Hidayatullah.com – Sudah saatnya pesantren Al Fattah menuju kemandirian teknologi dan administrasi keuangan. Demikian penjelasan pimpinan dan pengasuh pesantren Al Fattah, KH Muhammad Fauzan dalam sambutan silaturahmi dan tabligh Akbar di hadapan para walisantri dan undangan yang hadir di kawasan pesantren Al Fattah Buduran, Sidoarjo (21/12/2025)
Kyai Fauzan dalam sambutan silaturahmi dan tabligh Akbar, bahwa tema pengajian kali ini bertema Islam rahmatan Lil alamin ini menegaskan dan mengukuhkan kedudukan Islam dan umatnya dalam meneguhkan Izul Islam.
Dalam kesempatan kali ini ia melaunching dompet digital untuk santri serta peluncuran wakaf tanah di Mojokerto dan Lazis Al Fattah.
Dompet digital tersebut, yang merupakan karya para asatidz, nantinya dapat digunakan untuk melakukan berbagai pembayaran dan muamalat di lingkungan pesantren serta memudahkan administrasi kepesantrenan. Dompet berbentuk kartu ini juga dapat memudahkan orang tua untuk mengontrol dan mengawasi keluar masuk uang saku melalui ponsel, jelas Fauzan.
Hadir sebagai pengisi materi tabligh adalah Syafiq A Mughni dari PP Muhammadiyah dan Dr. Kaharuddin Djenod selaku Dirut PT PAL Indonesia.
Pada gilirannya, Kaharuddin menyampaikan bahwa kemandirian teknologi di kalangan pesantren akan membawa dampak peradaban. Karena santri telah dibekali ilmu agama, adab dan tauhid yang kuat. Ini akan melahirkan sebuah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi.
Ia mengilustrasikan para pejuang Gaza, tauhidnya kuat dan penguasa teknologi dan strategi perangnya handal, maka musuh-musuh pun takut. Demikian juga dengan Sultan Al Fatih ketika meruntuhkan benteng Konstantinopel.
Menurut Kaharuddin, Al Fatih dibekali agama yang kuat dan perlengkapan perangnya yang canggih di zamannya dan strategi perang yang handal mampu merobohkan benteng yang kokoh itu.
Kaharuddin juga mengungkap kemampuan ilmu dan teknologi anak bangsa Indonesia yang tidak bisa diremehkan bangsa lain. Ini terbukti tanpa intervensi asing, bangsa Indonesia mampu membuat kapal selam tanpa awak yang dilengkapi torpedo, jelasnya.
Jadi saatnya pendidikan pesantren selain mempunyai kemandirian dan kualitas pendidikan agama yang unggul, saatnya pula santri pesantren unggul dan mandiri dalam ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, tegasnya.
Sementara, Syafiq A Mughni juga menguatkan bahwa pendidikan pesantren merupakan pendidikan unggulan dan bukan lagi dipandang sebagaimana alternatif pilihan pendidikan. Pendidikan pesantren harus maju dan menguasai teknologi.
Makna maju dan berkemajuan adalah sikap wasathan, jelasnya. Yaitu sikap yang ditunjukkan dengan kuatnya iman dan berkeadilan serta mampu mendorong kesejahteraan umat.*




