdekat sudah penuh di-booking.

Begitu pembukaan tulisan Toshihiro Yamanaka di Asahi Shimbun, Selasa (28/11/2023), memulai ulasannya tentang antrean orang mati untuk dikremasi, menggambarkan salah satu dampak populasi Jepang yang menua.

Daftar tunggu yang panjang untuk kremasi sudah menjadi hal yang biasa selama bertahun-tahun di wilayah metropolitan sekitar ibukota Jepang, menurut seorang ahli.

“Masalahnya relatif lebih serius di bagian timur Jepang, dibandingkan di bagian barat negeri ini,” kata Mutsumi Yokota, 58, seorang peneliti senior di All Japan Cemetery Association.

“Keluarga-keluarga harus menunggu delapan sampai 10 hari di prefektur Tokyo dan Kanagawa,” ujarnya.

Baca Juga

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Asosiasi tersebut merilis hasil surveinya tentang kondisi krematorium dan rumah duka di seluruh penjuru Jepang pada musim panas tahun ini.

Didanai oleh Kementerian Kesehatan, survei itu merupakan kajian berskala besar pertama yang mengungkap kesulitan yang dihadapi 25 persen responden untuk menyimpan jasad sebelum proses kremasi.

Dalam banyak kasus, sejumlah agen khusus dibayar untuk menyimpan jasad dengan biaya umumnya 10.000 ($66) sampai 20.000 yen per hari. Jasad orang yang meninggal hanya dapat disimpan – dengan memenuhi standar tertentu – di rumah dan kuil untuk waktu yang terbatas.

Di tengah pesatnya penuaan populasi Jepang, terdapat lebih dari 1,56 juta orang meninggal dunia pada tahun lalu saja dan itu merupakan rekor tertinggi. Angka tersebut diproyeksikan akan terus meningkat dan mencapai puncaknya sekitar tahun 2040.

Namun, hanya sedikit pemerintah daerah yang berupaya untuk membangun lebih banyak krematorium.

“Tempat kremasi seringkali dipandang tidak menyenangkan, sehingga pendiriannya memerlukan waktu lebih dari satu dekade guna meyakinkan warga dan mendapatkan lokasi yang sesuai,” kata Yokota. “Alasan lain mengapa pemerintah daerah menahan diri untuk tidak mengadakan fasilitas tersebut secara sembarangan adalah perkiraan penurunan permintaan krematorium dalam 20 tahun dari sekarang.”

Guna mengatasi permasalah di atas, operator krematorium membuat kebijakan sendiri.

Saat ini mereka menerima mayat untuk dikremasi pada pagi dan malam hari, padahal sebelumnya jasad orang mati hanya dibakar pada siang hari. Fasilitas yang selama ini terbengkalai juga difungsikan kembali.

Sejumlah operator bahkan dikabarkan tetap menjalankan bisnisnya termasuk pada hari-hari yang secara tradisional dianggap “tidak bagus” bagi pelanggan yang percaya takhayul.

Di belahan dunia lain, sanak atau kerabat tidak harus bergegas untuk menyelenggarakan pemakaman orang yang mereka kasihi, tidak seperti di Jepang.

Itaru Takeda, 58, pimpinan Association of Research Initiatives for Cremation, Funeral and Cemetery Studies, mengatakan layanan pemulasaraan jenazah tersedia banyak di Amerika Serikat. Mereka dapat merias dan mendandani serta mengawetkan jasad agar tidak segera membusuk dan cukup bertahan lama sebelum proses pemakaman.

Upacara pelepasan tidak dilakukan tergesa-gesa, sehingga sanak keluarga, kerabat dan handai taulan dari tempat yang jauh memiliki waktu untuk datang sebelum pemakaman. 

“Orang mengucapkan selamat tinggal dengan khidmat perlahan, tidak terburu-buru karena si mayat harus segera dibawa ke pemakaman,” papar Takeda. “Budaya pemakaman seperti itu sudah biasa di banyak negara.”

Di hari pemakaman paman saya, sebanyak 15 tungku api beroperasi serentak dengan kemampuan penuh di krematorium, sementara sekelompok orang berpakaian khusus belasungkawa bergerak dengan secepat mungkin mengangkut jasad si mati ke dalam ruang pembakaran.

Membayangkan suatu hari nanti mungkin jasad saya juga akan dibawa dengan tergesa-gesa seperti itu, sungguh membuat hatiku layu, pungkas Yamanaka.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Jepangkrematorium
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Murid Albani, Syeikh Abu Ishaq Al-Huwaini: Hamas Itu Sunni
Tulisan selanjutnya Media Israel: Tak Ada Bukti Hamas Melakukan Kekerasan pada Tawanan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

3 Juni 2026 13:30
Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

3 Juni 2026 13:00
Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

3 Juni 2026 12:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?