Hidayatullah.com—Seorang pria yang membuat pengakuan palsu bahwa dirinya adalah salah satu korban selamat dalam serangan bom bunuh diri tahun 2015 di teater Bataclan, Paris, telah dijatuhi hukuman penjara.
Hari Jumat (1/12/2017), pengadilan di Versailles, sebelah barat Paris, menghukum Cedric Rey dua tahun penjara, 18 bulan di antaranya berupa hukuman bersyarat, atas dakwaan berusaha melakukan penipuan untuk mendapatkan santunan dari negara sebagai korban terorisme.
Cerita Rey perihal serangan 13 November 2015 banyak dikutip media. Dia bahkan bercerita dan mengunjungi lokasi di mana dia berada ketika serangan teror terjadi waktu itu, dengan disorot kamera televisi AFP.
Sopir ambulan berusia 29 tahun itu mengaku sedang minum-minum dengan dua temannya di luar Bataclan, ketika 3 orang yang diklaim terkait ISIS, menyerang lokasi konser musik tersebut, dengan meledakkan bom dan melancarakan tembakan sehingga sekitar 90 orang tewas.
Rey mengklaim salah satu pelaku menodongkan senjata api ke arahnya dan melepaskan tembakan, tetapi justru terkena seorang wanita hamil yang melintas di depannya.
Setelah serangan itu, Rey berusaha mendapatkan santunan dari pemerintah yang diperuntukkan para korban serangan terorisme. Namun, aplikasinya ditolak setelah dia gagal menyerahkan dokumen-dokumen yang disyaratkan untuk mendukung klaimnya.
Tidak hanya itu, pemuda tersebut bahkan bergabung dengan kelompok korban yang selamat dari serangan tersebut, Life for Paris, bersama dengan orang-orang yang lolos dari maut. Dia pun membuat tato di bagian lengan bawah kanannya untuk mengenang peristiwa itu, gambar wanita Marianne yang merupakan simbol Republik Prancis dengan bangunan Bataclan di belakangnya.
Polisi menjadi curgia dengan cerita Rey setelah mendapati beberapa kejanggalan, termasuk fakta tidak ada wanita hamil yang tewas dalam peristiwa itu.
Polisi kemudian menelusuri keberadaan Rey di waktu sekitar kejadian dengan menggunakan data telepon genggamnya. Ternyata Rey berada sekitar 30 km jauhnya dari Bataclan ketika serangan terjadi, dan baru muncul di luar Bataclan sekitar tengah malam ketika kejadian tersebut sudah berlalu.
Rey, yang sekarang tinggal di Kaledonia Baru, teritori Prancis di Pasifik Selatan, sudah mengakui cerita palsu yang dikarangnya.
Saat mengunjungi Prancis bulan Oktober lalu, dia menyerahkan diri ke polisi.
Pemuda itu ditempatkan dalam tahanan sambil menunggu persidangan dan diperintahkan menjalani tes kejiwaan.
Pengacara Rey menolak untuk memberikan komentar perihal kasus yang ditanganinya dan mengatakan kliennya tidak lagi bersedia berbicara kepada media, lapor RFI Sabtu (2/12/2017).
Sedikitnya 7 orang sudah dinyatakan bersalah melakukan penipuan dengan tujuan mendaparkan dana kompensasi dari pemerintah, dengan mengaku-aku sebagai korban selamat dari serangan teror di Paris yang beruntun dengan serangan di Stade de France dan di sejumlah restoran di Paris bagian timur, yang merenggut total 230 nyawa.*