Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Tinggalkan Amerika untuk Gabung IDF, Eh, Pria Yahudi Ini Malah Masuk Islam

Ahmad
Terakhir diupdate: 15 Mei 2025 04:57 4:57 am
Ahmad
Dipublikasikan 13 Mei 2025 08:00
Bagikan
Michel yang dulunya polisi 'Israel' memilih memeluk Islam
Bagikan

Dibesarkan di keluarga Yahudi-Kristen yang bangga mendukung ‘Israel’ —berubah total setelah menyaksikan kekerasan Zionis dan keteguhan pengunjuk rasa Palestina, hingga membuatnya memeluk Islam

Hidayatullah.com | DI SEBUAH sudut kecil Yerusalem, Michael, menjalani hidup yang berbeda dari keturunan Yahudi lain.  Awalnya ia meninggalkan Amerika Serikat (AS) untuk gabung jadi tentara IDF, takdir berkata lain, dia justru memilik jalan Islam.

Setelah mengikuti program “Birthright” (program untuk pemuda Yahudi diaspora) ke ‘Israel’, Michael menetapakan diri bergabung dengan tentara penjajah IDF.

Lahir dari keluarga Yahudi konservatif di New York, Michael dibesarkan dengan ajaran Yahudi yang ketat. Masa kecilnya dipenuhi dengan doa di sinagoga, Perayaan Hanukkah yang meriah, dan cerita-cerita tentang tanah leluhur mereka di ‘Israel’ (tanah bangsa Palestina yang kini dirampok penjajah).

“Sejak kecil, saya diajarkan bahwa ‘Israel’ adalah tanah air kami. Itu adalah warisan dan kebanggaan kami sebagai orang Yahudi,” kenang Michael .

Baca Juga

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Sebagai keturunan Yahudi dengan keluarga yang selamat dari Holocaust, ia tumbuh dengan kebanggaan akan identitas Yahudinya. Ketika Michael berusia 18 tahun, ia memutuskan untuk pindah ke ‘Israel’ dan menjadi warga negara.

Ia bahkan memimpin perjalanan kepada pemuda Yahudi untuk memperkenalkan orang lain pada tanah suci milik orang Palestina.

“Aku berkata pada ibuku, ‘Aku akan bergabung dengan IDF. Aku ingin tinggal di sini selamanya,'” kenang Michael The Ansari Podcast bertajuk “Polisi Yahudi AS Masuk Islam Setelah Peristiwa 7 Oktober“.

Ini adalah panggilan yang selalu dirasakannya, sebuah perjalanan spiritual dan nasional. Setelah tiba, ia bergabung sebagai polisi ‘Israel’, seperti banyak pemuda Yahudi lainnya juga melakukan.

Namun pengalamannya sebagai aparat ‘Israel’ semakin memperkuat dan mempertanyakan pada identitas Yahudi dan Zionisnya.

Benturan dengan Realitas: Pro-’Israel’ vs. Pro-Palestina

Sebagai petugas polisi di kampus yang didominasi Yahudi, Michael ditugaskan mengawasi demonstrasi pro-’Israel’. Di sana, ia menyaksikan kekerasan verbal dan fisik terhadap demonstran pro-Palestina, termasuk seorang gadis berhijab yang diludahi.

“Aku melihat kebencian di mata mereka. Tapi yang mengejutkanku, para demonstran Palestina tetap tenang. Mereka tidak membalas. Aku terpana,” katanya.

Namun, benih keraguan mulai tumbuh saat ia berbincang dengan seorang pedagang Palestina di pasar. Pedagang itu terburu-buru pulang sebelum checkpoint ditutup, sebuah kenyataan yang asing bagi Michael.

“Dia bilang, ‘Kita tidak sama.’ Aku bingung. Aku tidak tahu apa-apa tentang Tepi Barat atau Gaza,” ujarnya.

Kehidupannya mulai berubah ketika ia secara tidak sengaja terlibat dalam sebuah protes pro-’Israel’ di Yerusalem. Pada awalnya, ia berdiri bersama rekan-rekannya, tetapi sesuatu menarik perhatiannya.

Seorang wanita Palestina yang memegang Al-Quran di tengah protes itu, dengan ketenangan yang luar biasa.

“Saya melihatnya dan bertanya-tanya, bagaimana dia bisa begitu tenang di tengah kekacauan? Apa yang memberinya kekuatan?” ujar Michael.

Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi ketika ia bertugas menjaga sebuah protes. Seorang anak Palestina berusia 16 tahun ditangkap di depannya. Anak itu hanya membawa sebuah bendera Palestina, namun dituduh sebagai provokator.

“Saya melihat ketakutan di matanya. Dia bukan ancaman, dia hanya seorang anak,” kata Michael.

“Hatiku hancur. Anak itu ditangkap, sementara pelaku kekerasan dibiarkan,” kisahnya dengan getir.

