Hidayatullah.com– Sebuah organisasi global yang dibentuk khusus untuk mencegah ekstremisme kekerasan mengatakan bahw Amerika Serikat sudah melakukan kesalahan dengan menarik dukungannya, sementara risiko serangan militan meningkat di Timur Tengah dan di kawasan Sahel Afrika.
Global Community Engagement and Resilience Fund, yang giat membuat program pencegahan ekstremisme di puluhan negara yang dianggap rentan, disebut dalam nota Gedung Putih hari Rabu (7/1/2026) yang mengumumkan penarikan Amerika Serikat dari 35 badan internasional dan 31 organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan AS.
Dr. Khalid Koser, pimpinan GCERF yang berbasis di Swiss, mengatakan keputusan AS itu mengejutkan tanpa ada penjelasan apapun dan mencerminkan perubahan ideologi besar AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
“Menurut saya menghilangkan bagian mendasar dari pencegahan itu adalah sebuah kesalahan. Namun , saya menduga pemerintahan ini tidak percaya pada pencegahan,” kata Koser kepada Reuters tentang sikap kebijakan pemerintahan Trump.
Amerika Serikat ikut merancang pembuatan program GCERF di wilayah tumur laut Suriah yang mengintegrasikan kembali keluarga dari bekas militan ISIS.Koser mengatakan bahwa sementara kerja GCERF akan terus berlangsung, organisasi itu kehilangan pemain besarnya di AS, dan bahwa agenda GCERF masih relevan dengan kepentingan nasional negara itu.
Menyusul penghentian pendanaan berbagai organisasi internasional oleh Washington tahun lalu, GCERF mengatakan sekarang pihaknya menanggung beban finansial sendiri.
Berdasarkan kebijakan “America First” yang dicanangkan Presiden Trump, Gedung Putih juga mengumumkan hengkangnya AS dari Global Counterterrorism Forum yang beranggotakan 30 negara.
The 2025 Global Terrorism Index yang dirilis Institute for Economics and Peace menunjukkan jumlah negara yang mengalami serangan teroris naik dari 58 menjadi 66 pada tahun 2024, menyurutkan kemajuan hampir satu dekade.*




