Hidayatullah.com– Kawanan bersenjata tak dikenal menculik 215 anak dan 12 guru dari sebuah sekolah Katolik di bagian tengah Nigeria, penculik massal kedua yang terjadi dalam kurun sepekan terakhir di negara itu.
Abubakar Usman, sekretaris pemerintah negara bagian, dalam sebuah pernyataan mengatakan, “Pemerintah negara bagian Niger telah menerima dengan kesedihan yang mendalam berita yang mencemaskan tentang penculikan murid-murid dari Sekolah St Mary di wilayah pemerintah daerah Agwara.”
Markas Kepolian Negara Bagian Niger mengatakan penculikan terjadi pada pagi dini hari, dan bahwa militer dan pasukan keamanan sejak itu dikerahkan ke perkampungan Papiri tempat penculikan terjadi.
Dauda Chekula, 62, mengatakan bahwa empat dari cucunya, berusia antara 7 dan 10 tahun, termasuk yang menjadi korban penculikan.
“Kami tidak tahu apa yang terjadi sekarang, karena kami belum mendengar kabar apapun sejak pagi ini,” kata Chekula kepada Associated Press. “Anak-anak yang berhasil lolos lari berhampuran ke mana-mana. Sebagian dari mereka berlari pulang ke rumah dan informasi yang kami dapat adalah bahwa para pelaku penyerangan masih berkeliaran bersama anak-anak yang tertinggal masuk ke kawasan semak belukar,”
Niger, yang terbesar dari 36 negara bagian yang ada di Nigeria, membentang dari daerah ibu kota Abuja di bagian barat hingga ke negara tetangga Benin. Insiden yang terjadi pada Jumat dini hari (21/11/2025) itu merupakan penculikan massal anak sekolah ketiga yang tercatat terjadi di Niger kurun satu dekade.
Dalam peristiwa terakhir pada bulan Mei 2021, sebanyak 134 anak sekolah diculik dari sebuah madrasah, enam di antaranya tewas saat berada di tangan penculik.
Hari Senin (17/11/2025), kawanan bersenjata menyerbu sebuah sekolah berasrama untuk anak perempuan di daerah Kebbi, menculik 25 anak perempuan dan membunuh wakil kepala sekolah itu. Menurut laporan media setempat, pasukan keamanan sebenarnya sudah menyampaikan kabar tentang rencana penculikan itu dan mereka bermalam di sana tetapi meninggalkan sekolah itu pada pagi harinya.
“Personel asukan keamanan bersenjata lengkap sempat berfoto bersama dengan para siswa, tetapi mereka kemudian pergi 30 menit sebelum serangan terjadi,” kata gubernur negara bagian setempat. Menyusul kejadian itu, Presiden Nigeria Bola Tinubu memerintahkan Menteri Muda Pertahanan Bello Matawalle untuk sementara berkantor di negara bagian itu untuk membantu upaya penyelamatan para korban penculikan.
Sejauh ini belum ada kelompok yang mengklaim sebagai pelaku serangan-serangan dan penculikan tersebut.*




