Hidayatullah.com— Mantan Perdana Menteri ‘Israel’, Naftali Bennett, menyatakan bahwa Eropa tengah menjalani transformasi demografis dan religius yang signifikan menuju populasi Muslim. Pernyataan ini ia sampaikan dalam sebuah diskusi publik yang kemudian dikutip sejumlah media internasional.
Menurut laporan IslamBosna.ba, Bennett menyoroti kenaikan jumlah anak-anak Muslim di kota-kota besar Eropa.
“Di Brussels, lebih dari setengah anak-anak adalah Muslim. Di Amsterdam, Wina, dan London, angkanya mendekati 40 persen. Ini bukan lagi tren kecil—ini adalah perubahan demografis besar-besaran yang akan mengubah wajah Eropa,” ujarnya dalam paparan yang dimuat di islambosna.ba.
Bennett menegaskan bahwa perkembangan ini akan memengaruhi arah kebijakan Barat terhadap Israel.
“Kita harus memahami bahwa dalam dua dekade ke depan, para pemimpin Eropa akan dipengaruhi oleh generasi muda Muslim yang besar jumlahnya. Itu akan berdampak pada bagaimana mereka melihat Israel,” kata Bennett dikutip iqna.ir.
Dominasi Muslim
Meski klaim Bennett terkesan dramatis, data resmi menunjukkan tren yang lebih moderat. Menurut Pew Research Center, populasi Muslim di Eropa (termasuk Uni Eropa, Norwegia, dan Swiss) meningkat dari 4,9% atau 25,8 juta orang pada 2016 dan diproyeksikan mencapai 7,4% pada 2050 dalam skenario tanpa migrasi.
Jika migrasi tinggi terus berlanjut, angka itu bisa naik hingga 14%, namun tetap tidak menjadikan Muslim sebagai mayoritas, kutip pewresearch.org.
Sebagaimana diketahui, istilah “Islamisasi Eropa” yang digunakan Bennett kerap dikaitkan dengan teori konspirasi “Eurabia”, yang mengklaim bahwa Eropa perlahan menjadi wilayah dominasi Muslim melalui migrasi dan tingkat kelahiran yang lebih tinggi.
Banyak akademisi menilai narasi ini lebih sebagai konstruksi politik identitarian ketimbang analisis objektif.
Pernyataan Bennett langsung menuai perdebatan. Para pendukungnya menganggapnya sebagai peringatan realistis terhadap perubahan demografis yang berdampak geopolitik.
Namun, para pengkritik menilai bahwa retorika tersebut berpotensi memperkuat Islamofobia dan politik identitas yang memecah belah.
Sejumlah analis juga menilai bahwa seruan Bennett untuk mempererat hubungan dengan negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan India menunjukkan pragmatisme strategis Israel, di tengah dinamika global yang kian dipengaruhi oleh negara-negara dengan populasi Muslim besar.*




