Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

HRW: Rezim Cina Menghapus Nama Ratusan Desa yang Berbau Agama Islam dan Budaya Uyghur

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 22 Juni 2024 18:54 6:54 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 22 Juni 2024 19:00
Bagikan
HRW: Rezim Cina Menghapus Nama Ratusan Desa yang Berbau Agama Islam dan Budaya Uyghur
HRW: Rezim Cina Menghapus Nama Ratusan Desa yang Berbau Agama Islam dan Budaya Uyghur
Bagikan

Hidayatullah.com – Pemerintah Cina secara sistematis telah mengubah nama ratusan desa yang memiliki makna agama, sejarah, atau budaya bagi warga Uyghur. Namanya diselaraskan dengan ideologi Partai Komunis Cina. Demikian laporan terbaru dari Human Rights Watch (HRW) yang dilansir Selasa (18/06/2024).

Daftar isi
  • Bagian dari Penindasan
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

HRW bekerja sama dengan organisasi advokasi Norwegia, Uyghur Hjelp, telah mengidentifikasi sedikitnya ada 630 desa di wilayah barat Turkistan Timur (Xinjiang) yang namanya telah diubah. Temuan itu berdasar data dari tahun 2009 hingga 2023 di website Biro Statistik Nasional Cina.

“Pihak berwenang Cina telah mengubah ratusan nama desa di Xinjiang dari nama yang bermakna bagi Uyghur menjadi nama yang mencerminkan propaganda pemerintah,” kata Maya Wang, pejabat Direktur Cina di HRW.

“Perubahan nama ini tampaknya merupakan bagian dari upaya pemerintah Cina untuk menghapus ekspresi budaya dan agama orang Uyghur,” tambahnya.

Bagian dari Penindasan

Menurut HRW, sebagian besar perubahan nama desa terjadi antara tahun 2017 dan 2019, saat puncak kampanye keras terhadap warga Uyghur. Dalam waktu yang sama, dihapus pula referensi sejarah Uyghur, termasuk nama kerajaan, republik, dan pemimpin lokal sebelum Republik Rakyat Cina didirikan pada tahun 1949.

Baca Juga

Audiensi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam membahas potensi dan tata kelola pelaksanaan dam Haji di Indonesia, termasuk peluang pemanfaatan daging dam bagi masyarakat yang membutuhkan di Jakarta, Rabu (292026). ANTARAHO-Baznas RI
Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Nama-nama desa yang diubah adalah yang mengandung istilah atau merujuk pada praktik budaya Uyghur, seperti mazar (kuil) dan dutar (kecapi berdawai dua). Namanya diganti dengan bahasa Mandarin yang mengandung makna kebahagiaan, persatuan, dan harmoni.

Salah satu contoh adalah Desa Qutpidin Mazar di Kashgar. Nama itu diambil dari penyair Persia abad ke-13, Qutbudin al-Shirazi. Sejak tahun 2018, namanya diganti menjadi Meigui Huacun, yang artinya Desa Mawar. Sementara Desa Dutar di Kabupaten Karakax, pada 2022 diganti namanya menjadi Honqi Cun, yang artinya Desa Merah.

Uyghur Hjelp mewawancarai 11 warga Uyghur yang tinggal di desa-desa yang namanya telah diubah. Rupanya perubahan itu menimbulkan kesulitan baru bagi mereka.

Seorang warga mengaku kesulitan untuk pulang ke rumah setelah dia dibebaskan dari kamp konsentrasi. Penyebabnya, nama desa yang dia tahu tidak lagi ada dalam sistem tiket.

Sebagaimana diketahui, rezim komunis Cina pada tahun 2018 diduga telah menahan lebih dari 1 juta warga Uyghur dan etnis minoritas Turkistan lainnya. Mereka dimasukkan ke kamp konsentrasi untuk dididik ulang, karena dianggap “ekstremis” dan “teroris”.

Data itu diperoleh oleh para aktivis, peneliti, dan akademisi dari kebocoran dokumen resmi pemerintah Cina, serta kesaksian dari warga Uyghur sendiri. Di tahanan atau penjara, warga menjadi sasaran indoktrinasi komunis dan pelanggaran HAM, mulai dari larangan mempraktikkan ajaran agama Islam, pemisahan dari keluarga, penyiksaan, pemerkosaan, hingga sterilisasi paksa.

Kepala HAM PBB saat itu, Michelle Bachelet, meminta akses ke Turkistan Timur ketika laporan pelanggaran HAM di kamp konsentrasi mencuat. Dia akhirnya diizinkan berkunjung pada tahun 2022 dan menyimpulkan bahwa telah terjadi “pelanggaran HAM yang serius” dan “mungkin merupakan kejahatan internasional, khususnya kejahatan terhadap kemanusiaan ”.

Abduweli Ayup, pendiri Uyghur Hjelp, mendesak dunia internasional agar berbuat lebih banyak untuk menekan Cina atas situasi di Turkistan Timur. Menurutnya, hingga kini masih ada ratusan ribu orang Uyghur yang dipenjara secara tidak sah.

“Pemerintah yang peduli dan kantor HAM PBB harus mengintensifkan upaya untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah Cina atas pelanggaran yang mereka lakukan di wilayah Uyghur,” katanya.* Pambudi

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinaHeadlineuighurUyghurxinjiang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kanada Masukkan Garda Revolusi Iran dalam Daftar Teroris
Tulisan selanjutnya AS Berjanji Dukung Penuh ‘Israel’ dalam Perang Melawan Hizbullah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Berita
31 Agustus 2026 11:10
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing

Terbaru

  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

2 September 2026 20:21
Berita

Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

2 September 2026 20:18
Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

2 September 2026 20:16
Berita

Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

2 September 2026 20:14
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?