Hidayatullah.com– Sekelompok sukarelawan yang dipimpin oleh penulis dan pemengaruh Mesir Mirna El Helbawi menggalang donasi eSIM, kartu ponsel digital, untuk warga Gaza supaya mereka tetap dapat memberikan kabar dan terkoneksi dengan orang-orang tercinta di luar.
Pada akhir Oktober 2023, ketika saluran komunikasi di Gaza terputus pertama kali sejak invasi pasukan Zionis Israel, Mirna El Helbawi berupaya mencari alternatif untuk memulihkan komunikasi dengan orang-orang di Gaza.
Bekerja sama dengan Palang Merah Palestina dan bantuan dari pengikutnya di media sosial, El Helbawi pertama-tama berusaha melobi perusahaan penyedia layanan internet satelit Starlink, milik Elon Musk, tetapi tidak membuahkan hasil.
Ketika dia menyampaikan masalah itu kepada pengikutnya, dia menerima pesan dari salah satunya yang menyarankan eSIM. Versi digital dari kartu SIM klasik itu dapat dikoneksikan ke telepon dan jaringan internet secara jarak jauh berkat sebuah chip yang sudah dibenamkan ke dalam ponsel pintar model terbaru.
El Helbawi sudah menggunakannya kala bepergian dan memutuskan untuk mencari tahu apakah eSIM juga dapat dipergunakan di Gaza. Dia membeli dua dan mengirim kode QR-nya ke dua jurnalis ternama di Gaza, Ahmed El-Madhoun dan Hind Khoudary. Setelah proses aktivasinya berhasil, El Helbawi kemudian meluncur penggalangan donasi online #ConnectingGaza, meminta masyarakat untuk membeli lebih banyak eSIM untuk dipakai orang di Gaza supaya wilayah Palestina yang sedang dibombardir Zionis itu tidak terisolasi total.
Dilansir El Pais Selasa (30/1/2024), sampai saat ini El Helbawi dan 10 temannya di Mesir yang memimpin inisiatif Connecting Humanity telah berhasil mengirimkan lebih dari 130.000 eSIM, dengan nilai lebih dari $2,5 juta, ke Gaza.
“Ketika saya memulai inisiatif ini saya pikir saya akan mengirimkan paling banyak 1.000 eSIM. Namun, saya terkejut dengan banyaknya orang yang memintanya dan betapa pentingnya itu,” kata El Helbawi, seraya menambahkan bahwa sejak awal dia belum beristirahat karena jumlah permintaan eSIM terus berdatangan.
Menurut organisasi pemantau jaringan internet NetBlocks, Gaza mengalami sedikitnya 10 kali pemutusan hampir seluruh jaringan telekomunikasi sejak Zionis Israel melakukan invasi. Pemutusan jalur telekomunikasi itu sekali mati bisa berlangsung selama beberapa jam dan bahkan beberapa hari.
Meskipun jaringan telepon di Gaza berangsur membaik belakangan ini, tetapi koneksi internet masih terkendala saat laporan ini dibuat oleh jurnalis El Pais.
Alp Toker, direktur NetBlocks, mengatakan bahwa penyebab gangguan layanan komunikasi itu tidak selalu mudah untuk dipastikan. Dalam kondisi perang biasanya disebabkan oleh serangan langsung terhadap infrastruktur telekomunikasi atau gangguan pada pasokan listrik.
Konsekuensinya luas. Masyarakat di daerah konflik tidak dapat memantau di mana daerah yang menjadi target serangan Zionis, dan ke mana kiranya mereka harus mengungsi. Sudah tentu komunikasi dengan keluarga, kerabat dan sahabat pasti terganggu atau bahkan terputus.
Petugas kedaruratan juga mengalami kendala dalam menjalankan tugas dan, karena mereka kesulitan untuk menghubungi pihak-pihak terkait dan menemukan lokasi orang yang membutuhkan bantuan.
Mulanya, El Helbawi meminta data telepon orang dekat dari orang yang sudah terkoneksi dengan eSIM untuk memperluas jaringannya. Namun, sekarang dia dan timnya sudah memiliki sejumlah orang terpercaya di Gaza, yang bertugas membagikan kode QR dan membantu untuk aktivasinya.
“Di empat atau lima hari pertama, kami memberikan prioritas kepada jurnalis dan tenaga medis. Namun, kami kemudian menyadari bahwa komunikasi dan akses internet saat ini sudah menjadi hak dasar manusia, karena itu kami membagikan eSIM kepada semua orang,” kata El Helbawi.
Donasi eSIM dapat dilakukan oleh siapa saja dari belahan dunia manapun. Donatur hanya perlu membelinya dari perusahaan telekomunikasi yang memberikan layanan di Jalur Gaza, mengirimkan kode QR-nya kepada tim relawan di Mesir, dan menunggu seseorang yang akan terhubung dengannya. Tim El Helbawi membuat panduan dan sebuah website untuk memaparkan secara jelas langkah-langkah yang harus dilakukan untuk dapat memberikan donasi eSIM.
Meskipun eSIM memungkinkan puluhan ribu orang di Gaza dapat tetap terkoneksi, bukan berarti tidak ada bahaya yang mengancamnya.
SMEX, organisasi yang memperjuangkan HAM di ruang digital di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, memperingatkan bahwa informasi pribadi donatur dan penerima eSIM rawan bocor dan disalahgunakan. Namun, El Helbawi menegaskan bahwa timnya sengaja dibuat sekecil mungkin guna meminimalisir risiko semacam itu.
Pemutusan jalur komunikasi dan internet di Gaza menunjukkan wilayah Palestina itu sangat bergantung langsung pada layanan telekomunikasi dari pihak Zionis.
Kementerian Telekomunikasi Gaza sudah meminta otoritas Mesir izin penggunaan menara dan stasiun bergerak dekat perbatasan Gaza untuk memberikan layanan kepada pengguna di Gaza. Namun, sejauh ini belum ada respon ke arah sana.
“Infrastruktur mendasar [di Gaza] sangat bergantung kepada Israel, dan tidak ada tautan koneksi utama dengan Mesir, dengan alasan geopolitik,” kata Toker.
“Secara teori, mereka [Gaza] bisa membuat jalur dan koneksi melalui Mesir, tetapi Mesir sebagai negara tampaknya tidak bersemangat untuk mendukung ide itu,” imbuhnya.*