Hidayatullah.com—Amerika Serikat hari Jumat (30/8/2019) mengancam akan memberikan sanksi kepada siapa saja yang memberikan dukungan kepada tanker Iran Adrian Darya 1.
Sebelumnya menggunakan nama Grace 1 dan bendera Panama, kapal tersebut mondar-mandir di Laut Mediterania setelah sempat ditahan selama enam pekan di Gibraltar dengan sangkaan membawa minyak untuk Suriah, yang merupakan pelanggaran terhadap sanksi yang dikeluarkan oleh Uni Eropa.
Dilansir DW, Departemen Keuangan Amerika Serikat menyatakan bahwa kendaraan laut itu sekarang merupakan “bloked property” berdasarkan perintah eksekutif yang menarget teroris dan pihak-pihak yang mendukung terorisme.
Sanksi Amerika Serikat itu juga mengenai kapten kapal berkebangsaan India, Akhilesh Kumar, 43.
“Barang siapa yang memberikan dukungan kepada Adrian Darya 1 berisiko dikenai sanksi,” kata Sigal Mandelker, wakil menteri AS bidang terorisme dan intelijen keuangan.
Wanita pejabat tinggi AS itu mengatakan bahwa kapal-kapal seperti Adrian Darya 1 memungkinkan Iran “mengirimkan minyak dalam jumlah besar, yang mereka upayakan untuk disamarkan dan dijual secara tidak sah guna mendanai aktivitas-aktivitas jahat rezim.”
Setelah tanker itu ditangkap marinir Inggris pada 4 Juli, Washington menekan Gibraltar –koloni Inggris di bagian selatan Spanyol– agar menyita kapal tersebut berikut isinya yaitu 2,1 juta barel minyak.
Amerika Serikat bersikukuh menyatakan pemilik sesungguhnya Adrian Darya 1 adalah Garda Revolusi Iran, organisasi paramiliter yang patuh hanya kepada pemimpin spiritual Syiah Iran tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.
Tanker itu dilepaskan otoritas Gibraltar pada 15 Agustus setelah Teheran berjanji bahwa minyak yang diangkutnya –bernilai sekitar $140 juta– tidak akan melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.
Hari Senin (26/8/2019), Iran mengatakan bahwa pihaknya “telah menjual minyak itu” kepada pembeli luar negeri, tetapi menolak untuk menyebutkan identitas pembelinya karena takut mereka akan dikenai sanksi oleh AS. Teheran mengatakan pembeli minyak itulah yang selanjutnya memutuskan ke mana tanker Adrian Darya 1 akan berlayar.
Pakar-pakar perminyakan berkeyakinan Iran masih berencana untuk memindahkan minyak itu dari kapal ke kapal, dan sepertinya memang Suriah adalah tujuan akhir dari pengiriman minyak tersebut.
Sejak tanker itu dilepas dan meninggalkan Gibraltar, banyak spekulasi ke mana akhirnya tanker itu akan berlabuh dan mengeluarkan muatan minyaknya. Baik Libanon maupun Turki membantah bahwa tanker itu akan bersandar di salah satu pelabuhan mereka, meskipun sebelumnya website pemantau trafik perjalanan kapal-kapal di laut menunjukkan Adrian Darya 1 akan berlabuh di Turki.
Ketika berita ini ditulis, Sabtu (31/8/2019), tanker tersebut terpantau masih berada di Laut Mediterania (Laut Tengah) tidak jauh dari sisi barat Siprus, negara pulau kecil yang tidak jauh dari Libanon dan dekat ke Turki, negara yang sedang mengupayakan pembentukan zona bebas militer di utara Suriah yang berbatasan dengan wilayah Turki.*