Hidayatullah.com—Hari Ahad (8/12/2024) faksi oposisi telah mengumumkan kemenangan setelah melancarkan serangan terbesar terhadap pemerintah Suriah selama bertahun-tahun.
Jatuhnya Rezim Bashar yang telah bercokol selama 24 tahun setelah milisi oposisi berhasil menguasai beberapa wilayah di seluruh negeri, mencakup sebagian besar wilayah Aleppo, lapor BBC, mengutip pemantau Suriah.
Pejuang oposisi juga merebut kota penting lainnya di Suriah tengah, Hama, pada hari Kamis (5/12/2024) dan, pada saat berita ini dimuat, mendekati pusat kota Homs.
Jika pejuang oposisi berhasil merebut Kota Homs dalam serangan kilat baru mereka, memutus akses ke ibu kota Damaskus, menurut laporan Reuters.
Kota ini adalah benteng minoritas Alawi pimpinan Bashar al-Assad dan juga, di mana sekutunya Rusia memiliki pangkalan angkatan laut dan pangkalan udara.
Ini adalah kota besar ketiga, setelah Aleppo dan Hama di barat laut dan tengah, yang jatuh dari kendali Presiden Bashar al-Assad dalam waktu seminggu.
Pejuang oposisi Suriah terus menantang kendali Presiden Assad sementara Iran mengejar waktu untuk mengirimkan dukungan.
Pasukan pemerintah Suriah juga telah kehilangan kendali atas kota Dara’a, sehingga memberikan pukulan lain terhadap pemerintahan Presiden Assad.
Revolusi Suriah
Mengapa terjadi perang di Suriah? Ini adalah perang yang terjadi bermula saat rangkaian peristiwa regional yang lazim dijuluki “Musim Semi Arab” (Arab Spring) tahun 2011.
Tepat Maret 2011, sekelompok remaja menuliskan grafiti di dinding kota Daraʼa; “Sebentar lagi giliran Anda Dokter…” yang ditujukan kepada Presiden Bashar Al-Assad, seorang dokter spesialis mata, yang sejak tahun 2000 mewarisi kekuasaan tangan besi ayahnya Hafez Al-Assad, yang berkuasa selama 30 tahun.
Remaja tersebut ditangkap aparat intelijen lokal di Daraʼa dan di penjara Swaida, lalu disiksa. Dalam waktu dua minggu sesudah penangkapan dan penyiksaan, terjadilah gelombang demontrasi massa menuntut reformasi, yang dijuluki Revolusi Suriah.
Yang Perlu Diketahui: Apa Perang Suriah, Rezim Bashar dan Keterlibatan Syiah? [1]
Gerakan rakyat menuntuk keadilan ini kemudian dijawab dengan penembakan, pembunuhan, penangkapan, dan penyiksaan berskala luas oleh Rezim Bashar, berubah menjadi perang saudara yang menghancurkan negara tersebut dan menarik perhatian kekuatan regional dan asing.
Lebih dari setengah juta orang telah meninggal dan 12 juta lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka, dan sekitar lima juta di antaranya kini menjadi pengungsi atau pencari suaka di luar negeri, terbanyak di Turki.
Sebelum serangan pejuang oposisi, perang tampaknya telah berakhir setelah pemerintahan Presiden Assad berhasil mendapatkan kembali kendali atas kota-kota tersebut dengan dukungan Rusia, Iran, dan milisi-milisi Syiah.
Mengenal 15 Milisi Syiah Yang Dukung Bashar di Suriah [1]
Meski begitu, sebagian besar negara masih berada di luar kendali pemerintah. Ini termasuk wilayah utara dan timur yang dikuasai aliansi bersenjata pimpinan Kurdi dan dukungan AS.
Kubu pejuang oposisi yang tersisa berada di provinsi barat laut Aleppo dan Idlib, yang berbatasan dengan Turki dan merupakan rumah bagi empat juta orang. Kebanyakan dari mereka telah kehilangan tempat tinggal.
Wilayah barat daya dikuasai kelompok Hay’at Tahrir al-Sham (HTS).
Namun faksi pejuang oposisi yang didukung Turki, yang dikenal sebagai Tentara Nasional Suriah (SNA), juga menguasai wilayah di sana dengan dukungan pasukan Turki.
Suriah: Kisah Sebuah Revolusi [Bagian 1]
Siapa Hay’at Tahrir Sham?
Hay’at Tahrir Syam (HTS) didirikan pada tahun 2021 setelah membubarkan Jabhah al-Nusra. Jabhah Al-Nusra dianggap sebagai salah satu kelompok paling efektif dan berbahaya dalam menentang Presiden Assad.
Pergantian nama ini dilakukan setelah melakukan evaluasi, memiliki jalan lebih moderat dan memutus hubungan dengan Al-Qaeada. Meski telah berganti, seperti biasa, Amerika Serikat, Barat dan Iran, tetap mengaitkannya dengan al-Qaeda.
HTS memperoleh kekuatannya di Idlib dan Aleppo dengan mengalahkan ISIS dan Al-Qaeda. untuk mengatur wilayah tersebut, lapor BBC.
Selama bertahun-tahun, Idlib tetap menjadi medan pertempuran ketika pasukan pemerintah Suriah berusaha merebut kembali kekuasaan di sana.
Namun pada tahun 2020, Turki dan Rusia menjadi perantara gencatan senjata untuk menghentikan upaya pemerintah untuk mendapatkan kembali kendali atas Idlib. Gencatan senjata diadakan dengan sesekali pertempuran kecil.
Pada bulan Oktober, utusan khusus PBB untuk Suriah mengatakan HTS telah melancarkan serangan besar-besaran di wilayah yang dikuasai Rezim Bashar, Rusia bahkan telah melanjutkan serangan udara untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, dan pasukan pro-Bashar telah secara signifikan meningkatkan serangan pesawat tak berawak dan pemboman.
Puncaknya, Rabu (4 Desember 2024), HTS melancarkan serangan ketika pemerintah Suriah dan sekutunya sibuk dengan konflik lain.
Di antara faktornya adalah ketika Rusia sibuk perang dengan Ukraina, dan milisi Syiah Hizbullah Lebanon yang didukung Iran, yang selama ini merupakan faktor kunci penting pertahanan Bashar Assad mulai melemah menghadapi serangan penjajah ‘Israel’.*