Hidayatullah.com– Tujuh kelompok masyarakat sipil Italia mengajukan gugatan ke pengadilan terhadap perusahaan pertahanan Leonardo dan pemerintah Italia, dengan tujuan membatalkan kontrak apapun terkait penjualan dan pemasokan senjata ke Israel.
Gugatan diajukan pada akhir September ke sebuah pengadilan di Roma. Dalam gugatan dikatakan bahwa Leonardo, perusahaan milik negara Italia yang juga salah satu produsen senjata terbesar dunia, masih terus memasok perlengkapan perang untuk militer Israel meskipun tindakan itu bertentangan dengan konstitusi negara Italia dan hukum internasional, kata para penggugat Kamis malam (20/11/2025) seperti dilansir Reuters.
“Israel melakukan penjajahan militer dan apartheid sistematis di Tepi Barat dan Gaza dengan menggunakan persenjataan yang dipasok oleh mitra-mitra asingnya,” kata para penggugat dalam sebuah pernyataan.
Leonardo menampik gugatan itu dan mengatakan bahwa pihaknya mematuhi semua peraturan yang berlaku dalam ekspor senjata dan bertekad akan mempertahankan posisinya di pengadilan.
Dugaan apapun yang menyatakan bahwa tindakannya berkaitan dengan masalah Gaza merupakan “sebuah distorsi serius tanpa dasar hukum,” imbuh Leonardo dalam sebuah pernyataan.
Sejauh ini pemerintah Italia belum memberikan komentar, lapor Reuters.
Gugatan diajukan oleh seorang warga Italia dan sejumlah organisasi Italia, termasuk A Buon Diritto, yang memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma bagi migran dan pengungsi, asosiasi pekerja Kristiani Italia ACLI dan lembaga swadaya masyarakat Un Ponte Per.
Berdasarkan undang-undang yang berlaku di Italia, ekspor senjata terlarang ke negara-negara yang sedang terlibat peperangan dan yang disinyalir melanggar HAM internasional.
Pada 2023, Roma mengumumkan pemberhentian ekspor senjata ke Israel di tengah eskalasi kekerasan di Gaza. Menteri Pertahanan Guido Crosetto kemudian mengatakan bahwa izin ekspor yang sudah dikeluarkan sebelumnya dan sedang dipenuhi setelah dilakukan pemerikasaan diputuskan untuk dilanjutkan dengan jaminan bahwa senjata yang dikirim tidak akan dipergunakan untuk melakukan serangan terhadap warga sipil di wilayah Gaza.
Pada akhir bulan September, CEO Leonardo Roberto Cingolani mengatakan tidak ada izin ekspor baru ke Israel yang dikeluarkan sejak pecah perang Oktober 2023, dan hubungan dengan Israel terbatas pada kontrak yang sedang berjalan untuk pemeliharaan pesawat latih tak bersenjata.
Cingolani mengakui adanya kekhawatiran tentang perusahaan Ameika Serikat DRS, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Leonardo, serta unit radar Israel-nya, tetapi menegaskan bahwa itu semua dioperasikan di bawah yuridiksi asing.
Gugatan dilayangkan di saat Uni Eropa berusaha memperketat aturan tentang ekspor senjata, mengharuskan negara-negara anggota untuk memblokir penjualan senjata di mana terdapat risiko pelanggara HAM atau pelanggaran terhadap hukum internasional.*




