Hidayatullah.com – Turki, Yordania dan Suriah masih melanjutkan rencana bersama mereka untuk menghidupkan kembali jalur kereta api bersejarah Hijaz. Prioritas utama rencana tersebut ialah menghubungkan ketiga negara untuk membangun kembali jaringan transportasi dan perdagangan setelah bertahun-tahun terputus.
Proyek ini, yang dikonfirmasi setelah serangkaian pertemuan trilateral di Amman dan Damaskus, menjadi upaya serius pertama dalam beberapa dekade untuk menghidupkan kembali salah satu rute transportasi paling penting di Timur Tengah.
Para pejabat dari ketiga negara telah menyepakati persyaratan awal untuk menyusun nota kesepahaman yang mencakup kerja sama infrastruktur transportasi dan pemulihan jalur kereta api yang rusak.
Menyambung Kembali Rute Bersejarah
Jalur kereta api Hijaz, yang dibangun di bawah Sultan Utsmaniyyah Abdulhamid II dan diresmikan pada tahun 1908, pernah membentang dari Istanbul ke Madinah melalui Damaskus dan Amman. Jalur ini dibangun untuk melayani para peziarah Muslim dan memperkuat hubungan administratif di seluruh Kekhalifahan Utsmaniyyah.
Jalur ini secara drastis memangkas waktu perjalanan Damaskus-Madinah dari empat puluh hari menjadi hanya lima hari, tetapi tidak lagi digunakan setelah rusak parah selama Perang Dunia I dan konflik-konflik berikutnya.
Saat ini, ketiga negara memandang kebangkitannya sebagai sesuatu yang simbolis sekaligus strategis untuk memulihkan konektivitas regional, meningkatkan perdagangan, dan berkontribusi pada rekonstruksi pascaperang.
Baca juga: Kereta Api Hijaz: Jalur Bersejarah Menuju Kota-Kota Suci Islam
Rencana perbaikan
Menurut narasumber yang terlibat dalam pertemuan ketiga negara, Turki akan membangun kembali rute sepanjang 30 kilometer di jalur Suriah, yang sebagian besar hancur selama konflik di Suriah.
Sementara Yordania akan bertanggungjawab terkait pemeliharaan dan operasional lokomotif, dan berpotensi memperpanjang rute menuju Damaskus. Studi teknis bersama akan dilakukan untuk meningkatkan akses Turki ke Laut Merah melalui Pelabuhan Aqaba di Yordania, yang berpotensi menciptakan koridor perdagangan baru antara Levant dan Teluk.
Meskipun rute asli penuh dari Istanbul ke Madinah bukan bagian dari fase saat ini, fokus pada segmen Suriah-Yordania-Turki dipandang sebagai fondasi untuk ekspansi rute di masa mendatang.
Koordinasi Trilateral
Ronde baru pertemuan trilateral diadakan di Damaskus pekan lalu dengan partisipasi dari para pejabat senior transportasi, termasuk Sekretaris Jenderal Kementerian Transportasi Yordania, Fares Abu Dayyeh, Wakil Menteri Transportasi Darat Suriah, Mohammad Omar Rahhal, dan Direktur Jenderal Luar Negeri Turki di Kementerian Transportasi, Burak Ekin, yang bergabung melalui tautan video.
Menurut pernyataan Kementerian Transportasi Yordania, pembicaraan tersebut bertujuan untuk “meningkatkan pergerakan penumpang dan barang, mendukung pertukaran perdagangan, dan memperkuat kerja sama di bidang transportasi darat dan kereta api”.
Pernyataan tersebut menggambarkan pertemuan tersebut sebagai bagian dari “upaya berkelanjutan untuk mengembangkan infrastruktur bersama yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan komersial di seluruh kawasan”.
Menteri Perdagangan Turki, Omer Bolat, secara terpisah mengonfirmasi bahwa Ankara, Damaskus, dan Amman sedang berupaya untuk mengaktifkan kembali jalur Hejaz sebagai bagian dari rencana yang lebih luas untuk membuka kembali koridor transit yang menghubungkan Turki ke Teluk melalui Yordania.
“Posisi strategis Yordania menjadikannya gerbang vital bagi perdagangan regional,” kata Bolat, seraya menambahkan bahwa proyek tersebut akan menarik investasi dan memperdalam hubungan ekonomi trilateral.*




