Hidayatullah.com– Mantan panglima Angkatan Bersenjata Ukraina Valerii Zaluzhnyi mengatakan bahwa negaranya tidak akan pernah bergabung dengan NATO, meskipun pemerintahan saat ini kerap menyatakan keinginan untuk menjadi anggota pakta pertahanan itu.
Zaluzhnyi, seorang pensiunan jenderal yang sangat populer yang dipecat Zelenskyy pada 2024, mengutarakan hal itu hari Senin (3/8/2026) dalam pertemuan para duta besar ngara asing di Kyiv, lapor media Eropa Pravda seperti dilansir AFP.
“Saya mengetahui NATO dengan sangat baik. Selama sekitar 12 tahun saya pribadi mempelajari hingga paham benar standar-standar NATO, dan setiap tahun saya mendengar dongeng yang sama bahwa kami akan bergabung,” kata Zaluzhnyi.
“Sayangnya, kami tidak akan pernah,” imbuh Zaluzhnyi, yang saat ini menduduki jabatan sebagai Duta Besar Ukraina untuk Inggris.
Dia mengatakan bahwa mengingat “tingkat kemajuan Angkatan Bersenjata Ukraina saat ini” tidak mungkin bagi Ukraina untuk bergabung dengan aliansi itu, yang menurut Zaluzhnyi, “terpaku pada doktrin-doktrin lawas era Perang Dunia Kedua.”
Ukraina bangga dengan kemajuan industri militernya sendiri, terutama dalam teknologi drone, yang berkembang pesat sejak invasi Rusia empat setengah tahun silam.
Dalam kolom opini yang dimuat koran Inggris The Daily Telegraph bulan lalu, Zaluzhnyi mengatakan perang Ukraina mengungkap pertanyaan tidak mengenakkan tentang kemampuan NATO untuk menghadapi konflik di era abad ke-21.
“Ukraina punya banyak alasan untuk menghargai dukungan yang telah dan masih terus diberikan oleh anggota-anggota NATO. Namun, penghormatan kepada para sekutu tidak harus menghalangi penyampaian asesmen jujur tentang kekurangan-kekurangannya,” tulisnya.
Dia menambahkan bahwa kemampuan Ukraina untuk “terus menjalani peperangan hingga saat ini sangat bergantung pada kelanjutan dukungan dari sekutu-sekutunya.”
Zaluzhnyi sampai sekarang masih menjadi tokoh publik Ukraina yang paling populer, dengan dukungan 73 persen dari masyarakat, menurut sebuah jajak pendapat bulan Juni yang dilakukan oleh Kyiv International Institute of Sociology.
Pasukan Rusia menginvasi wilayah Ukraina di Krimea pada Februari 2021 antara lain karena Kyiv tidak mengindahkan seruan Moskow supaya tidak ngotot ingin bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang bermaksud meluaskan pengaruhnya ke kawasan Eropa Timur dan bekas negara pecahan Uni Soviet.*




