Hidayatullah.com – Sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan boikot entitas zionis, lima fakultas di Universitas Florence secara resmi memutuskan hubungan dengan lembaga akademik di ‘Israel’.
Fakultas Matematika dan Ilmu Komputer telah mengakhiri kolaborasinya dengan Universitas Ben-Gurion Negev, sebuah institusi yang telah lama menjalin hubungan dengan kompleks industri-militer ‘Israel’. Universitas Ben-Gurion juga dikenal sebagai tuan rumah bagi peraih Nobel, Dan Shechtman, yang telah mendukung jaringan akademis zionis.
Sementara itu, Fakultas Teknik dan Ilmu dan Teknologi Pertanian juga telah menangguhkan kemitraan mereka dengan mitra ‘Israel’ di bawah inisiatif yang sama.
Fakultas Arsitektur memutuskan hubungan dengan Universitas Ariel, yang terletak di permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki, yang semakin menegaskan penolakan universitas terhadap institusi yang terlibat dalam pendudukan.
Selain itu, Fakultas Ilmu Politik dan Sosial mengakhiri kerja sama dengan Pusat Penelitian Siber Interdisipliner Blavatnik Universitas Tel Aviv, sebuah entitas yang terkait dengan perluasan pengawasan dan aparat intelijen militer “Israel”.
Akademik, target boikot BDS
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya kecaman internasional atas perang genosida “Israel” di Gaza dan pendudukannya selama puluhan tahun atas tanah Palestina.
Di seluruh Eropa dan Barat, komunitas mahasiswa dan akademisi telah memperkuat tuntutan mereka agar institusi-institusi divestasi dan memboikot semua entitas yang terlibat dalam apartheid dan kejahatan perang.
Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS), yang terinspirasi oleh perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan, telah mendapatkan momentum baru secara global di tengah genosida ‘Israel’ yang sedang berlangsung di Gaza, di mana hampir 60.000 warga Palestina, banyak di antaranya anak-anak, telah syahid atau terluka.
Institusi-institusi akademik di seluruh dunia semakin berada di bawah tekanan untuk memutuskan hubungan dengan entitas-entitas ‘Israel’ yang berperan langsung maupun tidak langsung dalam mendukung pendudukan, penelitian untuk tujuan militer, atau menormalisasi apartheid.
Keputusan Universitas Florence menjadi langkah signifikan dalam lanskap akademis Eropa, yang menandakan pergeseran menuju tanggung jawab etis dan solidaritas dengan rakyat Palestina.*