Semua peristiwa dan kejadian itu mengguncang keyakinannya. Ia teringat cerita kakeknya tentang Holocaust, tentang bagaimana mereka diperlakukan tanpa belas kasihan. “Bagaimana saya bisa melupakan sejarah keluarga saya dan menjadi bagian dari sesuatu yang menindas orang lain?”

Dalam proses pencarian spiritualnya, Michael mulai mengalami mimpi-mimpi yang aneh. Ia merasa terjebak dalam dua dunia—antara keyakinan lamanya dan cahaya baru yang mulai menyelimuti hatinya.

Di tengah kebingungan ini, ia kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang berdekatan. Kehilangan itu menghantamnya dengan keras, membuatnya merasa semakin kosong. “Saya merasa seperti kehilangan segalanya. Tapi justru dalam kehampaan itu, saya mulai menemukan cahaya,” katanya.

Mengenal Islam dan Syahadat

Pertanyaan itu terus menghantui Michael. Ia mulai membaca tentang Islam, awalnya untuk memahami “musuh”. Tetapi semakin ia membaca, semakin ia merasa tertarik. Ia menemukan konsep ketauhidan, keadilan sosial, dan ketenangan batin yang ditekankan dalam ajaran Islam.

Melalui interaksi dengan kelompok mahasiswa Muslim di kampus, Michael mulai mempelajari Islam. Ia terpesona oleh ketenangan dan keteguhan mereka.

Ia mulai lebih sering mengunjungi masjid secara diam-diam. Di sana, ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di masjid, ia merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Aku tidak percaya Tuhan saat itu, tapi masjid mengisi kekosongan dalam diriku yang bahkan tidak aku sadari,” ungkapnya.

Pada suatu hari, seorang sahabat Muslim memberinya sebuah sajadah. “Awalnya, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan ini. Tapi setiap kali saya duduk di atasnya, saya merasa seperti berbicara dengan Tuhan,” kenangnya.

Setelah berbulan-bulan belajar, ia akhirnya mengucapkan syahadat. “Aku menangis. Aku merasa telah menemukan kebenaran,” katanya.

Dimusuhi Teman dan Keluarga

Keputusannya masuk Islam tidak mudah. Usai mengumumkan keputusannya untuk masuk Islam, tanggapan komunitas Yahudi sangat keras. Ia diusir dari komunitas Yahudi, dihina rekan kerjanya, bahkan kehilangan pekerjaan.

Beberapa teman lamanya menjauh, dan keluarganya merasa terkhianati. “Seorang rekan berkata, ‘Mana handukmu? Bukankah kau harus pakai handuk di kepala sekarang?’ Aku shock. Orang yang dulu dekat denganku tiba-tiba memandangku dengan kebencian,” kenangnya.

“Bagi mereka, saya bukan hanya meninggalkan agama. Saya meninggalkan identitas, warisan, dan tanah air kami,” kata Michael.

Namun, ada juga yang mendukung. Beberapa teman lama yang lebih terbuka mencoba memahami keputusannya, bahkan ada yang merasa penasaran dengan Islam setelah mendengar ceritanya.

Sekarang, Michael menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim yang taat. Ia bekerja sebagai guru bahasa, mengajarkan bahasa Ibrani dan Arab kepada siswa-siswa muda dari berbagai latar belakang.

“Saya menemukan kedamaian dalam Islam, sesuatu yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya tetap mencintai keluarga saya. Tapi saya menemukan jalan yang benar bagi hati dan jiwa saya,” tegas Michael.

Ia menikah dengan seorang wanita Pakistan dan aktif berdakwah. Baginya, Islam adalah jawaban atas pencarian spiritualnya yang panjang.

“Allah memberiku lebih dari yang aku minta. Aku mungkin kehilangan banyak hal, tapi aku menemukan diriku yang sebenarnya,” tutupnya.

Kisah Michael adalah kisah pencarian identitas, iman, dan keberanian untuk mengikuti hati nurani, bahkan ketika itu berarti meninggalkan segala yang pernah dikenalnya.

“Aku seperti berada di sisi sejarah yang salah. Tapi kali ini, aku memilih untuk tidak diam,” ujarnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlineisraelmasuk islammemeluk IslammualafpalestinaPilihan RedaksiPro-PalestinayahudiZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Cendekiawan Muda Muhammadiyah: Tuduhan Buruk terhadap Hamas Bentuk Aksi Memecah Belah
Tulisan selanjutnya Rawan Judi Taliban Afghanistan Melarang Permainan Catur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Berita
31 Agustus 2026 22:46
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

31 Agustus 2026 20:47
Berita

Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

31 Agustus 2026 20:11
Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

31 Agustus 2026 20:04
Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

31 Agustus 2026 19:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?